Did You Know? When you have to solve a printed maze its a smart thing to start at the end, not at the beginning.

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Menurut Mc.Gregor (As’ad, 1981) seseorang bekerja karena merupakan kondisi bawaan seperti bermain atau beristirahat, untuk aktif dan mengerjakan sesuatu. Smith dan Wakeley (As’ad, 1981) menambahkan dengan teorinya yang menyatakan bahwa seseorang didorong untuk beraktivitas karena berharap bahwa hal ini akan membawa pada keadaan yang lebih memuaskan daripada keadaan sekarang.

Manusia bekerja tidak hanya untuk mendapatkan upah, tetapi juga untuk mendapatkan kesenangan karena dihargai oleh orang-orang dalam lingkungannya. Akan tetapi kesenangan ini menjadi berkurang ketika orang tersebut memasuki masa pensiun.

Rumke (Sadli, 1991) menyatakan bahwa usia 55 – 65 tahun merupakan usia pensiun. Pada saat itu seseorang kehilangan pekerjaannya, status sosialnya, fasilitas, materi, anak – anak sudah besar – besar dan pergi dari rumah. Teman – teman dan relasi – relasi tidak lagi mengunjunginya. Ia menjadi kesepian. Bersamaan dengan itu kesehatannya makin menurun. Berkaitan dengan keadaan tersebut Kroeger (1982) mengatakan bahwa pensiun adalah salah satu titik balik yang signifikan dalam karier seseorang selama hidupnya atau setidak – tidaknya untuk mayoritas orang dewasa yang telah menghabiskan seluruh atau sebagian besar hidup mereka dalam bekerja.

Pensiun merupakan suatu perubahan yang penting dalam perkembangan hidup individu yang ditandai dengan terjadinya perubahan sosial. Perubahan ini harus dihadapi oleh para pensiunan dengan penyesuaian diri terhadap keadaan tidak bekerja, berakhirnya karier di bidang pekerjaan, berkurangnya penghasilan, dan bertambah banyaknya waktu luang yang kadang – kadang terasa sangat mengganggu (Kimmel, 1974).

Pensiun merupakan akhir dari seseorang melakukan pekerjaannya. Pensiun seharusnya membuat orang senang karena bisa menikmati hari tuanya. Tapi banyak orang bingung bahkan cemas ketika akan menghadapi pensiun. Banyak alasan dikemukakan, mereka mengatakan bahwa mereka butuh pekerjaan.

Beverly (Hurlock, 1994) berpendapat bahwa pensiun seringkali dianggap sebagai kenyataan yang tidak menyenangkan sehingga menjelang masanya tiba sebagian orang sudah merasa cemas karena tidak tahu kehidupan macam apa yang akan dihadapi kelak. Dalam era modern seperti sekarang ini, pekerjaan merupakan salah satu faktor terpenting yang bisa mendatangkan kepuasan (karena uang, jabatan dan memperkuat harga diri). Oleh karenanya, sering terjadi orang yang pensiun bukannya bisa menikmati masa tua dengan hidup santai, sebaliknya, ada yang mengalami problem serius (kejiwaan maupun fisik).

Pendapat hampir sama juga dikemukakan oleh Kartono (1981) yang menyatakan bahwa seseorang yang memasuki masa pensiun sering kali merasa malu karena menganggap dirinya sebagai “pengangguran” sehingga menimbulkan perasaan-perasaan minder, rasa tidak berguna, tidak dikehendaki, dilupakan, tersisihkan, tanpa tempat berpijak dan seperti “tanpa rumah”. Hal ini berbeda dengan ketika orang tersebut masih bekerja, dirinya merasa terhormat dan merasa berguna. Selain itu pada waktu masih bekerja seseorang mendapatkan bermacam-macam fasilitas materiil, sedangkan setelah pensiun semua fasilitas kerja tidak ada lagi. Oleh karena itulah seseorang yang memasuki masa pensiun mengalami kondisi “kekosongan”, merasa tanpa arti dan tanpa guna sehingga menjelang masa pensiun orang tersebut mengalami kecemasan akan bayangan-bayangan yang dihayalkannya sendiri. Padahal sebenarnya, yang menjadi kriteria pokok itu bukan kondisi dan situasi pensiun dan menganggur itu in-concreto, akan tetapi bagaimana caranya seseorang menghayati dan merasakan keadaannya yang baru itu. Kondisi mental dan tipe kepribadian seseorang sangat menentukan mekanisme reaktif seseorang menanggapi masa pensiunnya.

Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa orang cenderung merasa cemas ketika akan memasuki masa pensiun. Hal ini dikarenakan orang tersebut mempunyai sudut pandang negatif tentang pensiun. Sebagai contoh MK yang pensiun tahun 1971 dengan jabatan Deputi kepala wilayah sebuah BUMN di Sumatera Selatan, ketika akan memasuki masa pensiunnya mulai merasakan kecemasan yang membuatnya merasa terganggu (hasil wawancara dengan MK pada tanggal 4 Januari 2005). Hal ini dikarenakan pikiran bahwa masa pensiun adalah masa yang sangat tidak menyenangkan, suram, tidak akan dihormati lagi, dan kehilangan semua fasilitas jabatan yang selama ini dinikmati (Soegino, 2000).

Rasa cemas ketika akan memasuki pensiun juga dialami oleh JL yang merupakan seorang guru di Kota Pangkalpinang. Berdasarkan hasil wawancara penulis dengan JL diketahui bahwa ia begitu cemas karena masa pensiunnya akan segera tiba. Ia akan kehilangan pekerjaan padahal anak – anaknya masih bersekolah. Ia bingung bagaimana akan melanjutkan kehidupannya dengan uang pensiun yang dianggap tidak cukup (hasil wawancara dengan JL pada tanggal 12 Januari 2005).

Berdasarkan contoh kasus di atas dapat diketahui bahwa sumber kecemasan seseorang yang memasuki masa pensiun berbeda-beda, dapat karena cemas karena kehilangan jabatan dan fasilitas bagi mereka yang sudah memegang jabatan, dapat karena cemas akan kehilangan sumber pencaharian setelah memasuki masa pensiun, dapat karena bayangan tidak akan dihargai setelah memasuki masa pensiun, dan lain-lain.

Menurut Back (Hurlock, 1994) hal – hal yang dapat mempengaruhi seseorang dalam menerima masa pensiun sebenarnya adalah kondisi emosionil para pekerja terhadap pensiun itu sendiri. Apabila pensiun semakin dianggap sebagai perubahan ke status baru, maka pensiun akan semakin tidak dianggap sebagai membuang status yang berharga dengan demikian akan terjadi transisi yang lebih baik. Memasuki masa transisi ini seseorang sudah menyusun rencana– rencana yang harus dilakukan setelah tiba masa pensiun.

Berdasarkan uraian Back (Hurlock, 1994) di atas dapat diketahui bahwa kondisi emosionil yang menganggap bahwa masa pensiun hanya merupakan masa transisi dari sebuah kehidupan kerja menjadi kehidupan tanpa bekerja, akan membuat seorang karyawan yang memasuki masa pensiun menjadi tidak terlalu terbebani dengan keadaan tersebut. Hal terpenting yang perlu dilakukan oleh orang yang memasuki masa transisi adalah melakukan persiapan-persiapan memasuki masa tersebut.

Kecerdasan emosi mencakup pengendalian diri, semangat, ketekunan, serta kemampuan untuk memotivasi diri sendiri dan bertahan menghadapi frustrasi, kesanggupan untuk mengendalikan dorongan hati dan emosi, tidak melebih-lebihkan kesenangan, mengatur suasana hati, tidak melumpuhkan kemampuan berpikir, kemampuan membaca perasaan terdalam orang lain (empati) dan berdoa, kemampuan memelihara hubungan dengan sebaik-baiknya, kemampuan untuk menyelesaikan konflik, serta kemampuan untuk memimpin (Goleman, 2000). Orang-orang yang dikuasai dorongan hati yang kurang memiliki kendali diri, mengalami kekurangmampuan dalam pengendalian moral (Hurlock, 1994).

Berdasarkan pengalaman, apabila suatu masalah menyangkut pengambilan keputusan dan tindakan, aspek perasaan sama pentingnya  dan sering kali lebih penting daripada nalar. Emosi itu memperkaya; model pemikiran yang tidak menghiraukan emosi merupakan model yang miskin. Nilai-nilai yang lebih tinggi dalam perasaan manusia, seperti kepercayaan, harapan, pengabdian, cinta, seluruhnya lenyap dalam pandangan kognitif yang dingin. Orang cenderung menekankan pentingnya IQ dalam kehidupan manusia. Padahal kecerdasan tidaklah berarti apa-apa bila emosi yang berkuasa. Kecerdasan emosi menambahkan jauh lebih banyak sifat-sifat yang membuat manusia menjadi lebih manusiawi. Terdapat pemikiran bahwa IQ menyumbang paling banyak 20% bagi sukses dalam hidup, sedangkan 80% ditentukan oleh faktor lain (Goleman, 2000).

Banyak bukti memperlihatkan bahwa orang yang secara emosi cakap, yang mengetahui dan menangani perasaan mereka sendiri dengan baik, dan yang mampu membaca dan menghadapi perasaan orang lain dengan efektif memiliki keuntungan dalam setiap bidang kehidupan, entah itu dalam hubungan asmara dan persahabatan, hubungan kerja, ataupun ketika akan memasuki masa berhenti dari bekerja (Goleman, 2000).

Keterangan: Bagi yang berminat untuk memiliki versi lengkap judul diatas dalam format Msword hubungi ke nomor:

HP. 0819 0405 1059/ 0812 2701 6999/ 0888 9119 100 atau Telp.0274-9553376. Skripsi Rp300rb, Tesis Rp500rb. Layanan ini bersifat sebagai referensi dan bahan pembelajaran. Kami tidak mendukung plagiatisme. Jika belum jelas, jangan ragu telepon kami :)

Orang dengan keterampilan emosi yang berkembang baik berarti kemungkinan besar ia akan bahagia dan berhasil dalam kehidupan, menguasai kebiasaan pikiran yang mendorong produktivitas mereka. Orang yang tidak dapat menghimpun kendali tertentu atas kehidupan emosinya akan mengalami pertarungan batin yang merampas kemampuan mereka untuk berkonsentrasi pada karir/pekerjaan ataupun untuk memiliki pikiran yang jernih.

Ohman & Soares (1998) melakukan penelitian yang menghasilkan kesimpulan bahwa sistem emosi mempercepat sistem kognitif untuk mengantisipasi hal buruk yang mungkin akan terjadi. Stimuli yang relevan dengan rasa takut menimbulkan reaksi bahwa hal buruk akan terjadi. Terlihat bahwa rasa takut mempersiapkan individu untuk antisipasi datangnya hal tidak menyenangkan yang mungkin akan terjadi. Secara otomatis individu akan bersiap menghadapi hal-hal buruk yang mungkin terjadi bila muncul rasa takut.

Sebelum seseorang pensiun sebaiknya menyusun suatu perencanaan untuk menghadapi masa pensiun. Dalam penyusunan perencanaan ini diperlukan kecerdasan emosi untuk mengatur perencanaan. Orang dengan kecerdasan emosi yang baik akan mampu mengatasi kecemasan yang ada dalam dirinya. Ia tidak akan membiarkan ketakutan – ketakutan tumbuh dan berkembang dalam dirinya. Saat akan memasuki masa pensiun ia sudah menyusun kegiatan – kegiatan. Ia akan tetap menjalani hidup seperti biasa. Perubahan – perubahan yang terjadi dalam dirinya itu dianggap hal biasa karena itu adalah suatu proses kehidupan. Bekal – bekal yang ada dalam dirinya yang ia dapatkan selama bekerja dijadikan modal untuk tetap berkarier. Banyak perusahaan yang bersedia menerima karyawan lanjut usia. Ia juga sudah mengantisipasi perubahan – perubahan yang lain seperti penyesuaian terhadap lingkungan, baik itu keluarga maupun masyarakat. Orang dengan kecerdasan emosi yang baik akan berpikir bagaimana membuat pensiun yang bermakna.

B. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara kecerdasan emosi dengan kecemasan menghadapi pensiun pada pegawai.

C. Manfaat Penelitian

1. Manfaat teoritis

Manfaat teoritisnya adalah untuk menambah khazanah pengetahuan terutama psikologi perkembangan.

2. Manfaat praktis

Dapat menambah pengetahuan dan berguna bagi orang-orang yang akan menghadapi pensiun. Mereka dapat mengetahui apa sebenarnya yang memicu seseorang cemas ketika akan menghadapi pensiun dan bagaimana cara menanggulanginya.

D. Keaslian Penelitian

1. Keaslian Topik

Penelitian yang dilakukan ini merupakan replikasi dari penelitian yang telah ada sebelumnya. Namun dalam hal ini dari segi alat ukur dan subjek penelitian, penelitian ini benar-benar asli dan belum pernah diteliti sebelumya.

Ada beberapa penelitian tentang kecemasan menghadapi pensiun dan kecerdasan emosi, diantaranya penelitian yang dilakukan oleh Hascar Yaningtyas Dyah Utami (2000) yang meneliti pengaruh ketabahan (hardiness) dan kecemasan menghadapi masa pensiun. Hasilnya ada hubungan antara ketabahan (hardiness) dan kecemasan menghadapi masa pensiun.

Penelitian lain penelitian dari Yulianti (2003) yaitu tentang hubungan penerimaan diri dengan stres menghadapi pensiun pada pegawai negeri sipil Kabupaten Karang Anyar yang hasilnya ada hubungan yang sangat signifikan antara penerimaan diri dengan stres menghadapi pensiun pada pegawai negeri sipil Kabupaten Karang Anyar.

Penelitian tentang pensiun dilakukan oleh Wahyuni (2003), yaitu tentang perbedaan kecemasan menghadapi pensiun pada pria dan wanita pegawai negeri sipil Pemerintah Kota Samarinda. Hasilnya ada perbedaan kecemasan menghadapi pensiun yang signifikan pada pegawai negeri sipil (PNS) yang berjenis kelamin pria dan pegawai negeri sipil (PNS) yang berjenis kelamin wanita di Pemerintah Kota Samarinda. Sumber kecemasan yang dirasakan oleh pegawai negeri berjenis kelamin pria juga berbeda dengan sumber kecemasan yang dialami pegawai negeri yang berjenis kelamin wanita. Pada pegawai negeri pria kecemasan disebabkan bayangan akan kehilangan jabatan dan kehormatan yang selama ini dipegangnya. Di lain pihak sumber kecemasan pada pegawai negeri wanita lebih disebabkan oleh bayangan akan kehilangan fasilitas yang selama ini dinikmatinya ketika bekerja.

Hubungan persepsi tentang pensiun dengan penerimaan diri pada anggota persatuan pensiun Bank BNI Cabang Kota Yogyakarta diteliti oleh Hamdi (2004). Penelitian ini mendapatkan adanya persepsi tentang pensiun yang berbeda-beda dari orang yang menjadi anggota persatuan pensiun Bank BNI Cabang Yogyakarta. Akan tetapi dari hasil analisis secara statistik ternyata hasilnya tidak ada hubungan persepsi tentang pensiun dengan penerimaan diri pada anggota persatuan pensiun bank BNI Cabang Kota Yogyakarta.

Hubungan antara penerimaan diri dengan kecemasan psikologis dalam menghadapi masa pensiun pada pegawai Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Yogyakarta oleh Purwanto (2004). Penelitian ini meneliti tentang penerimaan diri yang dialami karyawan terhadap pensiun yang akan dihadapinya dengan kecemasan dalam menghadapi pensiun. Konsep dasar penelitian ini adalah bagi karyawan yang mampu menerima keadaan pensiun dengan baik akan mempunyai tingkat kecemasan yang rendah, sebaliknya bagi karyawan yang kurang mampu menerima keadaan pensiun dengan baik akan mempunyai tingkat kecemasan yang tinggi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa memang ada hubungan antara penerimaan diri dengan kecemasan psikologis dalam menghadapi masa pensiun pada pegawai Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Yogyakarta.

Selain itu ada penelitian dari Wulandari dan Fajar Astuti (2002) yaitu hubungan antara dukungan sosial dengan kecemasan menghadapi pensiun pada guru yang memiliki pekerjaan sampingan. Hasil penelitiannya adalah ada hubungan antara dukungan sosial dengan kecemasan menghadapi pensiun pada guru yang memiliki pekerjaan sampingan.

Penelitian tentang kecerdasan emosi antara lain penelitian yang dilakukan oleh Tjahjoanggoro, dkk, (2001) hubungan antara kecerdasan emosi dengan prestasi kerja distributor multi level marketing (MLM). Hasil penelitiannya ada hubungan yang sangat signifikan antara kecerdasan emosi dengan prestasi kerja distributor.

Penelitian lain mengenai kecerdasan emosi adalah penelitian dari Melianawati, dkk, (2001) yang meneliti hubungan antara kecerdasan emosi dengan kinerja karyawan. Konsep awal dari penelitian ini adalah karyawan yang mempunyai kecerdasan emosi yang tinggi akan mempunyai kinerja yang tinggi pula, sebaliknya karyawan yang mempunyai kecerdasan emosi yang rendah akan mempunyai kinerja yang rendah pula. Penelitian ini dilakukan pada perusahaan yang menggaji karyawannya berdasarkan kinerja yang dimiliki karyawan. Hasil penelitiannya ada hubungan yang sangat signifikan antara kecerdasan emosi dengan kinerja karyawan.

Perbedaan penelitian ini dengan penelitian lain adalah bahwa penelitian ini lebih mengungkapkan pada sisi emosi orang yang akan menghadapi pensiun. Bagaimana emosi seseorang itu timbul dalam dirinya sehingga mempengaruhi pola pikir yang akhirnya menimbulkan kecemasan saat orang akan menghadapi pensiun. Selain itu bagaimana peran kecerdasan emosi dalam diri seseorang dalam menghadapi pensiun. Subjek yang digunakan dalam penelitian ini juga berbeda. Dalam penelitian ini subjek menggunakan pegawai negeri sipil (PNS) sebagai subjek yaitu PNS di Kota Pangkalpinang.

Persamaan penelitian ini dengan penelitian lain adalah aspek emosi yang diteliti adalah aspek kecemasan dan aspek kecerdasan emosi. Secara umum teori yang dipergunakan untuk menjelaskan kedua aspek tersebut sama dengan penelitian lain akan tetapi berbeda dari penekanannya, yaitu ditekankan pada kecemasan menghadapi pensiun.

2. Keaslian Teori

Penelitian yang penulis lakukan menggunakan teori kecemasan dari Soegino (2000) serta teori kecerdasan emosi yang diambil dari Goleman (2000).

3. Keaslian Alat Ukur

Peneliti menggunakan alat ukur yang disusun oleh penulis sendiri

berdasarkan aspek-aspek kecemasan menghadapi pensiun menurut Soegino (2000) serta aspek-aspek kecerdasan emosi menurut Goleman (2000).

4. Keaslian Subyek Penelitian

Subyek penelitian yang digunakan peneliti berbeda dengan subyek

penelitian yang dilakukan oleh peneliti sebelumnya. Peneliti menggunakan subyek penelitian yaitu para pegawai PT Timah dan pegawai PEMDA Pangkalpinang yang berusia 50-58 tahun.

    Baca selengkapnya »

===================================================
Ingin memiliki Skripsi/Tesis versi lengkapnya? Hubungi Kami.
===================================================

Judul terkait:

Keyword:

teori kecemasan (34), aspek kecemasan (27), menghadapi pensiun (26), hubungan kecerdasan emosi dengan kecemasan menghadapi pensiun (22), kecerdasan emosi PDF (20), kecemasan menghadapi pensiun (18), menghadapi masa pensiun (16), kecerdasan emosional pdf (15), kecemasan menghadapi masa pensiun (13), makalah kecemasan (13)

Layanan Referensi & Konsultan Skripsi Tesis & Disertasi   No.HP.0819.0405.1059  Home: (0274) 9553376