Did You Know? Americans on the average eat 18 acres of pizza every day.... each
RSS Feeds:
Posts
Comments

BAB I

PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang Masalah

Bangsa Indonesia dijajah oleh bangsa asing mulai tahun 1511 sampai dengan 1945 yaitu bangsa Portugis, Belanda, Inggris dan Jepang. Selanjutnya tiga dasawarsa abad XX menjadi saksi pencanangan perubahan yang baru. Rakyat Indonesia mulai sadar untuk memperjuangkan kemerdekaannya dari penjajah (M.C. Ricklefs, 2005: 341).

Senantiasa merupakan kebanggaan nasional bahwa kemerdekaan Indonesia diperoleh melalui suatu perjuangan heroik yang telah menempa bangsa ini di dalam api perjuangan. Tidak perlu dipertanyakan lagi bahwa kemerdekaan Indonesia adalah perjuangan bangsa Indonesia sendiri dan bukan hadiah dari Jepang ataupun Belanda. Peristiwa-peristiwa yang terjadi pada tahun 1945-1949 merupakan revolusi perjuangan kemerdekaan, yang dipandang sebagai manifestasi tertinggi dari tekad nasional, lambang kemandirian suatu bangsa, dan bagi mereka yang terlibat di dalamnya, sebagai suatu pengalaman emosional yang luar biasa dengan rakyat secara keseluruhan berpartisipasi langsung (J.D. Legge, 1993: 1-2).

Untuk sampai pada pergerakan perjuangan kemerdekaan, Indonesia telah mengalami apa yang disebut masa pertumbuhan nasionalisme, yaitu suatu kurun waktu dalam sejarahnya yang menyaksikan pertumbuhan kesadaran berbangsa serta gerakan nasionalis untuk memperjuangkan kemerdekaannya. Perkembangan nasionalisme Indonesia merupakan reaksi terhadap imperialisme dan kolonialisme. Masa ini adalah pada abad ke-19 dan bagian pertama abad ke-20. Sejak tumbuhnya nasionalisme itu, bangsa Indonesia mulai memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dengan dipelopori oleh para pemuda Indonesia (Sartono Kartodirdjo, 1999: ix).

Selama penjajahan peristiwa yang menonjol adalah tahun 1908 yang dikenal sebagai Gerakan Kebangkitan Nasional Pertama, yaitu lahirnya organisasi pergerakan Budi Utomo yang dipelopori oleh Dr. Sutomo dan Dr. Wahidin Sudirohusodo, dan 20 tahun kemudian pada tanggal 28 Oktober 1928 ditandai dengan lahirnya Sumpah Pemuda sebagai titik awal dari kesadaran masyarakat untuk berbangsa Indonesia, dimana putra putri bangsa Indonesia berikrar : “berbangsa satu, bertanah air satu, dan berbahasa satu: Indonesia”. Pernyataan ikrar ini mempunyai nilai tujuan yang sangat strategis di masa depan yaitu merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia (http://shadowisimmortality.blogspot.com diakses pada tanggal 2 Juni 2010).

Sumpah Pemuda dinyatakan dalam Kongres Pemuda Indonesia yang kedua yang diselenggarakan pada tanggal 26 – 28 Oktober 1928 di Jakarta (G. Moedjanto, 1989: 56). Motor penggerak gerakan pemuda saat itu antara lain adalah organisasi pemuda PPPKI (Permufakatan Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia). PPPKI terdiri dari: Budi Utomo, Sarekat Islam, Sumatra Bond, Surabaya Studieclub, Kaum Betawi, Jong Pasundan dan PNI (Perserikatan Nasional Indonesia). “Indonesia, satu bahasa, satu tanah air” merupakan slogan pada konggres pemuda yang juga dihadiri oleh Jong Batak, Ambonese Bond, Minahasa Bond, Jong Java, Madura Bond dan beberapa kelompok pemuda Kristen dan Katolik. Komunitas-komunitas Tionghoa dan Arab pada saat itu sangat mendukung gerakan menuju Indonesia yang multi rasial. Bendera merah putih dan lagu Indonesia Raya diresmikan sebagai bendera dan lagu kebangsaan. Peristiwa ini merupakan langkah politik yang penting bagi pembentukan konsep nasionalisme Indonesia yang mengantar bangsa Indonesia ke Proklamasi 17 Agustus 1945. Sejak peristiwa itu, semua publikasi politik melawan pemerintahan kolonial Belanda yang dikeluarkan oleh gerakan pemuda ditulis dalam bahasa Indonesia. Majalah pertama dengan nama dan bahasa Indonesia adalah majalah “Indonesia Merdeka” diterbitkan oleh Perhimpunan Indonesia” pada bulan Maret 1924 (http://geocities/Capi-tolHill/3925/sumpah_1.html diakses pada tanggal 2 Juni 2010).

Tidak satupun dari tokoh pergerakan Indonesia pada masa itu yang anti terhadap keputusan kongres mengenai Sumpah Pemuda. Sekalipun mayoritas peserta kongres adalah orang Jawa dan beragama Islam, tetapi bahasa yang ditetapkan bukanlah bahasa Jawa dan tidak ada yang menuntut Islamisasi di Indonesia. Kalau dilihat dari organisasi-organisasi pemuda yang hadir ketika kongres pemuda berlangsung, ciri pluralisme mereka sangat jelas (http://geociti.es/Capi-tolHill/3925/sumpah_1.html diakses pada tanggal 2 Juni 2010). Mereka datang dari daerah yang berbeda, kultur dan dari bentuk penindasan yang berbeda-beda, agama yang dianutpun berbeda-beda. Perbedaan-perbedaan lahiriah mereka tidak menjadi alasan bagi mereka untuk bersama-sama menyatukan kata dan tindakan serta meletakkan dasar untuk merebut kemerdekaan dan menentang ketidakadilan yang dialami Indonesia selama masa penjajahan. Keinginan untuk menemukan suatu sistem yang memungkinkan kehidupan bersama secara damai di dalam ketidaksamaan, telah dirintis dan dipraktekkan oleh para pemuda Indonesia pada masa itu (http://geocities/CapitolHill/3925/sumpah_1.html diakses pada tanggal 2 Juni 2010).

Semangat kongres pemuda 28 Oktober 1928 di perkuat lagi oleh kongres Rakyat Indonesia di Jakarta yang diadakan oleh GAPI pada bulan Desember 1939 dan dihadiri oleh tidak kurang dari 90 organisasi dari berbagai kalangan/daerah. Hasil Kongres yang penting antara lain: penggalakan persatuan nasional, diresmikannya bahasa Indonesia sebagtai bahasa nasional, lagu Indonesia Raya sebagai lagu kebangsaan dan bendera nasional merah putih. GAPI adalah Gabungan Politik Indonesia yang didirikan pada bulan Mei 1939 oleh Mohammad Husni Thamrin, Abikusno dan Amir Syarifudin (Ahmaddani G. Martha, dkk. t.t.: 160). Tuntutan GAPI pada pemerintahan Belanda antara lain adalah: kemerdekaan Indonesia dan dibentuknya parlemen yang mewakili rakyat Indonesia ((http://geocities/CapitolHill/3925/sumpah_-1.html).

Keputusan Kongres Pemuda mengenai Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 tidak terbatas pada golongan, ras atau agama tertentu tetapi berdasarkan konsep nasionalisme. Konsep nasionalisme Indonesia lahir karena adanya pluralisme dan kesamaan tujuan kemerdekaan. Dalam belenggu penjajahan, bangsa Indonesia yang beraneka ragam berhasil merumuskan kesamaan pandangan ke depan menuju Indonesia merdeka.

Selanjutnya setelah ikrar persatuan dinyatakan, banyak terjadi perlawanan di Nusantara untuk merebut Indonesia merdeka. Masa merebut kemerdekaan dimulai dari tahun 1942 sampai tahun 1945. Akhirnya para pemuda Indonesia berhasil memperjuangkan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.

Akan tetapi kemerdekaan yang diraih tidak bisa langsung dinikmati bangsa Indonesia. Belanda kembali ingin menguasai Indonesia, dan melaksanakan agresi militer. Terjadi berbagai pertempuran pada saat masuknya Sekutu yang membonceng NICA (Netherland Indies Civil Administration-pemerintahan sipil Hindia Belanda) ke Indonesia, yang saat itu baru menyatakan kemerdekaannya. Pertempuran yang terjadi di antaranya adalah 1) Peristiwa 10 November, yang terjadi di daerah Surabaya dan sekitarnya, 2) Palagan Ambarawa, di daerah Ambarawa, Semarang dan sekitarnya, 3) Perjuangan Gerilya Jenderal Soedirman, meliputi Jawa Tengah dan Jawa Timur, 4) Bandung Lautan Api, di daerah Bandung dan sekitarnya.

Pertempuran-pertempuran yang terjadi dalam rangka mempertahankan kemerdekaan Indonesia itu, akhirnya dimenangkan oleh Bangsa Indonesia yang dari segi persenjataan kalah jauh dari tentara sekutu. Semua itu bisa terjadi karena peran pemuda Indonesia.

Berkaitan dengan uraian di atas, penulis tertarik untuk mengetahui lebih lanjut mengenai peran pemuda dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Untuk itu penulis melakukan penulisan ilmiah berjudul Peran Pemuda Indonesia dalam Memperjuangkan dan Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia.

B.  Batasan Masalah

Dalam penulisan karya ilmiah yang berbentuk uraian sejarah, semua fakta yang ada mempunyai keterkaitan satu sama lain, sehingga jika diuraikan semua membuat uraian menjadi tidak fokus. Oleh karena itu sangat penting diberikan batasan masalah. Dalam penulisan ini, peran pemuda Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dibatasi mulai dari tahun 1928 dengan lahirnya Sumpah Pemuda yang menandai ikrar persatuan Indonesia. Adapun akhir dari batasan waktu dalam menuliskan peran pemuda dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia, dibatasi sampai dengan tahun 1947, yaitu ketika PBB menyatakan bahwa serangan Belanda ke Indonesia melanggar Perjanjian Linggarjati yang menyatakan bahwa Belanda telah mengakui kedaulatan Indonesia. Sejak saat itu, di dunia internasional Indonesia tidak lagi bernama Netherlands Indies tetapi diakui bernama Indonesia.

C.  Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan, dirumuskan permasalahan sebagai berikut:

1.      Bagaimana peran pemuda dalam memperjuangkan kemerdekaan RI?

2.      Bagaimana peran pemuda dalam mempertahankan kemerdekaan RI?


    Baca selengkapnya »

===================================================
Ingin memiliki Skripsi/Tesis versi lengkapnya? Hubungi Kami.
===================================================

Keterangan: Skripsi-Tesis yang ada di situs ini adalah contoh dari bagian dalam skripsi atau Tesis saja. Bagi yang berminat untuk memiliki versi lengkap dalam format Softcopy hubungi ke nomor HP. 081904051059 atau Telp.0274-7400200. Skripsi Rp300rb, Tesis Rp500rb. Layanan ini bersifat sebagai referensi dan bahan pembelajaran. Kami tidak mendukung plagiatisme.

Judul terkait:

Keyword:

perjuangan bangsa indonesia menuju kemerdekaan (25), peran pemuda indonesia (21), peranan pemuda dalam perjuangan bangsa indonesia (19), peran pemuda dalam kemerdekaan indonesia (13), mempertahankan kemerdekaan indonesia (12), peran pemuda dalam nasionalisme (11), makalah perjuangan bangsa indonesia menuju kemerdekaan (10)

Layanan Referensi & Konsultan Skripsi Tesis & Disertasi   No.HP.0819.0405.1059  Home: (0274) 7400200