Did You Know? Contray to the phrase sweating like a pig, pigs cant actually sweat.

BAB I

PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang

Jerawat termasuk salah satu penyakit kulit yang paling sering diributkan oleh remaja. Terutama bagi mereka yang sedang mengalami pubertas. Mempunyai wajah yang mulus adalah idaman bagi semua orang. Hanya keinginan itu kadang terkendala karena kemunculan jerawat tersebut (Widjaja, 2003).

Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 85% populasi mengalami jerawat pada usia 12-25 tahun, 15% populasi mengalaminya hingga usia 25 tahun. Jika tidak diatasi dengan baik, gangguan jerawat dapat menetap hingga usia 40 tahun. Banyak faktor yang mempengaruhi timbulnya jerawat seperti stres, keturunan dari orang tua, aktivitas hormon, dan infeksi bakteri. Jerawat akan menjadi penyakit yang serius jika disebabkan oleh  infeksi bakteri (Widjaja, 2003).

Staphylococcus aureus adalah salah satu bakteri Gram positif yang dapat menyebaban infeksi kulit, termasuk jerawat. Karena bakteri ini hidup dan berkembang biak pada kulit manusia. Ketika pori-pori kulit terhalang atau tidak bisa bernafas, maka bakteri Staphylococcus aureus yang sifatnya tumbuh dalam lingkungan anaerobik ini menjadi tumbuh sangat cepat dan mengeluarkan banyak zat kimia untuk merusak jaringan-jaringan pada pori-pori kulit. Kemudian bakteri masuk ke dalam kulit yang  kemudian membentuk luka jerawat. Bakteri ini menyebabkan infeksi bernanah (suppurative disease), ciri utama penyakit yang disebabkan oleh Staphylococcus aureus adalah penghasilan abses atau nanah (Jawetz, 1996).

Belakangan ini di dalam masyarakat populer dengan pengobatan tradisional yaitu memanfaatkan berbagai jenis tanaman untuk penanganan kesehatan. Menggunakan bahan-bahan alami tanpa efek samping dan juga dari segi biaya lebih ekonomis menjadi pilihan masyarakat saat ini (Santoso, 2008).

Mahkota dewa (Phaleria macrocarpa) dan tanaman rosela (Hibiscus sabdariffa L.) adalah tanaman yang sering dimanfaatkan sebagai obat tradisional. Kedua tanaman memiliki khasiat yang melimpah, mulai dari daun, bunga dan buahnya dapat dimanfaatkan sebagai obat berbagai macam penyakit mulai dari yang ringan sampai yang berat sekalipun. Mahkota dewa dan kelopak bunga rosela sering dimanfaatkan sebagai minuman kesehatan. Buah mahkota dewa yang segar dapat dimanfaatkan sebagai obat jerawat. Berbagai macam penyakit yang dapat disembuhkan seperti misalnya penyakit infeksi kulit, disentri, psoriasis, flu, rematik, tumor ataupun kanker (Harmanto, 2007). Mahkota dewa (Phaleria macrocarpa) mengandung alkaloid, saponin, flavonoid, polifenol, sterol, tanin, lignan dan minyak atsiri. Dimana kandungan saponinnya diketahui sebagai antibakteri yang bersifat bakteriostatik, bekerja dengan cara menghambat sintesis protein (Winarto dan Tim, 2005).

Rosela (Hibiscus sabdariffa L.) adalah salah satu tanaman obat, dimana seluruh bagian tanaman mulai dari buah, kelopak bunga, mahkota bunga dan daunnya dapat di makan. Berbagai kandungan kimia dan kandungan gizi yang dimiliki oleh rosela, seperti gossypetin, antosianin, glukoside hibiscin, flavonoid, sabdaretine, polisakarida dan omega 3 yang bermanfaat untuk pertumbuhan dan perkembangan otak anak. Antosianin dan gossypetin yang paling berperan sebagai antibakteri, dengan cara menghambat fungsi membran sel dan menghambat sinteis protein (Widyanto dan Nelistya, 2008).

Keterangan: Bagi yang berminat untuk memiliki versi lengkap judul diatas dalam format Msword hubungi ke nomor:

HP. 0819 0405 1059/ 0812 2701 6999/ 0888 9119 100 atau Telp.0274-9553376. Skripsi Rp300rb, Tesis Rp500rb. Layanan ini bersifat sebagai referensi dan bahan pembelajaran. Kami tidak mendukung plagiatisme. Jika belum jelas, jangan ragu telepon kami :)

Seluruh bagian tanaman rosela berfungsi sebagai obat tradisional. Daun dan kelopak bunga yang direbus diakui berkhasiat sebagai peluruh kencing, merangsang keluarnya empedu dari hati, menurunkan tekanan darah, mengurangi kekentalan darah dan meningkatkan peristaltik usus (Maryani dan Kristiana, 2008). Selain itu berbagai manfaat lain bisa didapatkan seperti : antikejang, antibakteri, mengobati cacingan, mengurangi nyeri sendi, menghambat atau mencegah pertumbuhan sel kanker dan mencegah strok serta penyakit jantung (Sobirin, 2008).

Saat ini berbagai produk mahkota dewa telah beredar di pasaran, bahkan telah berdiri klinik herbal mahkota dewa, yang berpusat di Jakarta, dan mempunyai cabang di tujuh kota besar lainnya. Salah satunya berada di Yogyakarta, omset penjualannya mencapai 2-3 juta per bulan. Teh dan kapsul menjadi pilihan utama pasien yang datang untuk berobat. Sedangkan rosela sudah dikenal sebagai tanaman obat dan mengandung nilai gizi. Dari bagian daun, mahkota bunga, kelopak bunga dan buah yang paling sering dimanfaatkan adalah kelopak bunganya. Masyarakat memanfaatkan kelopak bunganya untuk bahan minuman, sari buah, salad, sirup, puding dan asinan.

Penelitian ini menggunakan konsentrasi ekstrak buah mahkota dewa dan kelopak bunga rosela 10%, 20%, 30%, 40% dan 50% yang telah berdasarkan uji pendahuluan yang sudah dilakukan sebelumnya.

Berdasarkan uraian latar belakang tersebut, penulis tertarik untuk meneliti tentang daya antibakteri ekstrak buah mahkota dewa (Phaleria macrocarpa) dan kelopak bunga rosela (Hibiscus sabdariffa L.) terhadap pertumbuhan Staphylococcus aureus secara invitro.

B.  Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian dalam latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut : Bagaimana daya antibakteri ekstrak buah mahkota dewa (Phaleria macrocarpa) dan kelopak bunga rosela (Hibiscus sabdariffa L.) terhadap pertumbuhan Staphylococcus aureus.

    Baca selengkapnya »

===================================================
Ingin memiliki Skripsi/Tesis versi lengkapnya? Hubungi Kami.
===================================================

Judul terkait:

Layanan Referensi & Konsultan Skripsi Tesis & Disertasi   No.HP.0819.0405.1059  Home: (0274) 9553376