Did You Know? By raising your legs slowly and lying on your back, you can't sink in quicksand.

BAB I

PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang

Indonesia   selama   dasawarsa   1990-an,   sebagaimana   negara   asia lainnya, melewati suatu periode yang ditandai dengan pertumbuhan ekonomi yang pesat hingga tahun 1997, tetapi periode sesudah itu didera oleh krisis keuangan.  Apabila  keadaan  keselamatan  dan kesehatan  kerja pada kedua tahap tersebut  (yaitu tahap pertumbuhan  yang kemudian  diikuti oleh tahap resesi) diperbandingkan, terasa adanya keganjilan: selama tahap pertumbuhan,   jumlah  kecelakaan  kerja cenderung   mengalami   kenaikan, tetapi  selama  resesi,  pos biaya  yang  dialokasikan  untuk  keselamatan  dan kesehatan  kerja sayangnya  justru termasuk  salah satu yang pertama-tama mengalami pemangkasan. ILO (International Labour Organization/Organisasi Perburuhan   Internasional)   berpendapat   bahwa   apapun   keadaan   yang menimpa  suatu  negara,  keselamatan  dan  kesehatan pekerja  adalah  hak asasi  manusia  yang  mendasar,  yang  harus  tetap dilindungi, baik  sewaktu negara tersebut sedang mengalami pertumbuhan ekonomi maupun ketika sedang dilanda resesi (Markkanen, 2004).

Kesehatan  dan keselamatan  kerja  (K3)  merupakan  salah  satu syarat yang ditetapkan  dalam  hubungan  ekonomi  perdagangan  barang  dan  jasa antar negara yang  harus  dipenuhi  oleh seluruh  negara  anggota,  termasuk bangsa Indonesia.  Untuk  mengantisipasi   hal  tersebut  serta  mewujudkan perlindungan masyarakat pekerja Indonesia; telah ditetapkan Visi Indonesia Sehat 2010 yaitu gambaran masyarakat Indonesia di masa depan, yang penduduknya hidup dalam lingkungan dan perilaku sehat, memperoleh pelayanan  kesehatan  yang bermutu secara adil dan merata, serta memiliki derajat kesehatan yang setinggi-tingginya (Erna, 2008).

Faktor lingkungan kerja dalam Ilmu Kesehatan Kerja merupakan salah satu faktor  terbesar   dalam   mempengaruhi   kesehatan pekerja,   namun demikian tidak bisa meninggalkan faktor lainnya yaitu perilaku. Perilaku seseorang dalam melaksanakan dan menerapkan K3 sangat berpengaruh terhadap efisiensi dan efektivitas keberhasilan K3. Demikian juga yang terjadi pada pekerja laboratorium dimana tingkat kepatuhan terhadap peraturan dan pengarahan K3 akan mempengaruhi perilaku terhadap penerapan prinsip K3 dalam melakukan pekerjaannya (Setyawati, 2002).

Penyakit  Akibat  Kerja  (PAK)  dan Kecelakaan  Kerja  (KK)  di kalangan petugas   kesehatan   dan  non  kesehatan   kesehatan   di  Indonesia   belum terekam dengan baik. Jika kita pelajari angka kecelakaan dan penyakit akibat kerja di beberapa negara maju (dari beberapa pengamatan) menunjukan kecenderungan   peningkatan  prevalensi.  Sebagai  faktor  penyebab,  sering terjadi karena kurangnya kesadaran pekerja dan kualitas serta keterampilan pekerja  yang  kurang  memadai.  Banyak  pekerja  yang  meremehkan  risiko kerja,  sehingga  tidak  menggunakan  alat-alat  pengaman  walaupun  sudah tersedia (Erna, 2008).

Laboratorium harus merupakan tempat yang aman bagi pekerjanya, terhadap setiap kemungkinan terjadinya kecelakaan, sakit maupun gangguan kesehatan.  Keadaan   yang   sehat   dalam   laboratorium,   dapat   diciptakan apabila ada kemauan dari setiap pekerja untuk menjaga dan melindungi diri. Diperlukan  suatu kesadaran  dan tanggung  jawab, bahwa kecelakaan  dapat berakibat  ada  diri  sendiri  dan  orang  lain  serta  lingkungannya.  Tanggung jawab moral dalam keselamatan kerja memegang peranan penting dalam pencegahan kecelakaan disamping dislipin setiap individu terhadap peraturan juga memberikan andil besar dalam keselamatan kerja (Imamkhasani, 1990)

Penelitian   Perwitasari   dan   Anwar   (2006)   tentang   tingkat   resiko pemakaian APD dan Higiene Petugas Laboratorium Klinik RSUPN Cipto Mangunkusumo   dengan  jumlah  sampel  penelitian  adalah  44  petugas  di empat   laboratorium   adalah   di   laboratorium   24   jam   dari   10   petugas menunjukkan  100% beresiko  rendah,  di  laboratorium  IGD  dari  10  orang petugas  menunjukkan  40% beresiko  tinggi, di laboratorium  hematologi dari 12 petugas  75% beresiko tinggi dan di laboratorium  anak dari 12 petugas 100% beresiko tinggi. 25 orang responden yang beresiko tinggi terjadi kecelakaan kerja karena mempunyai kebiasaan tidak menggunakan APD memberi alasan tidak tersedia APD (52%). Tidak tersedianya AD di sebagian besar laboratorium  kemungkinan  disebabkan oleh kurangnya  perhatian  dari kepala laboratorium dalam penyediaan APD dan anggaran rumah sakit yang terbatas  sehingga  dana  untuk  pengadaan  APD juga  terbatas.  Alasan lain adalah repot (4%), tidak terbiasa (4%), lupa (8%), malas (12%), kotor (4%) dan tidak ada jawaban (16%).

Hasil laporan National Safety Council (NSC) tahun 1988 menunjukkan bahwa terjadinya kecelakaan di rumah sakit 41% lebih besar dari pekerja di industry lain, kasus yang sering terjadi adalah  tertusuk  jarum, terkilir,  sakit pinggang,   tergores/terpotong,    luka   bakar   dan   penyakit   infeksi   lainnya (Menkes, 2007).

Keterangan: Bagi yang berminat untuk memiliki versi lengkap judul diatas dalam format Msword hubungi ke nomor:

HP. 0819 0405 1059/ 0812 2701 6999/ 0888 9119 100 atau Telp.0274-9553376. Skripsi Rp300rb, Tesis Rp500rb. Layanan ini bersifat sebagai referensi dan bahan pembelajaran. Kami tidak mendukung plagiatisme. Jika belum jelas, jangan ragu telepon kami :)

Data Jamsostek menyatakan bahwa kasus kecelakaan kerja pada 2008 sebanyak  93.823  orang,  dengan  jumlah  sembuh  85.090,  sedangkan  cacat total 44 orang. Sedangkan jumlah tenaga kerja yang meninggal karena kecelakaan   kerja   meningkat   dalam   tiga   tahun   terakhir.   Pekerja   yang meninggal karena kecelakaan kerja pada 2008 sebanyak 2,124 orang, pada

2007 sebanyak 1.883, dan pada 2006 sebanyak 1.597 orang (Persi, 2009). Data akurat tentang jumlah kecelakaan kerja yang terjadi di laboratorium Puskesmas tidak  ditemukan  oleh  peneliti,  hal  tersebut  dapat  disebabkan karena tidak tercatatnya kecelakaan kerja yang terjadi di laboratorium Puskesmas.

Kualitas pelayanan kesehatan khususnya di Puskesmas sangat dipengaruhi  oleh   pertugas   kesehatan   Puskesmas   itu   sendiri.   Petugas kesehatan yang diharapkan sekarang dan masa depan adalah dapat memberikan  pelayanan kesehatan yang bermutu dan memuaskan   pemakai jasa pelayanan serta diselenggarakan sesuai dengan standar dan etika pelayanan profesi. Disamping itu petugas kesehatan Puskesmas khususnya petugas laboratorium selain dapat memberikan pelayanan yang baik dan bermutu,  dalam menjalankan   tugas  atau  pekerjaannya   melayani  pasien dituntut untuk dapat melindungi dirinya sendiri dari bahaya-bahaya  potensial seperti resiko  terpajan  dan terinfeksi  (tertular)  dari pasien  dan dari tempat kerja (Depkes RI, 2004).

Kabupaten  Sleman  (terdiri dari 17 kecamatan)  merupakan  salah satu kabupaten  di  Provinsi  Daerah  Istimewa  Yogyakarta  dengan  luas  wilayah adalah 574,82 km². Kabupaten   Sleman   sebelah utara berbatasan  dengan kabupaten Bantul dan kota Yogyakarta, sebelah selatan berbatasan dengan kabupaten Bantul dan kota Yogyakarta, sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten   Kulon  Progo  dan  Provinsi   Jawa Tengah   dan  sebelah   timur berbatasan dengan  Provinsi Jawa Tengah (PPK LIPI, 2004).

Data  Dinas  Kesehatan  Provinsi  Daerah  Istimewa  Yogyakarta  tahun 2010  menunjukkan   bahwa   di   wilayah   kabupaten   Sleman   terdapat   24 Puskesmas yang tersebar di 17 kecamatan. Terdapat 7 kecamatan yang memiliki  2  Puskesmas,  diantaranya  yaitu  kecamatan  Ngaglik,  Ngemplak, Depok,  Mlati,  Gamping,  Godean  dan  Tempel.  Sedangkan  10  kecamatan lainnya yaitu kecamatan Moyudan, Minggir, Seyegan, Berbah, Sleman, Prambanan, Kalasan, Turi, Pakem dan Cangkringan memiliki masing-masing 1 Puskesmas. Jumlah  Puskesmas rawat jalan di wilayah kabupaten Sleman sebanyak 20 Puskesmas sedangkan jumlah Puskesmas rawat inap sebanyak 4 Puskesmas.

Permasalahan yang ada di laboratorium Puskesmas adalah kurang tersedianya  APD  di laboratorium  dan  kurang  disiplinnya  petugas  terhadap penggunaan APD pada saat bekerja di laboratorium. Misalnya petugas  yang tidak menggunakan  jas laboratorium,  sarung tangan dan masker pada saat pengambilan sampel, pemrosesan sampel dan pemeriksaan sampel. Proses- proses tersebut tentu saja akan membahayakan  petugas dari penularan dan infeksi penyakit ataupun terpapar bahan kimia berbahaya.

Berdasarkan permasalahan tersebut peneliti tertarik untuk melakukan evaluasi penggunaan APD pada petugas laboratorium Puskesmas rawat inap di kabupaten Sleman.

B.  Pertanyaan Penelitian

Berdasarkan uraian yang telah disebutkan pada latar belakang diatas, maka  pertanyaan penelitian ini dapat dirumuskan  sebagai berikut:

  1. Bagaimana pengetahuan petugas laboratorium Puskesmas rawat inap di kabupaten Sleman tentang  APD?
  2. Bagaimana   sikap   petugas   laboratorium   Puskesmas   rawat   inap   di kabupaten Sleman dalam penggunaan APD?
  3. Bagaimana   motivasi  petugas  laboratorium   Puskesmas   rawat  inap  di kabupaten Sleman dalam penggunaan APD?
  4. Bagaimana  ketersediaan  APD di laboratorium  Puskesmas  rawat inap di kabupaten Sleman?
  5. Bagaimana penerapan SOP oleh petugas laboratorium Puskesmas rawat inap di kabupaten Sleman?
  6. Bagaimana  pengawasan     terhadap  petugas  laboratorium   Puskesmas rawat inap di kabupaten Sleman dalam penggunaan  APD?

    Baca selengkapnya »

===================================================
Ingin memiliki Skripsi/Tesis versi lengkapnya? Hubungi Kami.
===================================================

Judul terkait:

Layanan Referensi & Konsultan Skripsi Tesis & Disertasi   No.HP.0819.0405.1059  Home: (0274) 9553376