Did You Know? Every time you lick a stamp, you're consuming 1/10 of a calorie.

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pembangunan kesehatan pada dasarnya menyangkut semua segi kehidupan baik fisik, lingkungan maupun sosial ekonomi. Dalam perkembangan pembangunan kesehatan selama ini telah terjadi perubahan orientasi baik tata nilai maupun pemikiran terutama upaya pencegahan penyakit. Masalah bidang kesehatan  yang dipengaruhi oleh politik, sosial budaya, pertahanan dan keamanan serta ilmu pengetahuan dan teknologi (Kusno, 1996).

Kesehatan lingkungan diselenggarakan untuk mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal, yang dapat dilakukan antara lain melalui peningkatan kesehatan lingkungan baik pada lingkungan tempatnya maupun terhadap bentuk atau wujudnya berupa fisik, kimia atau biologis termasuk perubahan perilaku. Lingkungan tempat kita hidup sangat mempengaruhi kualitas kehidupan. Kualitas lingkungan yang sehat adalah keadaan lingkungan yang bebas dari resiko yang membahayakan kesehatan dan keselamatan hidup manusia (Darmono, 2001).

Banyak faktor yang mempengaruhi kesehatan, baik kesehatan individu maupun kesehatan masyarakat. Menurut Notoatmodjo (1996) ada 4 faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat yaitu : keturunan, lingkungan, perilaku dan pelayanan kesehatan. Dari 4 faktor ini yang sangat dominan mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat adalah faktor lingkungan. Kesehatan lingkungan pada hakekatnya adalah suatu kondisi atau keadaan lingkungan yang optimum sehingga berpengaruh positif terhadap terwujudnya status kesehatan yang optimum pula. Kesehatan lingkungan meliputi tersedianya kebutuhan air yang cukup.

Air merupakan unsur yang sangat penting bagi kehidupan manusia sebab tidak saja karena tubuh manusia terdiri atas 75 % air dan 25 % bahan padat, tetapi juga karena air merupakan unsur penting dalam proses metabolisme. Tubuh orang dewasa sehat sekitar 55-60 % dari berat badan terdiri dari air, untuk anak-anak 65 % dan untuk bayi sekitar 80 %. Manusia akan lebih cepat meninggal karena kekurangan air daripada kekurangan makanan. Kekurangan air didalam tubuh sebesar 15 % dapat menyebabkan kematian dan sebaliknya kelebihan air dapat menyebabkan gangguan pada tubuh seperti lemas, kejang, bahkan koma (Batmanghelidj, 2007).

Ketersediaan air untuk suatu peruntukkan sangat tergantung pada kualitas sumber daya air, kualitas air yang baik akan mengakomodasikan kegiatan usaha atau pembangunan yang lebih beragam seperti pasokan air untuk kebutuhan domestik, pertanian, industri dan rekreasi. Kualitas air sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor yang berkaitan dengan aktivitas umum, terutama yang berasal dari kegiatan rumah tangga, industri, dan pertanian (Gintings, 1995).

Peningkatan kualitas air bersih yang dijadikan air minum, pengawasan mutlak dilakukan, sedangkan peningkatan kuantitas air bersih harus diawasi dengan baik pula. Penyediaan air bersih di suatu daerah diusahakan dapat mencukupi kebutuhan sesuai yang diperlukan. Penyediaan air di berbagai daerah semakin menimbulkan masalah. Kebutuhan air semakin meningkat sedangkan ketersediaan air terbatas, sehingga terjadi ketidakseimbangan antara ketersediaan air dan kebutuhan akan air untuk berbagai keperluan (Sutrisno, dkk. 2004).

Air menjadi masalah yang perlu mendapat perhatian yang seksama dan cermat. Untuk mendapatkan air yang baik, sesuai dengan standar tertentu, saat ini menjadi barang yang mahal karena air sudah banyak tercemar oleh bermacam-macam limbah dari hasil kegiatan manusia, baik limbah dari kegiatan rumah tangga, limbah dari kegiatan industri dan kegiatan-kegiatannya lainnya (Arya Wardhana, 2004).

Air limbah dapat mencemari air tanah dan dalam perjalanannya mengalami peristiwa fisik mekanik, kimia, maupun biologis. Peristiwa fisik mekanik yang terjadi karena adanya distribusi larutan yang mengalir melalui pori-pori tanah yang tidak seragam sehingga terjadi efek  penahan oleh  zat-zat  padat  dan pengendapan partikel-partikel padat karena gaya berat. Peristiwa kimia terjadi penyebaran molekuler yang  dihasilkan  dari  potensi  kimia.  Peristiwa  biologis  terjadi  pada bahan pencemar organik yang diuraikan oleh bakteri pembusuk yang dapat menghasilkan Nitrit (Gintings, 1995).

Keterangan: Bagi yang berminat untuk memiliki versi lengkap judul diatas dalam format Msword hubungi ke nomor:

HP. 0819 0405 1059/ 0812 2701 6999/ 0888 9119 100 atau Telp.0274-9553376. Skripsi Rp300rb, Tesis Rp500rb. Layanan ini bersifat sebagai referensi dan bahan pembelajaran. Kami tidak mendukung plagiatisme. Jika belum jelas, jangan ragu telepon kami :)

Pencemaran lingkungan terus saja berlanjut di mana-mana bahkan kini dampak pencemaran lingkungan dari hari ke hari semakin meluas. Pencemaran lingkungan kadang-kadang tampak jelas seperti pada timbunan sampah di pasar-pasar, pendangkalan sungai yang penuh kotoran, ataupun sesaknya napas karena asap knalpot ataupun cerobong asap pabrik (Tresna,2000).

Keterbatasan lahan yang tersedia menyebabkan terjadinya pencemaran air tanah oleh bahan-bahan organik yang berasal dari buangan rumah tangga. Pencemaran bahan-bahan organik terhadap air tanah dapat meningkatkan kadar amonium yang dapat mengikat oksigen, dan adanya mikroba Nitrosomonas mengoksidasi amonium dan oksigen menjadi nitrit dan selanjutnya akan menjadi nitrat oleh mikroba Nitrobacter (Sri Laksmi, dkk. 1995).

Ditinjau dari sudut kesehatan masyarakat, kondisi ini kurang menguntungkan  karena  sumur  gali  mudah  mengalami  pencemaran baik dari lingkungan itu sendiri maupun dari tempat pembuangan sampah yang telah mengalami kontaminan bahan organik yang dapat masuk kedalam tanah dan mengalir bersama air tanah, keadaan ini sangat berpotensi untuk meningkatkan konsentrasi Nitrit dalam air sumur gali (Tresna,2000).

Menurut Permenkes RI Nomor : 416/Menkes/Per/IX/1990 tentang syarat dan pengawasan kualitas air menyebutkan bahwa air bersih yang dipergunakan harus mencukupi dalam arti kuantitas untuk kebutuhan sehari-hari dan juga harus memenuhi persyaratan kualitas yang telah ditetapkan baik fisik, kimia, mikrobiologi dan radioaktif. Khusus untuk parameter Nitrit kadar maksimal yang diperbolehkan adalah : 1,0 mg/l.

Potensi terjadinya pencemaran oleh Nitrit pada air sumur gali yang terdapat di pasar Rejondani, Kelurahan Sariharjo Kecamatan Ngaglik Kabupaten Sleman tidak tertutup kemungkinan mendapat pengaruh dari sumber pencemar, hal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor antara lain :

  1. Jarak  sumur  gali  dengan  tempat  pembuangan  sampah  terlalu dekat (kurang dari 8 meter).
  2. Jarak sumur dengan septic tank/jamban terlalu dekat (kurang dari 11 meter).
  3. Kondisi konstruksi sumur gali yang kurang memenuhi syarat.
  4. Sistem  pembuangan  air  limbah  rumah  tangga  yang  kurang memadai.

Berdasarkan hasil survey, pedagang yang berjualan di pasar Rejondani umumnya menggunakan sumur gali sebagai sumber air bersih dan pada sisi lain jarak sumur dengan tempat pembuangan sampah kurang dari 8 meter, jarak septic tank kurang dari 10 meter. Keadaan ini akan mempengaruhi kualitas air sumur di pasar Rejondani itu sendiri sehingga tidak tertutup kemungkinan mengakibatkan pencemaran air sumur gali yang terdapat di pasar Rejondani yang diduga semakin hari semakin meningkat. Atas uraian di atas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang kadar Nitrit pada air sumur gali di pasar Rejondani Sariharjo Ngaglik Sleman.

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan tersebut, maka penulis merumuskan masalah yaitu : Apakah air sumur gali yang terdapat di pasar Rejondani Sariharjo Ngaglik Sleman sudah tercemar nitrit.

    Baca selengkapnya »

===================================================
Ingin memiliki Skripsi/Tesis versi lengkapnya? Hubungi Kami.
===================================================

Judul terkait:

Keyword:

pemeriksaan nitrit pada air sumur (1)

Layanan Referensi & Konsultan Skripsi Tesis & Disertasi   No.HP.0819.0405.1059  Home: (0274) 9553376