Did You Know? Donald Duck never wore pants but always wore a towel when he came out of the shower!
RSS Feeds:
Posts
Comments

BAB  I

PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang

Pada masa krisis ekonomi seperti sekarang ini, semakin banyak perusahaan yang tertarik untuk masuk dalam industri agrobisnis karena industri ini sangat bagus ditinjau dari komponen import yang digunakan tidak terlalu banyak dan demand dari produk untuk pasar luar negeri sangat baik. Bagi Indonesia sebagai negara agraris yang mempunyai tanah pertanian yang luas, kondisi ini merupakan peluang untuk meningkatkan komoditas ekspor hasil pertanian ke luar negeri.

Tanaman kelapa sawit merupakan salah satu sumber minyak nabati, pada saat ini telah menjadi komoditas pertanian utama dan unggulan di Indonesia, baik sebagai sumber pendapatan bagi jutaan keluarga petani, sebagai sumber devisa negara, penyedia lapangan kerja, maupun sebagai pemicu dan pemacu pertumbuhan sentra-sentra ekonomi baru, serta sebagai pendorong tumbuh dan berkembangnya industri hilir berbasis minyak kelapa sawit (CPO) di Indonesia.

Perkembangan kelapa sawit di Indonesia meningkat pesat sejak tahun 1978. Pada tahun 1968 luas areal kelapa sawit baru mencapai 120 ribu ha, pada tahun 1978 mencapai 250 ribu ha dan lebih lanjut meningkat pesat menjadi 2.975 ribu ha pada tahun 1999 atau meningkat sebesar hampir 25 kali lipat. Perkebunan kelapa sawit tersebut merupakan usaha perkebunan rakyat (32,7%), usaha perkebunan besar milik negara (16,6%) dan swasta (50,7%). Sebagian besar areal perkebunan kelapa sawit tersebut saat ini berada di Sumatera dan ke depan pengembangannya diarahkan ke Kawasan Indonesia Timur, khususnya ke pulau Kalimantan, Sulawesi dan Irian Jaya. Sebagai sumber devisa, pada tahun 2000 ekspor minyak sawit atau CPO mencapai 4.110 ribu ton dengan nilai US$ 1.087 juta dan minyak inti sawit atau PKO mencapai 578,8 ribu ton dengan nilai US$ 239 juta.

Sebelum tahun 1979, perkebunan kelapa sawit masih diusahakan hanya oleh perusahaan perkebunan besar milik negara dan swasta. Sejak dekade 1980, sejalan dengan kebijaksanaan pengembangan perekonomian rakyat, telah terjadi perkembangan yang sangat pesat dari usaha perkebunan kelapa sawit rakyat yang bermitra dengan perkebunan besar sebagaimana terlihat pada tabel I.1.

Dari tabel I.1 dapat diketahui bahwa perkembangan pesat perkebunan kelapa sawit terjadi sejak tahun 1979 yaitu pada perkebunan rakyat (PR) dan perkebunan besar swasta (PBS), sedangkan pada perkebunan besar negara perkembangannya relatif lebih rendah dibandingkan PR dan PBS.

Perkebunan kelapa sawit tersebut saat ini tersebar di 16 propinsi dari 32 propinsi di Indonesia. Areal terluas di pulau Sumatera (2.243.501 ha), khususnya di propinsi Sumatera Utara (614.617 ha) dan propinsi Riau (606.492 ha). Di pulau Kalimantan luas areal perkebunan kelapa sawit pada tahun 1999 adalah 562.901 ha. Di samping pulau Sumatera dan Kalimantan, perkebunan kelapa sawit terdapat di berbagai propinsi di pulau lainnya yaitu di propinsi Jawa Barat (21.502 ha), Sulawesi Selatan (80.934 ha), Sulawesi Tengah (36.427 ha) dan Irian Jaya (29.855 ha).

Tabel I.1. Perkembangan Areal dan Produksi Kelapa Sawit Indonesia Tahun 1968 – 2000.

Sumber: Ditjen Bina Produksi Perkebunan (2000).

TBM = Tanaman Belum Menghasilkan              TM = Tanaman Menghasilkan

Dari tabel I.1 juga dapat diketahui bahwa sejalan dengan perkembangan luas areal, perkembangan produksi minyak sawit juga berkembang pesat. Jika pada tahun 1968 produksi minyak sawit baru mencapai 182 ribu ton, pada tahun 1999 produksinya telah mencapai 5.989 ribu ton, atau meningkat sebesar hampir 32 kali lipat. Produksi tersebut sebesar 24,1% dihasilkan oleh perkebunan rakyat, 33,3% oleh perkebunan negara dan 42,6% oleh perkebunan besar swasta. Dimasa mendatang produksi tersebut akan terus meningkat karena masih luasnya Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) yaitu 1.055 ribu ha atau 35,5% dari total areal. Di pulau Sumatera yang saat ini merupakan sentra produksi kelapa sawit, produksi tertinggi terdapat di propinsi Sumatera Utara (2.394 ribu ton pada tahun 1999) dan di propinsi Riau (1.272 ribu ton).

Pertumbuhan pesat produksi kelapa sawit telah meningkatkan volume dan nilai ekspor Crude Palm Oil (CPO) dan Palm Kernel Oil (PKO) Indonesia. Devisa negara yang diperoleh dari ekspor produk kelapa sawit CPO dan PKO, mencapai US$ 1.326 juta pada tahun 2000. Volume dan nilai ekspor CPO dan PKO dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel I.2. Volume dan Nilai Ekspor CPO dan PKO Indonesia Tahun 1968 – 2000.

No Uraian 1968 1979 1996 1997 1998 1999 2000
I. Vol. (000 ton)
1. CPO 152 351 1.672 2.968 1.479 3.299 4.110
2. PKO 0 0 341 503 347 598 579
Jumlah 152 351 2.013 3.471 1.826 3.897 4.689
II. Nilai (juta US$)
1. CPO 20 204 825 1.446 745 1.114 1.087
2. PKO 0 0 235 294 196 348 239
Jumlah 20 204 1.060 1.740 941 1.462 1.326

Sumber: Badan Pusat Statistik Indonesia (2000).

Dari tabel I.2. dapat diketahui bahwa perkembangan volume CPO dan PKO cenderung meningkat sesuai dengan peningkatan produksi, sedangkan nilainya berfluktuasi sesuai dengan harga CPO dan PKO dunia.

Selain sebagai eksportir, Indonesia juga menjadi importir CPO dan PKO. Impor CPO dan PKO pada tahun 2000 mencapai 4 ribu ton dan 1 ribu ton, rincian impor CPO dan PKO Indonesia selama lima tahun terakhir dapat dilihat pada tabel I.3.

Tabel I.3. Volume dan Nilai Impor CPO dan PKO Indonesia Tahun 1996 – 2000.

No Uraian 1996 1997 1998 1999 2000
I. Volume (000 ton)
1. CPO 108 92 18 3 4
2. PKO 3 3 1 1 1
Jumlah 111 95 19 6 5
II. Nilai (juta US$)
1. CPO 61 55 8 2 4
2. PKO 3 3 1 1 1
Jumlah 64 58 9 3 5

Sumber: Badan Pusat Statistik Indonesia (2000).

Posisi per-kelapa sawitan Indonesia di dunia adalah ranking kedua setelah Malaysia dengan pangsa produksi CPO Indonesia hanya 29,2% dan Malaysia sebesar 51,5% dari total produksi CPO dunia. Sedangkan pangsa ekspor CPO Indonesia hanya 21,1% dan Malaysia sebesar 65,4% dari ekspor CPO dunia. Produksi dan ekspor CPO dunia dapat dilihat pada tabel I.4.

Dari pangsa ekspor yang telah ada ini Indonesia masih mempunyai kesempatan besar untuk memperluas pangsa pasarnya, karena permintaan akan minyak kelapa sawit semakin lama semakin tinggii, sedangkan Indonesia mempunyai potensi wilayah perkebunan yang masih dapat terus dikembangkan. Selama ini kawasan perkebunan yang telah dibuka sebagian besar meliputi kawasan pulau Sumatera dan Kalimantan, sedangkan pulau-pulau lainnya masih belum dibuka. Padahal Indonesia mempunyai banyak pulau lain yang juga dapat dijadikan areal perkebunan kelapa sawit.

Tabel I.4. Produksi dan Ekspor CPO Dunia, Tahun 1996-1999.

No Uraian 1996 1997 1998 1999 Pangsa(%)
1 2 3 4 5 6 7
I. Produksi (000 ton)
1. Malaysia 8.386 9.057 8.315 10.553 51,5
2. Indonesia 4.540 5.380 5.640 5.989 29,2
3. Nigeria 600 680 690 720 3,5
4. Columbia 410 441 422 500 2,4
5. Thailand 375 390 370 410 2,0
6. Lainnya 1.9723 1.886 1.243 2.304 11,4
Dunia 16.234 17.844 16.680 20.476 100
1 2 3 4 5 6 7
II. Ekspor (000 ton)
1. Malaysia 7.230 7.747 7.748 9.235 65,4
2. Indonesia 1.851 2.968 1.479 2.979 21,1
3. Singapura 289 298 241 270 1,9
4. Papua N.G. 267 275 235 264 1,9
5. Ivory Coast 99 73 83 105 0,7
6. Lainnya 999 1.013 1.537 1.264 9,0
Dunia 10.735 12.374 11.323 14.117 100

Sumber: Oil World, 2000.

Dalam era globalisasi yang ditandai dengan semakin mudahnya investor masuk tanpa kendala batas negara mengakibatkan persaingan antar perusahaan menjadi semakin ketat. Efisiensi dan efektivitas perusahaan dalam memanfaatkan sumber daya yang dimiliki sangat diperlukan untuk meningkatkan daya saing perusahaan tersebut. Upaya peningkatan efisiensi dan efektivitas perusahaan akan meningkatkan produktivitas perusahaan. Dari berbagai alternatif peningkatan produktivitas perusahaan, konsentrasi perusahaan pada umumnya lebih tertuju kepada efisiensi dan efektivitas pemanfaatan sumber daya mesin, metode dan material, sedangkan peningkatan produktivitas sumber daya manusia seringkali terabaikan.

Dalam kenyatannya, walaupun telah berkali-kali dilakukan perbaikan terhadap mesin, metode dan material, akan tetapi faktor manusia tetap merupakan kunci penentu bagi keberhasilan program atau upaya peningkatan produktivitas perusahaan. Pepatah kuno menyatakan ”The man behind the gun”, yang secara implisit menyatakan bahwa sebaik-baiknya suatu peralatan tergantung kepada manusia yang mengoperasikannya. Walaupun peralatan tersebut sudah sangat baik, jika tidak dioperasikan dengan baik oleh faktor manusia, maka hasilnya tetap tidak akan memuaskan. Oleh karenanya pengukuran produktivitas tenaga kerja merupakan upaya penting dalam menilai efisiensi pelaksanaan suatu program yang dicanangkan oleh perusahaan.

Hal yang diuraikan di atas juga berlaku bagi perkebunan kelapa sawit. Upaya peningkatan produksi total perkebunan dapat dilakukan dengan cara menambahkan faktor tenaga kerja atau dengan cara meningkatkan produktivitas tenaga kerja yang telah tersedia. Penambahan tenaga kerja merupakan cara yang paling mudah yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produktivitas, akan tetapi pertanyaannya apakah cara tersebut merupakan cara yang paling efisien? Karena dalam hal ini semakin banyak jumlah tenaga kerja yang dipekerjakan berarti semakin banyak ongkos tenaga kerja yang dikeluarkan. Hal itu otomatis meningkatkan ongkos produksi perusahaan yang dalam jangka panjang dapat menurunkan daya saing perusahaan.

Upaya lain peningkatan produksi sawit dapat ditempuh dengan meningkatkan produktivitas karyawan. Cara ini merupakan cara yang lebih efisien dibandingkan dengan penambahan jumlah tenaga kerja perusahaan. Peningkatan produktivitas dan efisiensi hanya mungkin dilaksanakan apabila segenap karyawan memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi, loyalitas dan dedikasi yang mantap kepada perusahaan (Heniasih, 2000). Produktivitas tenaga kerja akan tinggi apabila ia memiliki kemampuan yang baik dan motivasi yang tinggi, kedua hal ini sangat terkait erat satu dengan lainnya.

Robbin dalam bukunya “Organizational Behaviour” menjelaskan bahwa terdapat dua faktor yang dapat merangsang pencapaian produktivitas tenaga kerja yang tinggi, yaitu faktor motivasi dan kemampuan. Secara matematis dinyatakan sebagai berikut :

Produktivitas  = Motivasi  x  Kemampuan

Dalam hal ini motivasi yang paling kuat mendorong karyawan memiliki produktivitas yang tinggi adalah motivasi upah (Handoko, 1995). Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa apabila imbalan yang diperoleh karyawan memuaskan maka otomatis output yang dihasilkan karyawan akan tinggi. Dari uraian di atas jelas terlihat bahwa salah satu cara untuk meningkatkan produktivitas tenaga kerja adalah dengan memperbaiki sistem pengupahan yang dapat meningkatkan motivasi kerja karyawan. Salah satu sistem pengupahan yang dapat meningkatkan motivasi kerja adalah sistem insentif (bonus). Sistem ini dapat diterapkan baik secara langsung maupun tidak langsung dalm upaya peningkatan motivasi kerja tenaga kerja.

Kegiatan yang sangat penting pada perusahaan perkebunan kelapa sawit adalah pekerjaan potong buah yang merupakan rangkaian dari pekerjaan produksi perkebunan kelapa sawit. Demikian juga pada PT X yang merupakan sebuah perkebunan kelapa sawit terbesar di Propinsi Riau. Dalam produksi perkebunan kelapa sawit PT X sering kali dijumpai masalah tingkat produksi yang rendah maupun stagnan, hal ini disebabkan karena kurangnya produktivitas karyawan potong buah akibat kurangnya motivasi karyawan dalam melaksanakan tugasnya.

Jika dilihat dari sistem pengupahan yang ditentukan untuk karyawan potong buah, PT X menerapkan dua sistem pengupahan, yaitu sistem basis borong dan lebih borong. Sistem upah basis borong merupakan sistem pemberian upah yang diberikan kepada karyawan apabila karyawan telah menyelesaikan borongan yang ditetapkan perusahaan, sedangkan sistem upah lebih borong merupakan upah tambahan yang akan didapatkan karyawan yang mampu melebihi borongan yang ditetapkan perusahaan. Pada dasarnya sistem lebih borong merupakan upaya perusahaan dalam meningkatkan produktivitas karyawan potong buah.

Penulis tertarik untuk meneliti pengaruh sistem pemberian upah yang ditetapkan PT X terhadap produktivitas karyawan potong buah, yang selama ini belum pernah dilakukan perusahaan. Topik ini dipilih karena dari kenyataan yang ada di lapangan diketahui bahwa seringkali produktivitas karyawan potong buah tidak mengalami peningkatan atau mengalami stagnasi, padahal sistem pemberian upah lebih borong sudah lama diterapkan perusahaan yang diharapkan dapat meningkatkan produktivitas perusahaan. Adapun judul yang dipilih adalah Pengaruh Sistem Pemberian Upah dalam Meningkatkan Produktivitas Karyawan Potong Buah di PT X Kabupaten Pelalawan Riau.

B.  Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas dirumuskan masalah sebagai berikut :

  1. Adakah pengaruh sistem upah basis borong dan lebih borong terhadap produktivitas karyawan?
  2. Sistem upah manakah yang mempunyai pengaruh lebih dominan terhadap produktivitas karyawan, sistem upah basis borong atau lebih borong?

    Baca selengkapnya »

===================================================
Ingin memiliki Skripsi/Tesis versi lengkapnya? Hubungi Kami.
===================================================

Keterangan: Skripsi-Tesis yang ada di situs ini adalah contoh dari bagian dalam skripsi atau Tesis saja. Bagi yang berminat untuk memiliki versi lengkap dalam format Softcopy hubungi ke nomor HP. 081904051059 atau Telp.0274-7400200. Skripsi Rp300rb, Tesis Rp500rb. Layanan ini bersifat sebagai referensi dan bahan pembelajaran. Kami tidak mendukung plagiatisme.

Judul terkait:

Keyword:

sistem upah (69), PRODUKTIVITAS KARYAWAN (35), PENGARUH UPAH (21), sistem upah di indonesia (20), pengaruh produktivitas (14), meningkatkan produktivitas karyawan (10), produktivitas pegawai (10)

Layanan Pencarian Data dan Penyedia Referensi Skripsi Tesis   No.HP.0819.0405.1059  Home: (0274) 7400200