Did You Know? Napoleon reportedly carried chocolate on all his military campaigns.

BAB I

PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang

Pembangunan ekonomi pada dasarnya dapat diartikan sebagai suatu proses di mana PDB riil atau pendapatan riil per kapita penduduk meningkat secara terus menerus melalui kenaikan produktivitas per kapita (Wiratmo, 1992:4). Pembangunan ekonomi yang dinyatakan dengan peningkatan output dan pendapatan riil per kapita itu memang  bukanlah satu-satunya sasaran kebijaksanaan di negara-negara sedang berkembang termasuk di Indonesia. Namun kebijaksanaan ekonomi dalam menaikan tingkat pertumbuhan output perlu dilakukan karena:

  1. pertumbuhan ekonomi dipandang sebagai suatu syarat yang diperlukan untuk perbaikan dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat;
  2. pertumbuhan ekonomi dipandang sebagai prasyarat untuk mencapai tujuan pembangunan yang lainya seperti penyediaan sarana dan prasarana sosial.

Pembangunan ekonomi daerah adalah suatu proses di mana pemerintahan daerah dan masyarakatnya mengelola sumber daya yang ada dan membentuk suatu pola kemitraan antara pemerintah daerah dan sektor swasta untuk menciptakan suatu lapangan kerja baru dalam merangsang perkembangan pertumbuhan ekonomi dalam wilayah tersebut. Setiap usaha pembangunan ekonomi daerah mempunyai tujuan utama untuk meningkatkan jumlah dan jenis peluang kerja untuk masyarakat (Arsyad, 1999:108-109).

Upaya pencapaian kemandirian daerah dan pemerataan pertumbuhan di seluruh wilayah dalam realitasnya dipengaruhi banyak faktor yang saling terjalin, berkaitan dan tumpang tindih sehingga sasaran pembangunan daerah seringkali tidak tercapai. Salah satunya adalah tumpang tindih dalam pembangunan perumahan dengan pembangunan di bidang pertanian.

Perkembangan kegiatan ekonomi dan pertumbuhan penduduk yang terus meningkat, diikuti oleh kebutuhan ruang/lahan terutama utuk memenuhi kebutuhan perumahan sebagai salah satu kebutuhan dasar manusia. Dampak dari ketersediaan lahan yang terbatas membuat terjadi kecenderungan perkembangan kota bergeser ke kawasan pinggiran kota (sub urban) dengan lahan yang masih luas dan harga yang lebih murah bila dibandingkan dengan harga tanah di daerah urban. Dampak dari perkembangan kota tersebut menyebabkan semakin berkurangnya lahan pertanian pada daerah pinggiran, sehingga dapat mengancam kelangsungan ketersediaan bahan pangan. Melihat kejadian tersebut perlu adanya upaya mempertahankan potensi pertanian yang ada di daerah pinggiran (penyangga) dengan tanpa menghalangi laju perkembangannya.

Akibat dari lahan pertanian yang semakin menyusut, pertanian Indonesia dewasa ini sudah menderita ketergantungan yang sangat parah terhadap ilmu dan teknologi modern, khususnya pada subsektor pertanian tanaman pangan. Untuk mencukupi kebutuhan pangan dari lahan yang semakin sempit, membuat lahan pertanian dipacu untuk bisa berproduksi sepanjang tahun, tanpa memberi kesempatan bagi lahan untuk mengembalikan kesuburannya setelah dipergunakan untuk bercocok tanam.

Lahan sawah beririgasi teknis tak henti-hentinya ditanami padi, padi dan padi lagi sepanjang tahun. Setiap tahun hampir seluruh biomasa padi diangkut keluar dari lahan persawahan. Lahan sawah semakin kurus, sehingga semakin tinggi kebutuhan pupuk yang harus dimasukkan ke dalamnya untuk menjaga stamina dan kesuburan lahan (http://clubbing.kapanlagi.com/-showpost.php?p=381728&postcount=35).

Akibatnya, untuk mengembalikan kesuburan lahan, petani sangat tergantung kepada pupuk. Semua ini dilakukan atas nama intensifikasi pertanian. Akan tetapi intensifikasi pertanian yang tidak memperhatikan kemampuan lahan, membuat lahan pertanian semakin rusak, dan produktivitas bukan meningkat, tetapi menurun.

Ketergantungan pada pupuk yang sangat tinggi membuat kurangnya pasokan pupuk urea bagi petani yang sering terjadi akhir-akhir ini, segera membawa kekhawatiran nasional akan kelangkaan pangan. Ini menunjukkan bahwa dampak penyusutan lahan pertanian telah membawa akibat buruk bagi petani dan nasib pertanian itu sendiri.

Padahal ketika lahan pertanian masih luas, petani dengan kearifan lokal yang telah menjadi budaya pertanian, mampu membuat lahan memiliki kemampuan memulihkan dirinya sendiri dengan cara menggilir tanaman yang ditanam. Setelah menanam padi, petani menanam palawija jenis kacang tanah yang mampu mengikat Hidrogen yang tinggi, sehingga bisa memperbaiki struktur tanah dan mengembalikan kesuburan tanah secara alami, setelah dipergunakan untuk tanaman padi. Setelah kesuburan tanah pulih kembali, petani bisa menanam padi kembali tanpa terlalu tergantung kepada pupuk, karena tanah sudah pulih secara alami.

Di lain pihak, pola tanam terus-menerus tanpa memperhatikan musim tanam, membuat tanaman yang dibudayakan petani menjadi rentan terhadap hama. Padahal biasanya petani menggunakan perhitungan pranata mangsa (musim tanam) ketika akan bercocok tanam jenis tanaman tertentu. Menurut budaya pertanian asli (indigenous knowledge) ini, ada masa-masa dimana musim tertentu hama akan banyak berkeliaran untuk jenis tanaman tertentu, sehingga petani pada saat itu akan menanam tanaman yang tidak disukai hama tersebut, sehingga tanaman petani bebas dari serangan hama. Akan tetapi sekarang ini perhitungan pranata mangsa itu menjadi lenyap dari memori petani. Hal ini disebabkan adanya lahan yang terbatas, membuat petani dituntut untuk memenuhi kebutuhan pangan dengan menanam tanaman tanpa memperhatikan pranata mangsa. Akibatnya petani menjadi tergantung dengan obat anti hama (insektisida) yang mengakibatkan tanaman yang diproduksi dari lahan tersebut mengandung juga obat anti hama yang dipergunakan petani. Produk pertanian yang tercemar insektisida ini, apabila dimakan manusia akan tertimbun terus-menerus di dalam tubuh, karena sifatnya tidak dapat diuraikan. Dalam jangka panjang, zat ini dapat mengganggu kesehatan manusia.

Di sisi lain, ketergantungan terhadap pupuk dan obat anti hama, membuat pertanian telah kehilangan wajah kemanusiaannya. Petani menjadi objek permainan para pebisnis yang menguasai pupuk dan obat anti hama. Ketika memasuki masa tanam, pupuk dan obat anti hama ditimbun dan tidak diperjualbelikan dengan jumlah yang cukup, sehingga harga menjadi naik. Akan tetapi karena petani sudah sangat tergantung kepada pupuk dan obat-obatan itu, harga mahal pun tetap dibeli. Akibatnya, biaya pertanian menjadi meningkat. Akan tetapi ketika musim panen tiba, hasil pertanian hanya laku dengan harga yang rendah, hal ini juga karena permainan para pebisnis besar. Akhirnya, petani semakin sulit mendapatkan pendapatan yang layak, sehingga  menjadi petani sama dengan siap menjadi sengsara.

Hal ini semua merupakan rantai dari berkurangnya lahan pertanian yang telah dikonversi menjadi lahan pemukiman atau lainnya. Sedang sesungguhnya pertanian tradisional sesungguhnya membawa greget sosial dan juga keindahan tersendiri. Oleh karena itulah, sebagai bangsa yang mempunyai budaya pertanian yang tangguh, hendaknya bangsa Indonesia kembali kepada budaya pertanian asli yang sudah teruji ketahanannya. Akan tetapi untuk itu, lahan pertanian harus diperluas. Artinya, ekstensifikasi pertanian menjadi jawaban dari kenyataan ini.

Permasalahan di atas dijawab dengan konsep agropolitan. Friedmann & Mike Douglass merupakan tokoh yang mengembangkan konsep agropolitan dengan pendekatan baru yang lebih berlandaskan basic needs dan focus pembangunan ada di pedesaan. Agropolitan adalah kota pertanian (agro = pertanian, politan = kota) atau kota di daerah lahan pertanian. Agropolitan adalah kota pertanian yang tumbuh dan berkembang karena berjalannya sistem dan usaha agribisnis serta mampu melayani, mendorong kegiatan pembangunan pertanian (agrobisnis) di wilayah sekitarnya.

Konsep Agropolitan dikembangkan sebagai siasat baru pembangunan daerah karena konsep Growth Pole yang sudah diaplikasikan sejak tahun 1970-an dinilai justru memperlebar ketimpangan antara kota dan desa. Efek penjalaran pertumbuhan (spread effect) yang diperkirakan terjadi oleh Myrdal dan Efek Penetesan (trickling down effect) yang diramalkan oleh Hirshman ternyata jauh lebih kecil dibandingkan Back Wash Effect dan Polarization yang mengakibatkan aliran ke pusat jauh lebih besar daripada aliran ke desa. Akibatnya dikotomi kota dan desa justru semakin lebar, perbedaan antara si kaya dan si miskin juga semakin lebar. Terjadi perpindahan penduduk secara besar-besaran dari desa ke kota-kota besar (urbanisasi).

Secara teoretis pertumbuhan wilayah dimungkinkan apabila terjadi pertumbuhan modal yang bertumpu pada pengembangan sumberdaya manusia, sumberdaya modal dan sumberdaya lingkungan. Selanjutnya pengembangan sumberdaya, tersebut akan menimbulkan arus barang sebagai salah satu gejala pertumbuhan ekonomi.

Di Kota Jayapura, kebijakan ekstensifikasi pertanian ini tampaknya menjadi pilihan logis dalam kaitan dengan  pengembangan wilayah pinggiran sebagai kota agropolitan berbasis budaya guna mendukung pusat Kota Jayapura. Budaya yang dimaksud di sini adalah budaya pertanian masyarakat yang sudah menjadi bagian dari kehidupan petani di Kota Jayapura. Hal ini sejalan dengan uraian di atas, bahwa budaya pertanian lokal mampu diandalkan untuk mendukung pertanian yang berkesinambungan (sustainable) dengan biaya murah dan ramah lingkungan. Apalagi mengingat sebagian Kota Jayapura masih mempunyai potensi untuk dikembangkan sebagai lahan pertanian, mengingat wilayah yang belum dikembangkan masih luas, sebagaimana disajikan dalam tabel di bawah ini.

Tabel 1

Keterangan: Bagi yang berminat untuk memiliki versi lengkap judul diatas dalam format Msword hubungi ke nomor:

HP. 0819 0405 1059/ 0812 2701 6999/ 0888 9119 100 atau Telp.0274-9553376. Skripsi Rp300rb, Tesis Rp500rb. Layanan ini bersifat sebagai referensi dan bahan pembelajaran. Kami tidak mendukung plagiatisme. Jika belum jelas, jangan ragu telepon kami :)

Luas Pemanfaatan Lahan di Kota Jayapura Tahun 2007

Pemanfaatan

Lahan

Penggunaan Lahan

Luas Areal

(Ha)

Pemanfaatan (%)

Kawasan Budidaya

 

 

 

 

 

Kawasan Lindung

Pemukiman

Wilayah Produksi

Alang-alang

Rawa/Pasang Surut

Danau

Jumlah Kawasan Budidaya

Hutan yang belum difungsikan

Hutan Lindung Peg. Djar

Hutan Lindung Abepura

Cagar Alam Cycloop

Taman Wisata Tel. Yotefa

Jumlah Kawasan Lindung

 

   8.537,82

3.082,00

1.875,00

75,00

650,00

14.219,821

68.891,20

2.246,00

561,20

6.431,78

1.650,00

79.780,18

      9,0

3,28

1,99

0,09

0,69

15,13

73,29

2,39

0,60

6,84

1,76

84,87

Jumlah Total

   94.000      100

Sumber: RUTR, Studi GLD dan Analisis, 2009.

Berdasarkan data dalam tabel di atas, dapat diketahui bahwa masih ada wilayah hutan yang masih belum difungsikan yang bisa digunakan untuk ekstensifikasi lahan pertanian. Selain itu, kawasan alang-alang, bisa dirubah menjadi lahan produktif dengan cara-cara tertentu. Pemanfaatan lahan-lahan ini diharapkan dapat menambah produksi pertanian yang dapat mendukung pusat Kota Jayapura.

Kebijakan ekstensifikasi pertanian, diharapkan dapat memenuhi kebutuhan konsumsi tanaman pangan lokal di Kota Jayapura. Dari data yang didapatkan dari Dinas Pertanian Kota Jayapura, diketahui perkembangan konsumsi pangan lokal di Kota Jayapura adalah sebagaimana disajikan tabel berikut.

Tabel 2

Perkembangan Konsumsi Pangan Lokal/Setempat (Ton)

No

Jenis Komoditi

Tahun Anggaran

Perkembangan

%

2006

2007

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

Beras

Ubi Kayu

Ubi Jalar

Jagung

Kedelai

Sayuran

Kacang Tanah

Kacang Hijau

Buah-Buahan

4008

1,011

616

2031

50,04

3,576

194

39

1779

530

12

100

11

2

51

8

2

8000

0,132

11,869

0,162

0,005

0,04

14,262

0,041

0,051

4,497

Jumlah

8721,627

8716

31,061

Rata-rata

969,07

968,444

3,451

Sumber Data : Dinas Pertanian Kota Jayapura, 2009.

Berdasarkan data yang disajikan dalam tabel 2 dapat diketahui bahwa rata-rata perkembangan konsumsi pangan lokal di Kota Jayapura tahun 2006-2007 adalah 3,451%. Untuk menunjang kebutuhan konsumsi lokal ini, pemerintah Kota Jayapura sangat tepat jika menempuh kebijakan ekstensifikasi pertanian, karena selain masih mempunyai potensi lahan yang luas, pilihan ini juga didukung oleh keadaan penduduk setempat, yang mayoritas adalah petani.

Berdasarkan penelitian lanjutan yang dilakukan di lapangan, diketahui bahwa sejak tahun 2006 dan 2007, pemerintah Kota Jayapura sudah menempuh kebijakan ekstensifikasi pertanian. Hal ini sebagaimana disajikan dalam tabel berikut.

Tabel 3

Perkembangan Luas Ekstensifikasi Lahan Tanaman Pangan (Ha)

No

Jenis Komoditi

Tahun Anggaran

Perkembangan

%

2006

2007

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

Beras

Ubi Kayu

Ubi Jalar

Jagung

Kedelai

Sayuran

Kacang Tanah

Kacang Hijau

Buah-Buahan

4008

1,011

616

2031

50,04

3,576

194

39

1779

0

193

105

150

25

55

30

0

0

0

190,9

0,17

0,07

0,5

15,38

0,15

0

0

Jumlah

8721,627

558

207,179

Rata-rata

969,07

62

23,02

Sumber Data : Dinas Pertanian Kota Jayapura, 2009.

Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui bahwa rata-rata ekstensifikasi pertanian yang dilakukan pemerintah Kota Jayapura selama tahun 2006-2007 mengalami perkembangan sebesar 20,02% per tahun. Adanya kebijakan ekstensifikasi tanaman pangan yang dilakukan pemerintah Kota Jayapura dilakukan untuk meningkatkan produktivitas pertanian tanaman pangan, guna mendukung ketahanan pangan dan mendukung pusat Kota Jayapura.

Dalam hal ini penulis tertarik untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh yang signifikan dari ekstensifikasi lahan pertanian yang dilakukan pemerintah terhadap produktivitas tanaman pangan di Kota Jayapura. Untuk itu penelitian ini dilakukan.

B.  Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian di atas maka yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

  1. Bagaimana hubungan ekstensifikasi lahan dengan produktivitas lahan?
  2. Bagaimana pengaruh ekstensifikasi lahan terhadap produktivitas lahan?
  3. Apakah kebijakan ekstensifikasi pertanian sudah tepat dilakukan guna  pengembangan wilayah pinggiran sebagai Kota Agropolitan berbasis budaya guna mendukung Pusat Kota Jayapura?

    Baca selengkapnya »

===================================================
Ingin memiliki Skripsi/Tesis versi lengkapnya? Hubungi Kami.
===================================================

Judul terkait:

    Layanan Referensi & Konsultan Skripsi Tesis & Disertasi   No.HP.0819.0405.1059  Home: (0274) 9553376