Did You Know? Tidak masalah seberapa sering engkau jatuh, yang terpenting adalah seberapa cepat engkau bangkit.

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Ayam kampung semakin pesat dibudidayakan dalam jangka waktu 10 tahun terakhir. Daging dan telur ayam kampung kini mulai digemari oleh masyarakat karena terbukti memiliki rasa daging dan telur yang lebih gurih, serta kadar kolesterol yang lebih rendah dari ayam ras, sehingga dinilai lebih aman dan sehat untuk dikonsumsi (Krista dan Harianto 2010). Produktivitas ayam kampung semakin ditingkatkan untuk memenuhi kebutuhan pasar yang semakin tinggi, namun usaha peningkatan tersebut banyak menemui permasalahan, salah satu diantaranya yaitu serangan penyakit (Rohaeni, dkk., 2004; Sapuri, 2006).

Infeksi parasit berupa cacing merupakan salah satu penyakit yang umum dan paling sering dijumpai pada semua jenis  ayam. Ayam kampung lebih berpotensi terserang infeksi parasit tersebut daripada jenis ayam yang lain karena biasa dipelihara secara tradisional atau semi-intensif dalam jangka waktu yang lama. Kematian secara langsung memang tidak selalu disebabkan oleh infeksi cacing yang menyerang pada ayam, namun menjadi masalah yang mengganggu dan meresahkan para peternak ayam (Sarwono, 2007).

Penyakit akibat infeksi cacing pada ayam perlu mendapatkan perhatian, pengawasan dan penanganan secara khusus oleh semua pihak, pasalnya kasus tersebut dapat menjadi suatu masalah yang mempengaruhi kualitas hasil produksi ternak (Sarwono, 2007). Hasil produksi usaha peternakan ayam dapat menjadi suatu sumber pemenuhan gizi masyarakat berupa protein hewani, dituntut memiliki kualitas yang baik, salah satunya ditentukan dengan hasil produk yang bebas dari infeksi cacing.

Fadilah dan Polana (2004) menulis dalam bukunya, Ascaridia galli merupakan cacing yang sering menyerang saluran cerna ayam selain Choanotaenia infundibulum dan Heterakis gallinarum, penyakit yang ditimbulkan disebut askaridiasis. Cacing berbentuk gelang ini menyerang usus halus bagian tengah, dan menimbulkan kerusakan yang parah selama bermigrasi pada fase jaringan dari stadium perkembangan larva (Tabbu, 2002).

Askaridiasis menunjukkan gejala klinis yang bermacam-macam, tergantung tingkat keparahan infeksi, jenis pakan, imunitas tubuh, dan kondisi lingkungan kandang yang kebersihannya kurang terjaga. Infeksi tersebut menunjukkan gejala yang tampak  berupa ayam menjadi kurus, lesu, pucat pada muka dan jengger, terkadang feses cair dan berlendir, serta pertumbuhan ayam akan terhambat karena kekurangan nutrisi. Penyumbatan dan radang pada usus serta perdarahan (enteritis hemorhagika) dapat  diakibatkan oleh migrasi cacing dalam jumlah banyak. Ayam muda umur 2 – 3 bulan, lebih sensitif terhadap serangan cacing tersebut. Tak jarang, kematian pada ayam dapat disebabkan oleh infeksi yang hebat (Soekardono dan Prastosoedjono (1991) dalam Widianto (2010)).

Penyakit askaridiasis dapat menyebabkan lesi yang bersifat parah sehingga aktivitas, kualitas dan kuantitas produksi ternak ayam dapat menurun secara drastis. Sistem pencernaan dan penyerapan nutrisi akan mengalami gangguan yang mengakibatkan berat badan berkurang dan terhambatnya pertumbuhan (Tabbu, 2002). Kondisi tersebut sangat meresahkan para peternak ayam karena dapat berakibat pada penurunan kualitas daging, telur dan produksi telur pada ayam petelur. Serangan cacing diketahui dapat menurunkan kualitas daging dan produksi telur sekitar 15 – 30%, apabila hal itu terjadi, peternak akan mengalami kerugian ekonomi yang cukup tinggi (Soekardono dan Prastosoedjono (1991) dalam Widianto (2010)).

Keterangan: Bagi yang berminat untuk memiliki versi lengkap judul diatas dalam format Msword hubungi ke nomor:

HP. 0819 0405 1059/ 0812 2701 6999/ 0888 9119 100 atau Telp.0274-9553376. Skripsi Rp300rb, Tesis Rp500rb. Layanan ini bersifat sebagai referensi dan bahan pembelajaran. Kami tidak mendukung plagiatisme. Jika belum jelas, jangan ragu telepon kami :)

Peternak telah melakukan berbagai macam upaya untuk meminimalisir kerugian akibat infeksi cacing pada. Pencegahan dan pengobatan dengan obat cacing sintetis atau antihelmintik dapat dilakukan, tetapi penggunaan dalam jangka waktu panjang ditakutkan dapat menimbulkan efek samping dan dapat meninggalkan residu obat pada produk ternak ayam (Yamin, dkk., 2010). Oleh karena itu, masyarakat cenderung beralih ke penggunaan obat tradisional sebagai alternatif obat-obatan sintetis.

Penggunaan obat tradisional memiliki beberapa kelebihan, yaitu harga terjangkau, mudah didapat, memiliki efek samping yang relatif lebih kecil dibandingkan dengan obat-obatan sintetis, dan kandungan kimia yang terdapat didalamnya menjadi dasar pengobatan kedokteran modern (Agromedia, 2003).

Mengkudu merupakan tumbuhan herbal yang telah diketahui berkhasiat dan banyak digunakan oleh masyarakat sebagai obat tradisional. Bagian tanaman mengkudu seperti buah, akar dan daun dapat digunakan dalam terapi herbal. Buah yang mendapat julukan “Si Noni” ini memiliki kandungan sejumlah zat yang bekerja sinergis menghasilkan efek yang baik bagi tubuh. Zat-zat yang terkandung didalam buah tersebut antara lain senyawa morindin, antrakuinon, scolopetin, zat kapur, beberapa senyawa aldehid, flavonoid, dan senyawa saponin. Senyawa saponin itulah yang diduga kuat berpotensi sebagai alternatif antihelmintik alami, dalam hal ini sebagai antihelmintik kasus askaridiasis pada ayam (Bangun dan Sarwono, 2002).

Penelitian mengenai pemanfaatan buah mengkudu sebagai antihelmintik terhadap cacing Ascaridia galli secara  in vivo belum pernah dibuktikan secara ilmiah. Uji pendahuluan dengan metode in vitro telah dilakukan oleh peneliti, hasil  yang diperoleh adalah kematian 100% cacing Ascaridia galli dalam perasan buah mengkudu konsentrasi 10% terjadi pada jam ke-12  Berdasarkan hal tersebut, peneliti berkeinginan untuk mengetahui pengaruh waktu pemberian perasan buah mengkudu (Morinda citrifolia L.) konsentrasi 10% terhadap penurunan telur cacing Ascaridia galli secara in vivo. Subyek penelitian yang digunakan dalam yaitu ayam kampung atau ayam Jawa/G. gallus domesticus (Kandly, 2010).

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang tersebut maka permasalahan penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut: Apakah terdapat pengaruh waktu pemberian perasan buah mengkudu (Morinda citrifolia L.) konsentrasi 10% terhadap penurunan jumlah telur cacing Ascaridia galli secara in vivo?

    Baca selengkapnya »

===================================================
Ingin memiliki Skripsi/Tesis versi lengkapnya? Hubungi Kami.
===================================================

Judul terkait:

Layanan Referensi & Konsultan Skripsi Tesis & Disertasi   No.HP.0819.0405.1059  Home: (0274) 9553376