Did You Know? The first couple to be shown in bed together on prime time television were Fred and Wilma Flintstone.
RSS Feeds:
Posts
Comments

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pada umumnya orang pernah mengalami ketegangan, walau sering tidak dirasakannya, karena ketegangan ini berkisar dari sedikit kegelisahan sampai rasa cemas yang melumpuhkan. Seseorang yang mengalami sedikit rasa gelisah, tidak menyadari kalau hal itu merupakan ketegang­an yang bisa menjadi semakin parah.

Pada dasarnya ketegangan merupakan suatu perasaan yang tidak mudah digambarkan. Ketegangan timbul karena ada masalah yang harus ditanggulangi. Ketegangan yang berkepanjangan memang dapat mengganggu kehidupan, namun demikian dalam kehidupan sehari-hari tidak adanya ketegangan sama sekali belum tentu dan bahkan bukan merupakan suatu tanda kebahagiaan, tetapi malah menunjukkan adanya kelesuan atau ketidaktahuan mengenai apa yang tengah terjadi.

Seseorang yang mengalami ketegangan pada umumnya menunjukkan tingkah laku atau kegiatan yang tidak biasanya dilakukan, yang dilakukan tanpa mereka sadari atau bahkan dengan sengaja. Misalnya merokok terus menerus, terlalu tergantung pada minuman keras maupun berbagai macam pil, kepala selalu pusing tanpa sebab yang nyata, rasa lelah tanpa sebab yang dapat dibenarkan, tidak bisa tidur, perut selalu murus dan mual, gelisah, terlalu mengandalkan pekerjaan untuk kepuasan, terlalu perasa (emosional), murung dan tidak percaya diri, tidak bisa konsentrasi dalam menyelesaikan pekerjaan, takut dan cemas, serta berbagai tingkah laku yang menyimpang dari kebiasaan lainnya.

Apabila tingkah laku semacam itu seringkali dilakukan sedangkan sebelumnya tidak pernah atau jarang sekali dilakukan, maka ada baiknya untuk berkonsultasi pada seorang ahli yang bisa membantu menanganinya. Atau bisa juga orang tersebut menengok kembali upaya apa yang telah dilakukannya untuk menanggulangi ketegangan itu.

Di dalam lingkungan kerja, ketegang­an yang sering dialami oleh karyawan akan mengganggu situasi kerja serta konsentrasi dalam menyelesaikan tugasnya. Keadaan itu bisa mengakibatkan menurunnya prestasi kerja yang tentunya sangat merugikan diri karyawan dan perusahaan.

Timbulnya ketegangan seperti digambarkan di atas pada hakikatnya disebabkan oleh tiga faktor, yakni masalah organisasi di lingkungan kerja, faktor si karyawan, dan hal lain yang berhubungan dengan masyarakat. Bisa terjadi seorang karyawan mengalami ketegangan karena ketiga faktor atau salah satu faktor saja.

Faktor di lingkungan kerja yang dapat menyebabkan ketegangan pada diri seseorang antara lain masalah administrasi, tekanan yang tidak wajar untuk menyesuai­kan diri dengan pekerjaan dan situasi kerja, struktur birokrasi yang tidak tepat, sistem manajemen yang tidak sesuai, perebutan kedudukan, persaingan yang semakin ketat untuk memperoleh kemajuan, anggaran yang terbatas, perencanaan kerja yang kurang baik, jaminan pekerjaan yang tidak pasti, beban kerja yang semakin bertambah dan segala sesuatu yang ada kaitannya dengan pekerjaan.

Faktor dalam diri individu juga dapat menyebabkan tim­bulnya ketegangan. Berbagai masalah yang menyangkut individu dan dapat mengakibatkan ketegangan antara lain adalah keinginan dan cita-cita yang tidak masuk akal, sikap yang merusak diri, rintangan karier, masalah keuangan, masalah ketidakcocokan status, konflik antara masalah pekerjaan dengan masalah rumah tangga, umur yang semakin meningkat, kegagalan dalam meningkatkan kemampuan dan segala masalah yang menyangkut diri karyawan tersebut.

Masalah yang menyangkut diri karyawan sering mengakibatkan timbulnya masalah dalam pekerjaan, apalagi jika pribadi karyawan itu tidak kokoh, sehingga mudah sekali terpengaruh oleh hal-hal yang mestinya bisa dihindari. Selain itu, lingkungan masyarakat yang dapat menyebabkan ketegangan ini antara lain adat istiadat yang tidak sesuai dengan hati nurani, cara hidup masyarakat dan sebagainya. Apabila ketiga faktor tersebut mempengaruhi seseorang, maka dapat dipastikan bahwa ketegangan akan semakin lama dialami dan dapat merugikan. Yang pasti dengan timbulnya ketegangan ini kehidupan seseorang akan terganggu, dan hal ini dapat meluas serta menimbulkan ketegangan dalam rumah tangga, baik dengan istri, anak-anak, maupun anggota keluarga yang lain.

Sebagai suatu hal yang sangat esensial, pekerjaan mengandung sesuatu yang luhur, yang amat penting dan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Melalui pekerjaannya manusia dapat menyadari eksistensi dirinya. Melalui aktivitas pekerjaan dan karya sebagai hasilnya, manusia dapat membuktikan dirinya sebagai makhluk rohani yang mengatasi alam, melahirkan dan membuktikan bakat-bakat, cita-cita, sebagai nyata dan ada. Juga segala potensi diri dapat dikembangkan melalui pekerjaan yang akhirnya akan mampu mencerminkan sampai sejauh mana potensi kemanusiaan itu melahirkan suatu kreativitas manusia, sehingga mutu kehidupan meningkat sejalan dengan kreativitas.

Pekerjaan sebagai suatu kegiatan yang luhur marta­batnya seharusnya membuat manusia yang melakukannya merasakan pengakuan kehadirannya dan mencintai peker­jaannya. Semangatnya selalu bergelora bila melaksanakan pekerjaan, penuh gairah dan simpati. Namun dalam kenyataannya yang sering terjadi justru hal yang sebaliknya. Banyak orang yang mengeluh terhadap pekerjaannya. Mereka mengeluh tidak merasakan kebahagiaan dalam bekerja, merasa dihinggapi rasa bosan dalam keseharian, merasa di­rendahkan dan ditindas serta diremukkan oleh pekerjaan itu sendiri. Seorang pegawai kantor berangkat ke tempat kerja dengan wajah murung dan saat yang dinantikan selama di kantor adalah saat pulang kerja. Kepulangan dari tempat kerja seakan merupakan saat ke luar dari penjara yang tidak menyenangkan. Pekerjaan menjadi suatu aktivitas yang dilakukan dengan penuh keterpaksaan, tidak ada kecintaan terhadap pekerjaan. Dengan kata lain pekerjaan dapat membuat orang mengalami gejala stres.

Gejala stres pada pekerja antara lain berupa keletihan, sering pilek, gangguan tidur, napas pendek, sakit kepala, sakit kepala sebelah (migrain), kaki dan tangan dingin, nyeri kuduk dan pundak, gangguan menstruasi, gangguan pencernaan, mual, muntah, alergi, serangan asma, diabetes bahkan kanker. Hal itu menimbulkan absenteisme (tidak masuk kerja) cukup tinggi pada karyawan (Sudaryanto, 2001).

Selain gangguan–gangguan tersebut, stres juga dapat menimbulkan penyakit fisik yang diinduksi stres, misalnya penyakit jantung koroner, hipertensi, tukak lambung. Stres pekerjaan juga bisa menimbulkan kecelakaan kerja, terutama pada pekerja dengan tuntutan beban kerja tinggi, perhatian kurang, bekerja gilir (shift) pada hari pertama dan akhir minggu serta penyalahgunaan zat. Dari data, 90 persen kecelakaan kerja disebabkan tindakan kurang berhati-hati (unsafe act) dan 4 persen karena kondisi tidak aman (unsafe condition). Dari tindakan kurang berhati-hati, 80 persen akibat kondisi kesehatan jiwa yang kurang optimal saat terjadi kecelakaan (Meliawati, 2003).

Stres juga bisa menyebabkan terjadinya gangguan mental yang terus menerus. Gangguan mental yang dimaksud antara lain mudah gugup, mudah marah, tersinggung, tegang, kurang konsentrasi, dan apatis (Meliawati, 2003). Gejala stres dalam kerja ini sangat tidak menyenangkan bagi orang yang merasakannya dan bisa berbahaya bagi keutuhan kepribadiannya. Kelanjutan yang gawat adalah bila akhirnya merembet pada aspek kehidupan yang lain. Bagi laki-laki yang telah berumah tangga, stres di tempat kerja dapat berakibat terhadap kehidupan seksualnya.

Seks merupakan bagian dari kehidupan perkawinan itu sendiri. Seks merupakan kebutuhan sekaligus kewajiban bagi pasangan suami isteri. Salah satu faktor yang menentukan kebahagiaan rumah tangga adalah adanya kehidupan seks yang sehat. Perilaku seksual pasangan sangat mempengaruhi terciptanya hubungan yang sehat antara suami isteri.

Aspek psikologis suami dapat mempengaruhi perilaku seksualnya. Seorang suami yang mengalami stres di tempat kerja akan mempunyai kemungkinan mengalami disfungsi seksual yang disebabkan besarnya tekanan psikologis yang berasal dari pekerjaannya. Disfungsi seksual ini berupa impotensi (ketidakmampuan untuk ereksi), ejakulasi dini, bahkan dapat sampai pada taraf sama sekali tidak memiliki nafsu seks. Akan tetapi dapat pula stres kerja yang dialami oleh suami justru meningkatkan keinginan seksualnya.

Sebuah studi di Universitas British Columbia yang dilakukan oleh Quick (2004) meneliti hubungan stres dan gairah laki-laki. Rata-rata responden baru saja menyelesaikan perjalanan melintasi medan berat, seperti naik gunung, merambah hutan, dan sebagainya. Saat itulah mereka dipertemukan dengan seorang wanita, yang sebenarnya sering ditemuinya di tempat biasa. Ternyata gairah para pria tadi menjadi lebih besar di medan berat ketimbang di tempat pertemuan pertama, sehingga mereka melakukan hubungan seks.

Demikian juga dengan penelitian yang dilakukan oleh Lubis (2004), dari penelitian yang dilakukannya didapatkan kesimpulan bahwa secara fisik, stres justru bisa membuat gairah seksual meningkat. Hal ini terutama karena dipicu oleh meningkatnya adrenalin. Hal ini merupakan sebuah proses alamiah yang yang merupakan reaksi tubuh untuk menetralisir pengaruh stres tersebut.

Menurut Lubis (2004) saat stres, jantung berdetak lebih cepat, darah mengalir lebih kencang, membuat adrenalin meningkat. Naiknya adrenalin ini membuat gairah seksual melonjak. Kalau dimanfaatkan untuk melakukan hubungan seks yang sehat, dapat mengurangi kadar stres itu sendiri. Tidak hanya itu, orgasme setelah berhubungan seks membuat tubuh lebih rileks, karena pada saat mengalami orgasme tubuh melepaskan endorfin, zat yang fungsinya mirip obat penenang. Orgasme juga membuat orang mudah tertidur dan beristirahat total, salah satu cara terbaik untuk menghilangkan stres. Hal ini menjelaskan mengapa banyak suami jadi lebih bergairah di ranjang, setelah beberapa saat sebelumnya mengalami stres hebat.

Terkait dengan adanya fenomena seperti yang diuraikan di atas, sekarang ini di kota-kota besar yang sangat sibuk seperti di kota-kota metropolitan, ternyata terjadi kecenderungan karyawan yang mengalami stres kerja untuk melakukan hubungan seks dengan karyawan lain yang ditemuinya di tempat kerja. Karyawan lain tersebut bisa jadi suami atau isteri orang lain dan dia sendiri merupakan orang yang sudah berumah tangga, sehingga dapat dikatakan telah terjadi perselingkuhan. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Quick (2004) yang menyatakan bahwa seorang pria yang baru saja mengalami beban berat kemudian dipertemukan dengan wanita yang telah sering ditemuinya di tempat biasa (teman sekantor) akan merasakan gairah seks yang tidak pernah ditemuinya sebelumnya, dan akhirnya membuat mereka melakukan hubungan seks. Hubungan seks tersebut dapat berlangsung di kantor dalam waktu yang relatif cepat dan terjadi begitu saja atau dapat pula dilakukan di luar kantor sesuai dengan kesepakatan para pihak. Kadang-kadang hubungan seks tersebut juga dilakukan beberapa saat setelah karyawan yang bersangkutan melakukan makan siang bersama, sehingga dikenal istilah sex after lunch (http://www.vbulletin.com.).

Fenomena seperti yang diuraikan terbentuk karena irama kantor yang bergerak di lorong waktu yang ketat dan serba cepat oleh pekerjaan. Perilaku atau keinginan seksual karyawan tersebut mengadaptasikan diri dengan lingkungan. Karyawan yang sedang stres karena pekerjaannya berusaha mencari pelepasan dari stres yang dialaminya dengan melakukan hubungan seks di tempat kerja. Sehabis melakukan hubungan seks tersebut karyawan merasa lebih segar ketika menghadapi kembali pekerjaannya. Akan tetapi bukan tidak mungkin seks yang dilakukan karyawan untuk melepas stresnya bukan dilakukan dengan rekan sekantor, tetapi dengan wanita lain yang menjadi WIL-nya (Wanita Idaman Lain) atau PIL-nya (Pria Idaman Lain) atau dapat pula dilakukan dengan wanita penjaja seks komersial (PSK). Siapapun yang menjadi pasangan melakukan hubungan seksual, tetapi apabila hubungan seks tersebut dilakukan dengan pria atau wanita lain yang bukan suami atau isterinya, dan apapun alasan dilakukannya hubungan tersebut, baik karena dilandasi perasaan cinta ataupun hanya karena iseng, tetapi itu berarti telah terjadi perselingkuhan di dalam rumah tangga.

Dilihat dari aspek-aspek perilaku seksual pada pasangan yang melakukan hubungan seksual, menurut Pangkahila (2003) seksualitas mempunyai empat aspek, yaitu rekreasi, relasi, prokreasi, dan institusi. Pasangan yang melakukan hubungan seksual didasari oleh salah satu atau lebih dari aspek tersebut. Aspek rekreasi mengandung pengertian kesenangan, yang berhubungan dengan kenikmatan dan kepuasan seksual. Hubungan seksual karena alasan ini cenderung bersifat pemuasan hawa nafsu. Aspek relasi yang berarti kehidupan seksual berfungsi sebagai pengikat yang akan lebih mempererat hubungan batin pasangan yang melakukan hubungan seks. Aspek prokreasi artinya hubungan seksual dilakukan untuk menghasilkan keturunan atau anak sebagai generasi penerus. Aspek institusi, yaitu bahwa perilaku seksual dilakukan sebagai pemenuhan kewajiban dalam sebuah lembaga perkawinan.

Aspek hubungan seksual yang dilakukan untuk melepas stres dapat dikategorikan sebagai aspek rekreasi. Dengan demikian hubungan seks yang dilakukan tersebut semata-mata dilakukan untuk kesenangan yang berhubungan dengan kenikmatan dan kepuasan seksual.

Penelitian Budijanto dan Wijiartini (2001) dilakukan terhadap laki-laki beristeri yang melakukan pekerjaan relatif berat. Hasil penelitian menemukan 77,5% responden menyatakan pernah melakukan hubungan seksual di luar nikah. Alasan melakukan hubungan seksual di luar nikah yang dikemukakan, antara lain sebagai obat stres karena melakukan pekerjaan berat, butuh variasi, iseng, dan diajak teman. Apapun alasan dilakukannya hubungan seks oleh apra suami pekerja itu, akan tetapi dia telah melakukan perselingkuhan.

Menurut Poerwodarminto (1989), selingkuh dapat diartikan sebagai perbuatan tidak berterus terang ; tidak jujur ; menyembunyikan sesuatu untuk kepentingan sendiri ; curang ; serong. Lawson (1988) mengatakan bahwa pengertian selingkuh dapat dimulai dari pergi bersama seseorang yang bukan suami atau istrinya. Kedekatan yang kuat dengan orang lain baik secara fisik maupun emosional, sexual intercourse secara sukarela antara seseorang yang sudah menikah dengan orang lain yang bukan pasangannya. Dapat pula dikatakan bahwa perselingkuhan dalam perkawinan berarti suami atau istri memiliki hubungan di luar perkawinannya, di mana hubungan ini bukan sekedar hubungan seksual semata tetapi juga hubungan emosi yang serius sampai ke adegan yang cukup panas (Melly dalam Tiara, 1993). Rutherford (1999) mendefinisikan perselingkuhan sebagai ketidaksetiaan terhadap pasangan yang sudah terikat dalam perkawinan.

Berdasarkan beberapa pengertian selingkuh di atas dapat disimpulkan bahwa perselingkuhan adalah perbuatan tidak menghormati kepercayaan pasangan dan mengkhianati perkawinan dengan menjalin kedekatan baik secara fisik maupun secara emosional dengan orang lain yang bukan pasangannya. Suatu perbuatan dapat dikatakan selingkuh apabila pelakunya sudah terikat dalam perkawinan.

Berdasarkan uraian di atas dapat diduga bahwa stres kerja mempunyai hubungan dengan perilaku selingkuh pada suami. Dugaan ini perlu dibuktikan kebenarannya. Oleh karena itu dianggap perlu untuk dilakukan penelitian guna melihat kuat hubungan antara stres kerja dengan perilaku selingkuh pada suami.

B. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara stres kerja dengan perilaku selingkuh pada suami di Kota Yogyakarta.

Penelitian ini secara teoritis akan memberikan informasi tentang hubungan antara pengetahuan stres kerja dengan perilaku selingkuh suami dan memperkaya khasanah ilmu psikologi terutama psikologi klinis dan psikologi sosial. Apabila penelitian ini terbukti akan dapat dipergunakan sebagai masukan untuk memberikan informasi bagi pasangan suami isteri, konselor, dan psikolog untuk membantu pasangan suami isteri yang mengalami masalah selingkuh yang disebabkan stres kerja.


    Baca selengkapnya »

===================================================
Ingin memiliki Skripsi/Tesis versi lengkapnya? Hubungi Kami.
===================================================

Keterangan: Skripsi-Tesis yang ada di situs ini adalah contoh dari bagian dalam skripsi atau Tesis saja. Bagi yang berminat untuk memiliki versi lengkap dalam format Softcopy hubungi ke nomor HP. 081904051059 atau Telp.0274-7400200. Skripsi Rp300rb, Tesis Rp500rb. Layanan ini bersifat sebagai referensi dan bahan pembelajaran. Kami tidak mendukung plagiatisme.

Judul terkait:

Keyword:

pengertian selingkuh (17), penelitian psikologi tentang hubungan suami istri (16), selingkuh dengan istri karyawan sendiri (13)

Layanan Referensi & Konsultan Skripsi Tesis & Disertasi   No.HP.0819.0405.1059  Home: (0274) 7400200