Did You Know? For every 'normal' webpage, there are five porn pages.

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Kebutuhan pangan di Indonesia terus meningkat sepanjang tahun seiring dengan pertumbuhan penduduk yang cepat. Beberapa hasil penelitian tahun 2006 menggambarkan Indonesia mengalami berbagai krisis bahan pangan, sehingga Indonesia dikategorikan sebagai negara miskin karena tingkat kemiskinan meningkat (Riady, 2004).

Kebutuhan akan konsumsi daging sapi di Indonesia setiap tahun selalu meningkat, sedangkan di sisi lain pemenuhan akan kebutuhan selalu minus, artinya jumlah permintaan lebih tinggi daripada peningkatan daging sapi sebagai konsumsi memproyeksikan bahwa untuk negara-negara yang sedang berkembang, kebutuhan terhadap bahan pangan hewani (daging, telur, susu serta produk olahannya) akan meningkat sangat cepat selama periode tahun 2005 – 2020 (Riady, 2004).

Indonesia termasuk negara sedang berkembang, dengan jumlah penduduk sekitar 212 juta jiwa, memungkinkan untuk membutuhkan pangan hewani yang cukup besar. Di sisi lain, peningkatan kesejahteraan masyarakat dan kesadaran masyarakat tentang pentingnya protein hewani juga ikut mendorong meningkatnya permintaan pangan hewani salah satunya daging sapi (Pramono , 2005).

Daging sapi memiliki nilai gizi yang cukup tinggi dan rasa yang enak sehingga banyak diminati oleh masyarakat, terutama dalam acara-acara tertentu ataupun menjadi pola konsumsi setiap hari.  Kebutuhan daging sapi sebagai pola konsumsi masyarakat telah menyebar secara meluas di Indonesia. Kondisi ini menunjukkan bahwa masyarakat membutuhkan daging sapi dalam setiap rumah tangga untuk kepentingan pemenuhan gizi. Pemenuhan gizi yang berasal dari daging sapi menyebabkan daging sapi sangat laris di pasaran dan konsumen terus meningkat (Pramono , 2005).

Produksi daging sapi menunjukkan kecenderungan peningkatan di berbagai tempat di Indonesia. Untuk Jawa Tengah sekitar 25% dari total produksi daging berasal dari daging sapi, dimana permintaannya meningkat 12,86% setiap tahun, sedangkan peningkatan produksi sapi hanya 3,29% (Pramono, 2005). Khusus di Kabupaten Kendal Jawa Tengah menurut Laporan Dinas Peternakan (2006) produksi daging sapi sampai bulan Oktober 2006 mencapai 455.727kg. Sedangkan produksi daging sapi di Provinsi Lampung menurut Laporan Dinas Peternakan Dan Kesehatan Hewan (2006) terjadi peningkatan permintaan daging sapi sebesar 6.848,16 ton. Ini menunjukkan bahwa permintaan daging sapi, baik  di Jawa Tengah  maupun provinsi lain di Indonesia terus meningkat dan sangat tinggi. Berbagai cara telah dikembangkan dalam memproses daging sapi, sehingga kebutuhan masyarakat terhadap daging sapi sebagai bahan makanan yang dapat bertahan lama, seperti abon sapi, emulsi daging, dendeng ataupun olahan lainnya semakin  meningkat (Daun, 1979).

Keterangan: Bagi yang berminat untuk memiliki versi lengkap judul diatas dalam format Msword hubungi ke nomor:

HP. 0819 0405 1059/ 0812 2701 6999/ 0888 9119 100 atau Telp.0274-9553376. Skripsi Rp300rb, Tesis Rp500rb. Layanan ini bersifat sebagai referensi dan bahan pembelajaran. Kami tidak mendukung plagiatisme. Jika belum jelas, jangan ragu telepon kami :)

Menurut Murtijo (1990) menjelaskan 3 cara pengawetan daging, yaitu : pendinginan, pengeringan, pengawetan dengan irradiasi. Usaha mempertahankan mutu dan daya simpan daging sapi sangat perlu dilakukan. Penambahan bahan pengawet pada produk-produk olahan daging sapi yang bertujuan untuk memperlambat perkembangbiakan mikroba pembusuk sehingga daging dapat bertahan lama. Pada pabrik makanan yang menghasilkan produk-produk peternakan menggunakan macam-macam bahan pengawet, salah satu contohnya adalah nitrit. Jika penggunaannya melebihi batas kadar yang ditentukan akan sangat berbahaya dan apabila dikonsumsi terus menerus juga akan menimbulkan efek yang tidak baik bagi kesehatan manusia karena dapat menyebabkan penyakit kanker. Oleh karena itu digunakan asap cair sebagai alternatif pengganti bahan pengawet tersebut. Kelebihan asap cair, selain berfungsi sebagai antimikroba, antioksidan juga dapat memberikan cita rasa asap, dan yang paling penting tidak berbahaya bagi kesehatan.

Menurut Elly H (2004), daging sapi yang dibeli langsung dari rumah pemotongan hewan didapatkan Angka Lempeng Total sebanyak 22.103 CFU/g masih memenuhi syarat dan setelah pendiaman 8 jam dalam suhu kamar didapatkan Angka Lempeng Total sebanyak 1,5.106 CFU/g sudah tidak memenuhi syarat.

Berdasarkan uji pendahuluan yang dilakukan pada tanggal 29 sampai dengan 31 Januari 2007, pemberian asap cair pada daging sapi yang disimpan selama 8 jam dengan konsentrasi asap cair 5 %, 15% dan 25% diperoleh penurunan Angka Lempeng Total.

Berdasarkan uraian latar belakang tersebut di atas maka dilakukan penelitian tentang pengaruh berbagai konsentrasi asap cair pada daging sapi  yang disimpan selama 8 jam dalam suhu kamar terhadap Angka Lempeng Total dan hasilnya disusun sebagai Karya Tulis Ilmiah untuk penyelesaian tugas akhir pendidikan.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut diatas, dirincikan beberapa masalah sebagai berikut :

  1. Adakah  pengaruh berbagai konsentrasi asap cair pada daging sapi yang disimpan selama 8 jam dalam suhu kamar terhadap Angka Lempeng Total?
  2. Berapa Angka Lempeng Total daging sapi segar sebelum diberi perlakuan?
  3. Berapa Angka Lempeng Total daging sapi setelah perlakuan perendaman asap cair dan disimpan selama 8 jam dalam suhu kamar?

    Baca selengkapnya »

===================================================
Ingin memiliki Skripsi/Tesis versi lengkapnya? Hubungi Kami.
===================================================

Judul terkait:

Layanan Referensi & Konsultan Skripsi Tesis & Disertasi   No.HP.0819.0405.1059  Home: (0274) 9553376