Did You Know? Males, on average, think about sex every 7 seconds.
RSS Feeds:
Posts
Comments

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Penyakit parasit merupakan masalah kesehatan yang menjadi perhatian khusus di negara berkembang seperti Indonesia. Apalagi Indonesia merupakan daerah tropis sehingga penyakit parasit ini sering ditemukan. Parasit ini mempunyai banyak macam dengan jumlah yang banyak. Jika parasit tersebut menyerang hewan, tumbuhan, dan manusia maka bisa menyebabkan penyakit. Penularan penyakit dapat terjadi melalui permukaan tubuh; pernafasan; vektor perantara: dan makanan atau minuman yang telah tercemar oleh agen penyakit (Prabu, 1996). Penularan tersebut dapat disebabkan oleh hewan bersel satu (protozoa), cacing (Helminth), dan ada pula yang disebabkan oleh hewan beruas-ruas (Arthropoda) (Gandahusada, 2000).

Penyakit cacingan diderita hampir 220 juta penduduk Indonesia dan data WHO menyebutkan bahwa lebih dari satu milyar penduduk di dunia juga menderita penyakit cacingan (Judarwanto, 2010). Penyakit cacingan ini dapat mengenai anak balita atau anak-anak yang masih dalam masa pertumbuhan dan orang dewasa yang bekerja di daerah pertanian atau pertambangan. Penderita biasanya mengalami penurunan daya tahan tubuh dan metabolisme jaringan otak. Bahkan, dalam jangka panjang, penderita akan mengalami kelemahan fisik dan intelektualitas (Rastirania, 2008).

Nematoda usus mempunyai sejumlah spesies yang ditularkan melalui tanah atau “Soil transmitted helminths”, salah satu contohnya adalah Ascaris lumbricoides. Penyakit yang ditimbulkannya dinamakan askariasis (Gandahusada, 2000). Cacing ini terdapat di dalam tubuh manusia dibagian usus halus dan bersifat kosmopolit tersebar luas di seluruh dunia terutama di negara-negara yang keadaan sanitasinya buruk. Di Indonesia prevalensi askariasis tinggi, terutama terjadi pada anak-anak dengan frekuensi antara 60 sampai 90% (Onggowaluyo, 2002). Di daerah endemi dengan kejadian askariasis tinggi, terjadi penularan secara terus menerus. Menurut hasil survey Sub Direktorat Kemenkes RI tahun 2002 dan 2003 di 40 sekolah dasar di 10 provinsi menunjukkan prevalensi kecacingan yang berkisar antara 2,2% – 96,3% (Judarwanto, 2010).

Askariasis tersebar di daerah tropis atau sub tropis dengan kelembaban yang cukup tinggi. Kondisi seperti ini baik untuk perkembangan cacing Ascaris lumbricoides secara terus menerus. Selain itu, keadaan tanah dan iklim yang sesuai serta jumlah telur yang hidup sampai bentuk infektif dan masuk dalam tubuh hospes dapat menguntungkan cacing tersebut. Semakin banyak telur ditemukan di sumber kontaminasi (tanah, debu, sayuran, dan serangga), semakin tinggi derajat endemi di suatu daerah. Hal ini disebabkan karena kebiasaan hidup yang kurang sehat seperti tidak mencuci tangan sebelum makan, tidak menggunting kuku secara teratur, dan kebiasaan anak-anak yang buang air besar di sembarang tempat khususnya tanah karena kurangnya fasilitas jamban dan ketidaktahuan penduduk akan kebersihan (Gandahusada, 2000).

Pengobatan untuk penyakit cacing yang selama ini digunakan adalah obat-obat kimia yang memiliki efek samping tidak baik bagi kesehatan dan dapat menimbulkan ketergantungan. Obat-obat sintesis pilihan dalam menangani kasus kecacingan akibat nematoda usus adalah mebendazol, albendazol, pirantel pamoat, dan piperazin sitrat. Dalam perkembangan lebih lanjut, perlu dicari dan diteliti obat cacing lain sebagai terapi alternatif yang praktis, murah, mudah didapat untuk digunakan secara masal dan berkesinambungan dalam memberantas penyakit cacingan (Onggowaluyo, 2002). Selain itu obat tersebut mempunyai khasiat tinggi dan mempunyai efek samping yang minimal mungkin, harga terjangkau, mudah didapat, dan dapat diterima oleh masyarakat.

Tanaman obat yang tumbuh di Indonesia sebagai alternatif obat tradisional memang banyak. Demikian pula yang dapat digunakan sebagai obat cacing atau mempunyai daya antihelmintik. Penggunaan obat tradisional saat ini masih sangat diharapkan untuk mencegah dan mengobati penyakit cacing. Salah satu tanaman obat yang mempunyai daya antihelmintik adalah daun pepaya (Carica papaya L.). Senyawa kimia yang terdapat di dalam daun pepaya mempunyai peranan penting dalam mengobati penyakit cacingan adalah saponin dan papain. Mekanisme kerja saponin dapat menurunkan tegangan permukaan sehingga merusak membran sel dan protein sel (Widodo, 2005) dan dapat menghambat kerja enzim kholinesterase cacing sehingga terjadi ketegangan otot yang apabila terjadi ketegangan secara terus menerus akan menyebabkan kematian (Gunawan, 2004). Sedangkan mekanisme kerja enzim papain yaitu melemaskan cacing dengan cara merusak protein tubuh cacing yang ada pada saluran pencernaan sehingga suplai nutrisi pada cacing akan terhambat (Widodo, 2005).

Selain itu, daun pepaya ini dapat digunakan untuk membuat berbagai masakan dan sebagai obat tradisional yang mempunyai banyak khasiat seperti dapat mengobati batu ginjal, malaria, sakit keputihan, kekurangan asi, reumatik, malnutrisi, sakit perut saat haid, disentri, diare, antikanker, dan dapat menghilangkan jerawat. Selain itu, dapat digunakan sebagai pakan ternak dan menyusun ransum ayam (Thomas,  2004).

Berdasarkan latar belakang di atas dapat diketahui bahwa daun pepaya mempunyai banyak manfaat dan kandungan kimia yang bersifat antihelmintik. Untuk membuktikan hal tersebut perlu dilakukan penelitian tentang pengaruh pemberian perasan daun pepaya (Carica papaya L.) terhadap penurunan jumlah telur Ascaridia galli secara in vivo dengan menggunakan ayam kampung yang terinfeksi cacing Ascaridia galli sebagai hewan percobaan. Hal ini disebabkan karena ayam merupakan host dari cacing Ascaridia galli yang berada dalam genus yang sama dengan cacing Ascaris lumbricoides. Kedua cacing tersebut memiliki kesamaan dalam morfologi dan cara infeksi yaitu hospesnya terinfeksi dengan cara menelan telur cacing yang infektif sehingga dengan adanya kesamaan antara kedua cacing tersebut diharapkan dapat mewakili jika perasan daun pepaya diujikan secara in vivo pada infeksi cacing yang disebabkan oleh cacing Ascaris lumbricoides. Selain itu, ayam kampung lebih mudah terinfeksi cacing ini karena sistem pemeliharaan yang tradisional, makanan yang kurang baik, pengawasan atau pencegahan penyakit yang kurang, serta mutu genetik yang rendah (Kartasudjana, 2006). Ayam ini tidak menuntut perhatian khusus dari peternak selama dipelihara (Sarwono, 2005).

Berdasarkan uji pendahuluan secara in vitro dan penelitian dari Ratih Purwitaningrum (2009) perendaman air perasan daun pepaya (Carica papaya L.) konsentrasi 15% dapat mematikan cacing Ascaridia galli. Selain itu, dalam penelitian ini pemberian perasan daun pepaya (Carica papaya L.) konsentrasi 15% setiap 24 jam selama 7 hari. Hal ini berdasarkan piperazin sitrat pada manusia diekskresikan setiap 24 jam (Tjay, 2002). Lamanya waktu tersebut dijadikan acuan untuk menetapkan waktu pengamatan yang digunakan pada pemberian perasan daun pepaya (Carica papaya L.) kepada ayam kampung yang terinfeksi cacing Ascaridia galli.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka peneliti membuat rumusan masalah sebagai berikut: Apakah ada pengaruh pemberian perasan daun pepaya (Carica papaya L.) terhadap penurunan jumlah telur cacing Ascaridia galli secara in vivo?

    Baca selengkapnya »

===================================================
Ingin memiliki Skripsi/Tesis versi lengkapnya? Hubungi Kami.
===================================================

Keterangan: Skripsi-Tesis yang ada di situs ini adalah contoh dari bagian dalam skripsi atau Tesis saja. Bagi yang berminat untuk memiliki versi lengkap dalam format Softcopy hubungi ke nomor HP. 081904051059 atau Telp.0274-7400200. Skripsi Rp300rb, Tesis Rp500rb. Layanan ini bersifat sebagai referensi dan bahan pembelajaran. Kami tidak mendukung plagiatisme.

Judul terkait:

Layanan Pencarian Data dan Penyedia Referensi Skripsi Tesis   No.HP.0819.0405.1059  Home: (0274) 7400200