Did You Know? In 10 minutes, a hurricane releases more energy than all of the world's nuclear weapons combined.
RSS Feeds:
Posts
Comments

BAB I

PENDAHULUAN

 A.  Latar Belakang Masalah

Dalam proses belajar mengajar siswa mempunyai reaksi yang berbeda-beda terhadap berbagai tugas dan materi pelajaran yang diberikan. Ada sebagian siswa yang langsung tertarik dan menyenangi topik-topik pelajaran yang baru diberikan kepadanya, ada pula sebagian siswa yang menerima dengan perasaan jengkel ataupun pasrah dan ada sebagian yang lain yang benar-benar menolak untuk belajar. Tidak jarang ditemukan di dalam kelas, siswa melakukan kegiatan belajar mengajar karena takut kepada guru, ada juga siswa yang memanipulasi tugas-tugas agar tidak susah payah tetapi tugasnya selesai. Ada pula siswa yang selalu ingin lebih unggul dalam seluruh mata pelajaran. Siswa yang mempunyai keinginan lebih unggul ini disebut memiliki motivasi berprestasi.

Motivasi berprestasi dalam belajar tidak saja merupakan suatu energi yang menggerakkan siswa untuk belajar, tetapi juga sebagai sesuatu yang mengarahkan aktivitas siswa kepada tujuan belajar. Siswa yang mempunyai motivasi berprestasi akan selalu giat belajar agar mempunyai prestasi yang tinggi melebihi siswa lainnya. Akibatnya siswa yang memiliki motivasi berprestasi akan selalu mempunyai prestasi yang lebih baik dibandingkan dengan siswa yang tidak memiliki motivasi berprestasi. Sebaliknya siswa yang tidak memiliki motivasi berprestasi prestasi belajarnya hanya rendah. Banyak pula siswa yang tidak naik kelas karena tidak mau belajar. Mereka bersekolah hanya karena terpaksa dan bukan atas keinginan mereka sendiri (Kompas, 22 Maret 2003).

Tinggi rendahnya motivasi berprestasi tidak lepas dari kemampuan siswa untuk mengendalikan diri dan lingkungannya. Sebagai contoh ketika siswa akan belajar, ada teman yang mengajak bermain, maka ketika itu siswa harus memutuskan, apakah akan bermain atau belajar. Jika memilih belajar, siswa akan mendapat pengetahuan dan akan dapat meningkatkan pemahamannya terhadap pelajaran, jika memilih bermain, siswa akan mendapat kesenangan, tetapi pelajarannya menjadi terganggu. Ketika memutuskan apakah akan bermain atau belajar, sangat ditentukan oleh kepribadian dari siswa yang bersangkutan. Bagi siswa yang mempunyai pengendalian diri yang kuat, maka jam belajar tidak akan dipergunakan untuk bermain. Sebaliknya bagi siswa yang tidak mempunyai pengendalian diri yang kuat, maka jam belajar dapat saja disalahgunakan untuk bermain. Masih banyak siswa yang tidak mampu mengendalikan dirinya ketika menghadapi pilihan sebagaimana yang dikemukakan di atas.

Berkaitan dengan pengendalian diri ini ada suatu istilah yang disebut dengan internal locus of control. Menurut para ahli locus of control mengacu pada cara seseorang untuk mengatur dunianya dan bagaimana seseorang tersebut berperilaku dalam situasi yang berbeda-beda. Menurut Thompson sebagaimana dikutip oleh Smet (1994: 34) locus of control adalah suatu keyakinan seseorang untuk dapat mencapai hasil yang sesuai dengan keinginannya lewat tindakan yang dilakukan. Lebih lanjut Setyorini sebagaimana dikutip oleh Munandar, dkk. (2004: 112) menerangkan locus of control sebagai suatu disposisi perilaku yang dapat mempengaruhi tindakan seseorang dalam situasi tertentu, dalam hal ini perilaku yang berkaitan dengan masalah belajar dan prestasi. Adanya locus of control akan membuat seseorang memiliki suatu keyakinan yang bersumber dari dalam dirinya, bahwa ia akan mampu untuk menentukan keberhasilan atau kegagalannya sendiri dengan mengontrol diri dan lingkungan yang ada disekitarnya.

Seorang siswa yang memiliki internal locus of control akan mampu mengendalikan dirinya agar tidak menyimpang dari tugasnya sebagai siswa, yaitu belajar (Kedaulatan Rakyat, 2 Mei 2000). Namun hal ini tidak membuatnya menjadi kehilangan keceriaan sebagai anak-anak, karena ketika waktunya untuk bermain, maka anak yang mempunyai internal locus of control akan menggunakan waktunya untuk bermain.

Dikaitkan dengan motivasi berprestasi yang seharusnya dimiliki oleh siswa agar mendapatkan prestasi belajar yang baik, maka internal locus of control yang dimiliki oleh anak tersebut akan sangat mendukung motivasi berprestasi yang dimilikinya. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Rahayu (1994) yang meneliti tentang pengaruh internal locus of control terhadap prestasi belajar siswa SMUN 15 Bandung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa yang mempunyai internal locus of control mempunyai kecenderungan memiliki prestasi belajar yang baik, sedangkan siswa yang tidak mempunyai internal locus of control menunjukkan kecenderungan yang sebaliknya, yaitu mempunyai prestasi belajar yang buruk. Siswa yang mempunyai internal locus of control rendah juga mempunyai kecenderungan melakukan kenakalan remaja yang lebih tinggi.

Internal locus of control yang dimiliki siswa dapat membuatnya mampu mengejar prestasi yang diinginkannya. Hal ini dapat terjadi karena dengan adanya internal locus of control siswa yang mempunyai motivasi berprestasi menjadi lebih terarah dalam mengejar prestasi. Namun demikian dalam prakteknya tidak semua anak memiliki internal locus of control, sehingga walaupun anak itu memiliki motivasi berprestasi tetapi karena tidak mampu mengendalikan diri, maka anak itu tidak dapat mencapai prestasi yang diinginkannya. Ada juga anak yang tidak memiliki motivasi berprestasi dan juga tidak mempunyai internal locus of control, anak seperti ini tidak mempunyai minat untuk sekolah tetapi lebih berminat untuk bermain, sehingga prestasi belajarnya sangat buruk, atau bahkan mungkin tidak naik kelas.

Berdasarkan uraian di atas peneliti tertarik untuk meneliti hubungan internal locus of control yang dimiliki siswa dengan motivasi berprestasi siswa.

B.   Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, dalam penelitian ini diidentifikasi masalah-masalah yang berkaitan dengan penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Banyak siswa yang tidak memiliki motivasi berprestasi, sehingga prestasi belajarnya hanya rendah.
  2. Banyak siswa yang bersekolah hanya karena terpaksa dan bukan atas keinginan mereka sendiri.
  3. Banyak siswa yang tidak mampu mengendalikan dirinya sehingga menyalahgunakan waktu belajar untuk bermain.
  4. Banyak anak yang tidak memiliki internal locus of control, sehingga anak itu tidak dapat mencapai prestasi yang diinginkannya.
  5. Banyak anak yang tidak memiliki motivasi berprestasi dan internal locus of control, sehingga prestasi belajarnya sangat buruk.

 C.   Pembatasan Masalah

Adanya keterbatasan waktu, tenaga dan dana dalam melakukan penelitian membuat tidak semua masalah yang diidentifikasi di atas akan diteliti dalam penelitian ini. Oleh karena itu dibatasi masalah yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah banyak anak yang tidak memiliki internal locus of control, sehingga anak itu tidak dapat mencapai prestasi yang diinginkannya.

D.  Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas dirumuskan masalah sebagai berikut: “Apakah ada hubungan yang positif antara internal locus of control dengan motivasi berprestasi di SD Sinduadi I Sleman Yogyakarta?”

    Baca selengkapnya »

===================================================
Ingin memiliki Skripsi/Tesis versi lengkapnya? Hubungi Kami.
===================================================

Keterangan: Skripsi-Tesis yang ada di situs ini adalah contoh dari bagian dalam skripsi atau Tesis saja. Bagi yang berminat untuk memiliki versi lengkap dalam format Softcopy hubungi ke nomor HP. 081904051059 atau Telp.0274-7400200. Skripsi Rp300rb, Tesis Rp500rb. Layanan ini bersifat sebagai referensi dan bahan pembelajaran. Kami tidak mendukung plagiatisme.

Judul terkait:

Layanan Pencarian Data dan Penyedia Referensi Skripsi Tesis   No.HP.0819.0405.1059  Home: (0274) 7400200