Did You Know? You blink over 10,000,000 times a year!

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah

Peternakan  ayam  kampung  saat  ini  dijadikan  sebagai      salah  satu bisnis menguntungkan. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan permintaan daging  dan  telur ayam  kampung  setiap  tahun.  Jumlah  daging  ayam kampung yang diminta untuk wilayah Jabodetabek hanya terpenuhi sekitar 5,5% dari kebutuhan atau sekitar 280.000 ekor per hari, sedangkan pasokan ayam kampung diharapkan dapat mencapai 25% dari kebutuhan total daging ayam nasional pada 10 tahun yang akan datang (Galeriukm, 2010).

Jumlah  daging  ayam kampung  yang  diminta  tinggi karena  banyak kalangan  masyarakat  terutama  menengah  ke  atas  telah  jenuh  dengan daging ayam broiler (Anang, 2007), selain itu daging ayam kampung mempunyai nilai gizi yang baik, rasa lebih nikmat dibandingkan dengan daging ayam yang berasal dari jenis ayam pedaging maupun petelur, serat daging liat, kandungan protein tinggi dan rendah lemak (Bisnis UKM, 2010). Jumlah permintaan yang semakin tinggi ini tidak sebanding dengan pasokan daging ayam dikarenakan adanya berbagai hambatan serta kendala pada usaha   peternakan   ayam,   yaitu   harga  pakan  yang   terus   naik,   obat- obatan cukup mahal dan berbagai macam penyakit yang sering menyerang ternak (Suska, 2009).

Infeksi  cacing  merupakan  salah  satu  penyakit  umum  pada  ternak sehingga menimbulkan kerugian ekonomi yang cukup tinggi. Pengendalian cacing dengan menggunakan obat-obatan yang dipasarkan saat ini hasilnya belum optimal (Suska, 2009).

Askaridiasis merupakan penyakit infeksi cacing pada ayam yang disebabkan oleh cacing Ascaridia galli. Cacing ini menyerang usus halus bagian tengah dan menyebabkan keradangan dibagian usus disebut hemorrhagic. Parasit ini juga dapat  ditemukan dibagian albumen telur ayam yang  terinfeksi. Cacing tersebut biasanya menimbulkan kerusakan parah ketika  bermigrasi  pada  fase  jaringan  dari  stadium  perkembangan  larva. Ayam yang terinfeksi cacing ini akan mengalami gangguan proses digesti dan  penyerapan  nutrien  sehingga  pertumbuhannya  terhambat (Suska, 2009).

Pharmacotherapy merupakan    salah    satu    faktor    penting    dalam pengendalian penyakit hewan dan manusia, termasuk dalam pengendalian penyakit  kecacingan.   Antihelmintik   merupakan   satu   hal   yang   mutlak diberikan untuk mengeluarkan cacing parasit dari tubuh hewan, namun jika penggunaannya salah dalam pengendalian parasit cacing maka akan menyebabkan timbulnya populasi parasit resisten terhadap antihelmintik (Jackson & Coop, 2000).

Obat alami mulai dikembangkan dan dimanfaatkan penggunaannya oleh masyarakat dunia dan Indonesia. Daun sirih merupakan salah satu bahan yang digunakan  untuk   pengobatan  secara  tradisional (Wijayakusuma,1992).

Keterangan: Bagi yang berminat untuk memiliki versi lengkap judul diatas dalam format Msword hubungi ke nomor:

HP. 0819 0405 1059/ 0812 2701 6999/ 0888 9119 100 atau Telp.0274-9553376. Skripsi Rp300rb, Tesis Rp500rb. Layanan ini bersifat sebagai referensi dan bahan pembelajaran. Kami tidak mendukung plagiatisme. Jika belum jelas, jangan ragu telepon kami :)

Sirih merupakan tanaman asli Indonesia yang tumbuh merambat atau bersandar pada batang pohon lain. Tanaman sirih selama ini dikenal orang sebagai tanaman berdaun hijau secara turun temurun dimanfaatkan untuk mengatasi beragam keluhan seperti mimisan, mata merah, keputihan, membuat suara nyaring, dan banyak lagi. Khasiat daun sirih telah  teruji secara  klinis  dan  penelitian  tentang  tanaman  ini  terus  dikembangkan (Mursito dan Heru, 2002).

Sirih mengandung senyawa tanin dan flavonoid, dimana beberapa peneliti telah melaporkan aktivitas antihelmintik tanin dan flavonoid  terhadap beberapa spesies cacing terutama nematoda (Hoste dkk.,2006; Lee dkk.,2008),  akan  tetapi  belum  diketahui  besarnya  pengaruh  senyawa tersebut terhadap infeksi kecacingan pada ayam sehingga penggunaannya belum begitu optimal. Sedangkan antihelmintik komersial mempunyai beberapa kekurangan, antara lain harga yang relatif mahal, suplai terbatas, kewaspadaan terhadap residu obat pada makanan, dan keterbatasan daya beli masyarat.

Uji pendahuluan yang telah dilakukan secara in vitro dengan berbagai konsentrasi  rebusan  daun  sirih  hijau  (Piper  betle  L.)  memberikan  hasil bahwa konsentrasi  40%  dapat  menyebabkan  100%  kematian  cacing Ascaridia galli pada jam ke-16, sehingga digunakan konsentrasi 40% dalam penelitian ini. Berdasarkan hal tersebut, peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian tentang pengaruh waktu pemberian rebusan daun sirih hijau (Piper betle L.) konsentrasi 40% terhadap penurunan jumlah telur cacing Ascaridia galli secara in vivo.

B.   Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian dalam latar belakang di atas, maka permasalahan penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut: Apakah terdapat pengaruh waktu pemberian rebusan daun sirih hijau (Piper betle L.) konsentrasi 40% terhadap penurunan jumlah telur cacing  Ascaridia galli secara in vivo?

    Baca selengkapnya »

===================================================
Ingin memiliki Skripsi/Tesis versi lengkapnya? Hubungi Kami.
===================================================

Judul terkait:

Keyword:

kasiat daun sirih buat ayam broiler (1), khasiat daun sirih untuk ayam broiler (1), waktu pemberian air sereh ayam broiler (1)

Layanan Referensi & Konsultan Skripsi Tesis & Disertasi   No.HP.0819.0405.1059  Home: (0274) 9553376