Did You Know? Every year more than 2500 left handed people are killed from using right handed products.

BAB I

PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang Masalah

Sri Sultan Hamengkubuwono IX, lahir di Sompilan Ngasem, Yogyakarta, Indonesia, tanggal 12 April 1912 – meninggal di Washington, DC, Amerika Serikat, tanggal 2 Oktober 1988 pada umur 76 tahun. Ia adalah salah seorang raja yang pernah memimpin di Kasultanan Yogyakarta (1940-1988) dan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta yang pertama setelah kemerdekaan Indonesia. Ia pernah menjabat sebagai Wakil Presiden Indonesia yang kedua antara tahun 19731978. Ia juga dikenal sebagai Bapak Pramuka Indonesia, dan pernah menjabat sebagai Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramukan (http://id.wikipedia.org/wiki/Hamengkubuwono_IX).

Lahir di Yogyakarta dengan nama G.R.M. Dorojatun pada tanggal 12 April 1912, Hamengkubuwono IX adalah putra dari Sri Sultan Hamengkubuwono VIII dan Raden Ajeng Kustilah. Pada umur 4 tahun Hamengkubuwono IX tinggal pisah dari keluarganya. Dia memperoleh pendidikan di HIS di Yogyakarta, MULO di Semarang, dan AMS di Bandung. Pada tahun 1930-an beliau kuliah di Rijkuniversiteit (sekarang Universiteit Leiden), Belanda.

Dorodjatun dititipkan oleh bapaknya ke keluarga Mulder, dididik dengan cara-cara Belanda, dengan begitu Dorodjatun tahu adat istiadat orang Belanda, dengan cara berpikir Barat selanjutnya dia mampu mempermainkan Belanda pada masa-masa perang Revolusi. Setelah dewasa Dorodjatun disekolahkan di Belanda di sini dia mempunyai sahabat Puteri Juliana yang kemudian menjadi Ratu Belanda. Puteri ini senang sekali terhadap Dorodjatun karena sikapnya yang pendiam, sederhana namun pandai melucu. Kedua anak bangsawan inipun bersahabat, tapi ada rumor yang bilang kalau sang Puteri jatuh cinta kepada Dorodjatun. Di Belanda Dorodjatun juga sekelas dengan Hamid Algadrie, Hamid ini selanjutnya menjadi Sultan Hamid II, Raja Pontianak tokoh penting di balik BFO (Bijeenkomst voor Federale Overleg) sebagai hasil kompromi terhadap Konferensi Meja Bundar.

Sekitar akhir tahun 1930-an Sultan HB VIII memanggil anaknya Dorodjatun untuk pulang, mereka bertemu di Batavia tepatnya di Hotel Des Indes (Hotel ini kemudian menjadi Pertokoan Duta Merlin). Di Hotel itulah Sultan menyerahkan tahtanya dan mangkat. Jadilah Dorodjatun Sultan HB IX. Tidak seperti bangsawan-bangsawan lain, Sultan HB IX dikenal sebagai seorang Sultan yang rendah hati, dia benar-benar bergabung dan membela rakyatnya ini menjadi cerita-cerita rakyat Yogya yang legendaris.

Keterangan: Bagi yang berminat untuk memiliki versi lengkap judul diatas dalam format Msword hubungi ke nomor:

HP. 0819 0405 1059/ 0812 2701 6999/ 0888 9119 100 atau Telp.0274-9553376. Skripsi Rp300rb, Tesis Rp500rb. Layanan ini bersifat sebagai referensi dan bahan pembelajaran. Kami tidak mendukung plagiatisme. Jika belum jelas, jangan ragu telepon kami :)

Hamengkubuwono IX dinobatkan sebagai Sultan Yogyakarta pada tanggal 18 Maret 1940 dengan gelar “Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Sultan Hamengkubuwono Senapati-ing-Ngalaga Abdurrahman Sayidin Panatagama Khalifatullah ingkang Jumeneng Kaping Sanga“. Ia merupakan sultan yang menentang penjajahan Belanda dan mendorong kemerdekaan Indonesia. Selain itu, dia juga mendorong agar pemerintah RI memberi status khusus bagi Yogyakarta dengan predikat “Istimewa” (Dwiyanto, 2009: 497).

Sebelum dinobatkan, Sri Sultan HB IX yang pada saat itu berusia 28 tahun, bernegosiasi secara alot selama 4 bulan dengan diplomat senior Belanda Dr. Lucien Adams mengenai otonomi Yogyakarta. Di masa Jepang, Sultan melarang pengiriman romusha dengan mengadakan proyek lokal saluran irigasi Selokan Mataram. Sultan bersama Pakualam adalah penguasa lokal pertama yang menggabungkan diri ke Republik Indonesia. Sultan yang mengundang Presiden untuk memimpin dari Yogyakarta setelah Jakarta dikuasai Belanda dalam Agresi Militer Belanda I.

Sri Sultan HB IX mempunyai peranan yang besar dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Salah satu peranan Sri Sultan adalah dalam peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949. Peranan Sultan HB IX dalam Serangan Umum 1 Maret 1949 oleh TNI masih tidak singkron dengan versi Soeharto. Menurut Sultan, beliaulah yang melihat semangat juang rakyat melemah dan menganjurkan serangan umum. Sedangkan menurut Pak Harto, beliau baru bertemu Sultan setelah penyerahan kedaulatan. Kesimpangsiuran cerita sejarah ini tidak membuat rakyat Yogyakarta menjadi luntur kecintaannya kepada Sri Sultan. Bahkan semakin mengharumkan namanya.

Berdasarkan latar belakang di atas, penulis tertarik untuk mengetahui lebih lanjut mengenai sejarah perjuangan Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Untuk itu penulis memilihnya sebagai topik makalah ini.

B.  Batasan Masalah

Dalam makalah ini  yang akan dibahas adalah peran perjuangan Sri Sultan Hamengku Buwono IX dalam Serangan Umum 1 Maret 1949, agar hasil penulisan ini benar-benar fokus dan sesuai dengan topik yang telah ditentukan, penulis membatasi tahun penelitian ini seputar tahun 1949. Karena peristiwa sejarah kadang sulit untuk dilepaskan dari peristiwa yang lain, maka dalam penulisan kadang-kadang tetap menyinggung peristiwa sejarah pada tahun lain.

C.  Rumusan Masalah

Sesuai dengan latar belakang masalah dan batasan masalah yang telah ditentukan, maka dirumuskan masalah sebagai berikut.

  1. Bagaimana riwayat singkat Sri Sultan Hamengku Buwono IX?
  2. Bagaimana peranan Sri Sultan Hamengku Buwono IX dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia?
  3. Bagaimana pengajuan Sri Sultan Hamengku Buwono IX sebagai Pahlawan Pejuang Kemerdekaan?

    Baca selengkapnya »

===================================================
Ingin memiliki Skripsi/Tesis versi lengkapnya? Hubungi Kami.
===================================================

Judul terkait:

Keyword:

peranan sri sultan hamengkubuwono ix dalam mempertahankan kemerdekaan (15), peran sri sultan hamengkubuwono ix dalam mempertahankan kemerdekaan indonesia (11)

Layanan Referensi & Konsultan Skripsi Tesis & Disertasi   No.HP.0819.0405.1059  Home: (0274) 9553376