Did You Know? Swans are the only birds with penises.

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Penyakit Jantung Koroner (PJK) menjadi penyebab kematian utama di Indonesia. Kematian akibat penyakit jantung koroner di Indonesia diperkirakan 53,5 per 100.000 penduduk per tahun, sedangkan data penderita penyakit jantung yang ada di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta pada tahun 2009 sebesar 215 kasus dan pada tahun 2010 sebesar 231 kasus. Penyakit Jantung Koroner merupakan penyakit yang masih menjadi problem baik pencegahan maupun penanganannya. Sindrom koroner merupakan salah satu manifestasi Penyakit Jantung Koroner (Irawan, 2008).

Penyakit Jantung Koroner (PJK) awalnya ditandai dengan adanya kekurangan oksigen (iskemia) yang disebabkan oleh arterosklerosis, bermula ketika sel darah putih yang disebut monosit, pindah dari aliran darah ke dalam dinding arteri dan diubah menjadi sel-sel yang mengumpulkan bahan-bahan lemak terutama kolesterol. Cadangan energi akan dikurangi dengan cepat, menghindari proses pemakaian energi yang tidak esensial dan mendorong sel untuk mencari energi alternatif (metabolisme anaerob). Menutupnya pompa ion adenosine trifosfat (ATP)-ase menyebabkan bocornya ion, terutama Kalium. Tersumbatnya aliran darah menyebabkan pembersihan metabolit yang dihasilkan pada fungsi normal sel terganggu. Terjadilah akumulasi metabolit yang meliputi fosfor anorganik, laktat, adenosin dan ion hydrogen. Perubahan yang terjadi pada beberapa menit pertama masih dapat kembali seperti semula (reversibel). Namun bila penyumbatan terjadi pada waktu yang lebih lama mengakibatkan terjadinya kerusakan yang menetap (irreversibel). Hal ini ditandai dengan pelepasan makromolekul seperti enzim dan protein. Kemudian terjadilah kematian sel dan nekrosis jaringan (Wijaya, 2000).

Penyakit Jantung Koroner (PJK) dipengaruhi oleh beberapa faktor, empat faktor utama yang mempengaruhi Penyakit Jantung Koroner adalah kolesterol darah yang tinggi, Low Density Lipoprotein (LDL) yang tinggi, terlalu banyak merokok dan hipertensi. Salah satu faktor tersebut adalah Low Density Lipoprotein (LDL) yang tinggi, secara lebih spesifik fungsi utama dari Low Density Lipoprotein (LDL) adalah mengangkut kolesterol dari hati ke jaringan dengan menggabungkannya ke dalam membran sel. Low Density Lipoprotein (LDL) seringkali disebut sebagai kolesterol jahat karena Low Density Lipoprotein (LDL) mempunyai komposisi kolesterol paling tinggi dibanding dengan liproprotein lainnya yaitu sebesar 43%, meningginya kadar Low Density Lipoprotein (LDL) berbanding lurus dengan risiko terkena Penyakit Jantung Koroner (PJK). Kadar Low Density Lipoprotein (LDL) yang tinggi berhubungan dengan penyakit kardiovaskuler, salah satunya adalah terjadi penyumbatan arteri (pembuluh nadi). Sedangkan High Density Lipoprotein (HDL) dikatakan sebagai kolesterol baik karena lipoprotein ini mempunyai komposisi kolesterol hanya sebesar 18%, meningginya kadar High Density Lipoprotein (HDL) berbanding terbalik dengan risiko Penyakit Jantung Koroner (PJK), jika kadar High Density Lipoprotein (HDL) tinggi maka risiko Penyakit Jantung Koroner (PJK) menurun (Heslet, 2004)

Bila kita memakan makanan yang banyak mengandung lemak atau yang mengandung kolesterol tinggi, maka kadar Low Density Lipoprotein (LDL) dalam darah kita juga akan ikut meninggi, Low Density Lipoprotein (LDL) yang tidak diserap oleh sel, akan melayang-layang dalam darah dan berisiko terjadi penumpukan atau pengendapan kolesterol pada dinding pembuluh darah arteri.

Saat Low Density Lipoprotein (LDL) yang terlalu banyak dalam darah dapat membentuk dinding pada bagian dalam pembuluh nadi secara perlahan. Low Density Lipoprotein (LDL) dapat membentuk plak, lapisan tebal yang dapat mempersempit arteri dan membuatnya kurang fleksibel. Kondisi tersebut dinamakan arterosklerosis. Pembentukan gumpalan darah dan menyumbat arteri dapat memicu terjadinya Penyakit Jantung Koroner atau stroke (Heslet, 2004).

Analisis enzim jantung dalam plasma atau serum merupakan bagian dari profil diagnostik Penyakit Jantung Koroner (PJK). Enzim terutama terdapat di dalam sel, maka adanya peningkatan jumlah suatu enzim dalam serum atau plasma umumnya merupakan konsekuensi dari cedera sel sehingga molekul-molekul intrasel dapat lolos keluar. Jumlah enzim yang sangat berlebihan dalam serum digunakan secara klinis sebagai bukti adanya kerusakan organ.

Keterangan: Bagi yang berminat untuk memiliki versi lengkap judul diatas dalam format Msword hubungi ke nomor:

HP. 0819 0405 1059/ 0812 2701 6999/ 0888 9119 100 atau Telp.0274-9553376. Skripsi Rp300rb, Tesis Rp500rb. Layanan ini bersifat sebagai referensi dan bahan pembelajaran. Kami tidak mendukung plagiatisme. Jika belum jelas, jangan ragu telepon kami :)

Substansi yang dibebaskan dari otot jantung yang rusak meliputi Creatine Kinase (CK), Aspartate Amino Transferase (AST), Laktat Dehidrogenase (LDH) dan Mioglobin. Creatine Kinase (CK) dibebaskan ke dalam sirkulasi pada hampir semua keadaan iskemia, cedera atau peradangan otot. Untuk membuktikan bahwa Creatine Kinase (CK) dalam serum berasal dari jantung adalah dengan pengukuran isoenzim Creatine Kinase (CK). Distribusi Creatine Kinase (CK) dalam miokardium adalah sekitar 80% Muskular Muskular (MM) dan 20% Myocardial Band (MB), sedangkan di otot rangka isoenzim Creatine Kinase (CK) hampir seluruhnya adalah Muskular Muskular (MM) dengan hanya sedikit  Myocardial Band (MB) (kurang dari 1%). Kemunculan mendadak Creatine Kinase Myocardial Band (CK-MB) dalam serum mengisyaratkan ada gangguan dari miokardium terutama pada situasi klinis yang pasiennya mengalami nyeri dada dan perubahan elektrokardiogram (EKG) (Roland, 2004).

Penggunaan Creatine Kinase Myocardial Band (CK-MB) untuk mendiagnosis Penyakit Jantung Koroner (PJK) merupakan tindakan yang banyak dilakukan dan biasanya memberikan informasi diagnostik yang tepat, tetapi kadang-kadang timbul hasil positif palsu dengan peningkatan CK-MB tidak berasal dari cedera miokardium. Ini biasanya dijumpai pada orang-orang seperti pelari marathon, pasien dengan distrofi otot atau orang dengan gagal ginjal. Berdasarkan uraian tersebut CK-MB memiliki sensitifitas yang setara dalam mendeteksi Penyakit Jantung Koroner (PJK), sedangkan Low Density Lipoprotein (LDL) yang tinggi merupakan faktor risiko terpenting Penyakit Jantung Koroner (PJK).

Laboratorium Patologi Klinik RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta adalah laboratorium yang memberikan pelayanan 24 jam baik pasien rawat jalan maupun rawat inap. Berdasarkan laporan laboratorium RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta banyak pasien yang diperiksa CK-MB dan Low Density Lipoprotein (LDL) dan lebih dari 150 pasien per tahun diantaranya didiagnosa sebagai Penyakit Jantung Koroner (PJK), Berdasarkan laporan tersebut penulis tertarik untuk mengetahui hubungan kadar Low Density Lipoprotein (LDL) dengan CK-MB pada pasien Penyakit Jantung Koroner (PJK) di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut : apakah ada hubungan antara kadar Low Density Lipoprotein (LDL) dengan Creatine Kinase-Myocardial Band (CK-MB) pada pasien Penyakit Jantung Koroner (PJK) di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta?

    Baca selengkapnya »

===================================================
Ingin memiliki Skripsi/Tesis versi lengkapnya? Hubungi Kami.
===================================================

Judul terkait:

Keyword:

hubungan ckmb dan kolestrol (1), hubungan ldl dan hdl (1), hubungn ldl dengan pjk (1), jantung koroner LDH CK MB hubungan (1)

Layanan Referensi & Konsultan Skripsi Tesis & Disertasi   No.HP.0819.0405.1059  Home: (0274) 9553376