Did You Know? Orang-orang yang paling berbahagia tidak selalu memiliki hal-hal terbaik, mereka hanya berusaha menjadikan yang terbaik dari setiap hal yang hadir dalam hidupnya

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Sejak ratusan tahun yang lalu, nenek moyang kita telah memanfaatkan tanaman obat sebagai upaya penyembuhan  jauh sebelum obat-obatan modern yang sekarang ada. Ramuan tanaman obat yang kemudian  dikenal dengan sebutan herbal itu mujarab dalam mengobati berbagai penyakit. Merebaknya kecenderungan atau tren hidup kembali ke alam (back to natural) semakin menambah keingintahuan masyarakat tentang khasiat tanaman obat (Wijayakusuma,  1992).

Pemeriksaan awal terhadap tanaman yang hendak dimanfaatkan sebagai obat tradisional sangat penting dilakukan sebagai pendorong penelitian-penelitian selanjutnya dalam upaya memanfaatkan khasiat sebagai bahan baku obat tradisional. Upaya pengenalan, penelitian, pengujian, pengembangan khasiat dan keamanan suatu obat khususnya obat tradisional perlu lebih ditingkatkan (Wijayakusuma,  1992).

Tanaman berkhasiat sebagai obat telah banyak dipelajari secara ilmiah yang hasilnya mendukung asumsi dan bukti bahwa tanaman tersebut memiliki kandungan kimia yang bermanfaat bagi kesehatan manusia. Salah satu dari sekian banyak tanaman berkhasiat obat itu adalah rimpang jahe merah. Rimpang jahe merah mempunyai efek yang baik, mudah didapat di masyarakat, harganya  murah dan mudah cara penggunaannya.

Rimpang jahe merah (Zingiber officinale Roxb. Var Rubra) secara tradisional dipercaya mampu mengobati berbagai penyakit antara lain asma, penyumbatan pembuluh darah, kutu air, disentri basiler, kebotakan, bronchitis, antijamur, antioksidan, antiseptik, dan lain sebagainya (Mulyono, 2002).

Jahe merah memiliki sifat khas yang berupa aroma harum dan rasa pedas. Aroma harum jahe disebabkan oleh minyak atsiri, sedangkan oleoresinnya menyebabkan rasa pedas. Minyak atsiri dapat diperoleh atau diisolasi dengan destilasi uap dari rhizoma jahe kering. Ekstrak minyak jahe berbentuk cairan kental berwarna kehijauan sampai kuning, berbau harum tetapi tidak memiliki komponen pembentuk rasa pedas. Kandungan utama minyak atsiri dalam jahe kering sekitar 1-3 % dan 5-8% bahan resin, pati, dan getah. Komponen utama minyak atsiri jahe yang menyebabkan bau harum adalah zingiberen dan zingiberol (Mulyono, 2002).

Ema Viaza (1991) Jurusan Farmasi, FMIPA UI. Telah melakukan penelitian efek antijamur Jahe terhadap jamur Tricophyton mentagrophytes, Trichophyton rubrum, dan Microsporum canis. Dari hasil penelitian tersebut, ternyata jamur Tricophyton mentagrophytes, Trichophyton rubrum, dan Microsporum canis diperoleh kadar hambat minimum sebagai berikut: 6,25 mg/ml dan 12,5 mg/ml. Berdasarkan zona hambatan yang diperoleh, efek antijamur tertinggi diberikan terhadap jamur Tricophyton mentagrophytes, kemudian disusul Trichophyton rubrum, dan Microsporum canis (www.aagos.ristek.go.id).

Penyakit yang disebabkan oleh jamur masih sangat tinggi dinegara tropis seperti di Indonesia. Penyakit ini disebut juga mikosis yang artinya penyakit yang disebabkan oleh jamur. Ada banyak jenis penyakit jamur yang sering diderita oleh masyarakat dan yang paling popular yaitu panu, kadas, kurap dan kutu air. Ada banyak faktor yang menyebabkan jamur berkembang, antara lain yaitu imunitas atau kekebalan tubuh yang menurun, kebersihan yang kurang, kelembaban yang tinggi merupakan media yang baik untuk pertumbuhan jamur, dan kurang gizi. Penyakit jamur sering diidentikkan dengan masyarakat yang kurang mampu, namun penyakit jamur kulit saat ini juga sudah merambah kalangan kelas sosial menengah ke atas (www.tanyadokteranda.com).

Prevalensi penyakit karena infeksi jamur di Indonesia cukup tinggi, terutama penyakit kulit yang disebabkan oleh jamur golongan dermatofita. Di Denpasar, golongan penyakit ini menempati kurang lebih sama dengan di kota-kota besar, terutama di daerah pedalaman (Swastika, 2001).

Banyak jamur yang menyebabkan penyakit pada tumbuh-tumbuhan, tetapi hanya sekitar 100 dari beribu-ribu spesies ragi dan jamur yang dikenal menyebabkan penyakit pada manusia dan binatang. Infeksi mikotik manusia dikelompokkan dalam infeksi jamur superfisial (pada kuku, kulit dan rambut), subkutan dan profunda. Mikosis superfisial disebabkan oleh jamur yang menyerang jaringan keratin tetapi tidak menyerang jaringan yang lebih dalam, jamur yang sering menimbulkan mikosis superfisial adalah golongan dermatofita. Salah satu spesies yang termasuk di dalamnya adalah Trichophyton.

Keterangan: Bagi yang berminat untuk memiliki versi lengkap judul diatas dalam format Msword hubungi ke nomor:

HP. 0819 0405 1059/ 0812 2701 6999/ 0888 9119 100 atau Telp.0274-9553376. Skripsi Rp300rb, Tesis Rp500rb. Layanan ini bersifat sebagai referensi dan bahan pembelajaran. Kami tidak mendukung plagiatisme. Jika belum jelas, jangan ragu telepon kami :)

Seseorang yang menderita penyakit kulit seperti kurap apabila sampai terlambat mengobatinya maka akan mudah sekali menyebar ke daerah-daerah sekitarnya, sehingga akan lebih sulit untuk mengobatinya. Selain memerlukan waktu yang cukup lama juga akan menghabiskan biaya yang tidak sedikit, karena dari tahun ke tahun harga obat di pasaran semakin naik (Santosa, 2001). Pengobatan jamur sebenarnya mudah, apalagi banyak produk yang beredar di masyarakat dalam berbagai jenis seperti salep, krim ataupun bedak. Obat yang sering digunakan untuk mengobati penyakit yang disebabkan oleh jamur Trichophyton mentagrophytes yaitu griseofulvin.

Griseofulvin berasal dari Penicillium griseofulvum. Ditemukan pada tahun 1958 dan hingga kini masih dianggap sebagai salah satu obat antijamur pilihan bagi infeksi jamur superfisial. Griseofulvin bekerja pada inti sel jamur dengan menghambat mitosis dan tampak konfigurasi metafase abnormal. Bersifat fungistatis, efektif hanya terhadap golongan dermatofita yaitu Trichophyton, Microsporum dan Epidermophyton (Budimulja, 2001).

Penularan penyakit kulit dari penderita satu ke orang lain harus dihentikan. Cara hidup yang tidak sehat akan sangat potensial menularkan jenis penyakit tertentu, seperti kutu air, panu, kudis, kadas dan kurap. Mikroorganisme penyebab penyakit akan tetap hidup dan berada pada alat-alat yang tersentuh atau melekat pada kulit seseorang maka perlu diperhatikan dalam pemilihan obat-obatan, terutama antibiotik yang beredar di pasaran. Selain itu kebiasan hidup atau pola hidup yang selama ini kurang mendukung kesehatan pribadi dan masyarakat harus segera diubah (Santosa, 2001).

Rimpang jahe merah mengandung minyak atsiri yang diduga mempunyai efek sebagai antimikrobial dan antibakterial. Penelitian terdahulu telah membuktikan bahwa kandungan minyak atsiri dalam rimpang jahe merah dapat menghambat pertumbuhan bakteri, akan tetapi sampai saat ini belum banyak bukti ilmiah yang meneliti tentang efek antifungi dari rimpang jahe merah. Oleh karena itu, peneliti ingin mengetahui pengaruh ekstrak rimpang jahe merah terhadap pertumbuhan koloni Trichophyton mentagrophytes serta pengaruh konsentrasi ekstrak rimpang jahe merah terhadap pertumbuhan koloni Trichophyon mentagrophytes.

B. Rumusan Masalah

  1. Adakah pengaruh ekstrak rimpang jahe merah ( Zingiber officinale Roxb. Var Rubra ) dalam berbagai konsentrasi terhadap pertumbuhan koloni Trichophyon mentagrophytes ?
  2. Berapa besar pengaruh ekstrak rimpang jahe merah ( Zingiber officinale Roxb. Var Rubra ) terhadap pertumbuhan koloni Trychophytton mentagrophytes?

    Baca selengkapnya »

===================================================
Ingin memiliki Skripsi/Tesis versi lengkapnya? Hubungi Kami.
===================================================

Judul terkait:

Layanan Referensi & Konsultan Skripsi Tesis & Disertasi   No.HP.0819.0405.1059  Home: (0274) 9553376