Did You Know? A Boeing 747s wingspan is longer than the Wright brother's first flight.

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar balakang

Penyakit menular merupakan masalah kesehatan yang menjadi perhatian khusus bagi negara Indonesia. Diantaranya yang masih menjadi kendala adalah Penyakit Bersumber Nyamuk (PBN). PBN meliputi penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD), malaria, chikungunya, filariasis, dan japanese enchefalitis.  PBN dapat ditularkan oleh jenis nyamuk Aedes sp., Anopheles sp., Culex sp., dan Mansonia sp.

Pada awal tahun 2004 kita dikejutkan kembali dengan merebaknya penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD), dengan jumlah kasus yang cukup banyak.Hal ini mengakibatkan sejumlah rumah sakit menjadi kewalahan dalam menerima pasien DBD.Untuk mengatasinya pihak rumah sakit menambah tempat tidur di lorong-lorong rumah sakit serta merekrut tenaga medis dan paramedis.Merebaknya kembali kasus DBD ini menimbulkan reaksi dari berbagai kalangan. Sebagian menganggap hal ini terjadi karena kurangnya kesadaran masyarakat akan kebersihan lingkungan dan sebagian lagi menganggap karena pemerintah lambat dalam mengantisipasi dan merespon kasus ini.(Titte k,dkk, 2004). Penyakit demam berdarah disebabkan ole virus dengue dengan perantara nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus masih menjadi masalah utama di Indonesia, termasuk di Yogyakarta. Iklim tropis di Indonesia yang menciptakan lingkungan yang baik bagi nyamuk Aedes sp berkembang baik merupakan salah satu factor yang meningkatkan angka kejadian penyakit ini.(Silalahi, 2004).

Penyakit akibat myamuk Aedes aegypti di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta sendiri juga banyak dijumpai. Berikut ini adalah tabel rincian kasus penyakit bersumber nyamuk di setiap kota/kabupaten di Provinsi DIY:

Tabel 1.Kejadian Penyakit Demam Berdarah Dengue di Daerah Yogyakarta Tahun 2010

Kabupaten Jumlah penderita DBD
Kota Yogyakarta 284,01
Bantul 182,22
Kulon progo 101,69
sleman 65,09
Gunung kidul 131,56

Sumber : Resume Profil Kesehatan D.I.Yogyakarta Tahun 2010 (Dinkes Provinsi DIY, 2011)

Dengan lebih dari sepertiga penduduk dunia hidup di daerah berresiko untuk penularn virus dengue. Infeksi dengue merupakan penyebab utama penyakit dan kematian di daerah tropis dan sub tropis. Sebanyak 100 juta orang terinfeksi tahunan. Belum ada vaksin untuk mencegah infeksi virus dengue dan upaya perlindungan yang paling efektif adalah menghindari gigitan nyamuk.(Anonym, 2009). Pada tahun 2010, penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) di kota  Yogyakarta sebanyak 1354 penderita. Dari jumlah tersebut ada diantaranya yang meninggal dunia. (Dinkes,2010).

Usaha pencegahan yang dilakukan saat ini untuk mengurangi angka morbilitas DBD adalah dengan memutus rentai penularan pada salah satu atau lebih mata rantai penjamu, vector/agen, penyebar, dan linkungan.Pemutusan mata rantai penularan oleh penjamu biasanyadilakukan dengan mengobati pederita DBD yang merupakan sumber penularan sesegera mungkin. Pemutusan mata rantai penularan oleh nyamuk vector dan lingkungan dapat dilakukan dengan menghindari gigitan naymuk, mengurangi atau menghilangkan tempat sarang naymuk, dan paling efektif yaitu memdunuh jentik nyamuk dengan larvasida.(Suroso,1984).

Keterangan: Bagi yang berminat untuk memiliki versi lengkap judul diatas dalam format Msword hubungi ke nomor:

HP. 0819 0405 1059/ 0812 2701 6999/ 0888 9119 100 atau Telp.0274-9553376. Skripsi Rp300rb, Tesis Rp500rb. Layanan ini bersifat sebagai referensi dan bahan pembelajaran. Kami tidak mendukung plagiatisme. Jika belum jelas, jangan ragu telepon kami :)

Membunuh larva nyamuk dengan larvasida merupakan tindakan yang paling efektif, mudah, dan cukup aman untuk dilaksanakan.Penggunaan bahan kimia sebagai larvasida memiliki dampak negative dan sangat merugikan bagi manusia dan lingkungan.Hal itu mendorong dilakukannya penelitian tentang material tumbuhan yang mempunyai sifat toksik terhadap serangga. Penggunaan larvasida alami selain bias digunakan untuk membasmi serangga, juga ramah lingkungan. Di Indonesia sebenarnya sangat banyak terdapat  tumbuhan yang bias digunakan sebagai larvasida nabati. Maka perlu alternatif lainyang efektif, murah, mudah didapat dan dapat diterapkan pembasmian larva Aedes aegypti secara tradisional dengan pemanfaatan tumbuh-tumbuhan yang bersifat larvasida.

Ananas comosus (L) Merr mengandung saponin, polifenol.Senyawa tersebut dapat diguankan untuk membunuh larvaAedes aegypti, tetapi pemanfaatannya belum optiamal.Masyarakat hanya mengetahui Ananas comosus (L) Merrsebagai buah. (Wikipedia,2011).Saponin menurut sifatnya mampu membunuh larva Aedes aegypti dengan menyerang bagian syaraf pusat. Sedangkan senyawa polifenol dapat mengganggu bagian perut, menggangu pada proses pencernaanya.

Dengan penelitian ini, peneliti ingin membuktikan bahwa  Ananas comocus (L) Merr dapat digunakan sabagai larvasida.Uji pendahuluan telah dilakukan dengan menggunakan konsentrasi 20%, 40%, 60% dan 80% perasan nanas.Dan yang dapat membunuh larva Aedes aegypti lebih dari 50% yaitu pada konsentrasi 40%.

B. Rumusan masalah

  1. Adakah pengaruh konsentrasi perasan nanas (Ananas comocus (L)Merr) terhadap kematian larva Aedes aegypti?
  2. Berapa besar konsentrasi LC50 perasan nanas (Ananas comocus (L) Merr yang diperlukan terhadap mortalitas larva Aedes aegypti?

    Baca selengkapnya »

===================================================
Ingin memiliki Skripsi/Tesis versi lengkapnya? Hubungi Kami.
===================================================

Judul terkait:

Layanan Referensi & Konsultan Skripsi Tesis & Disertasi   No.HP.0819.0405.1059  Home: (0274) 9553376