Did You Know? The strongest muscle in the body is the tongue.

BAB I

PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang Masalah

Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit akibat infeksi virus dengue yang masih menjadi problem kesehatan masyarakat. Penyakit ini ditemukan  nyaris di seluruh dunia terutama di negara-negara  tropis dan subtropis baik sebagai penyakit endemik maupun epidemik (Djunaedi, 2006).

Demam  Berdarah  Dengue  (DBD)  ditularkan  terutama  oleh nyamuk Aedes  aegypti.  Meskipun  Aedes albopictus dapat  menularkan  DBD tetapi peranannya dalam penyebaran penyakit sangat kecil, karena biasanya hidup di kebun-kebun (Depkes RI, 2005).

Kasus penyakit Demam Berdarah Dengue selama tahun 2009 meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Menurut data Direktorat Penanggulangan Penyakit Menular dan Pengendalian  Lingkungan (P2MPL) Departemen  Kesehatan   Republik   Indonesia,   jumlah   kasus   DBD   pada Januari 2010 sebanyak 2063 kasus dengan 35 kematian. Jumlah kasus DBD selama tahun 2009 sebanyak 154.855 kasus dengan 1384 kematian. Sedangkan jumlah kasus DBD tahun 2008 sebanyak 137.469 kasus dengan 1187 kematian (Kemenkes RI, 2010).

Rantai penularan penyakit DBD dapat diputuskan dengan beberapa cara, yaitu  melenyapkan  virus,  isolasi  virus,  isolasi  penderita,  mencegah tergigit  nyamuk,   dan   pengendalian    vektor.   Upaya   pemutusan   rantai penularan melalui pelenyapan virus belum dapat terlaksana  karena sampai saat ini belum ditemukan obat antivirus dengue. Isolasi penderita dan upaya mencegah  tergigit  nyamuk  seperti  memasang  kain  kelambu  pada  tempat tidur atau penggunaan raket listrik untuk membunuh nyamuk sudah banyak dilakukan  masyarakat.  Namun kasus DBD masih saja terjadi. Oleh karena itu, perlu dipikirkan cara penanggulangan penyakit DBD melalui vektor utamanya yaitu nyamuk Aedes aegypti (Soegijanto, 2006).

Sebagian  masyarakat  telah  berupaya  untuk  mengendalikan  faktor utama penyakit DBD yaitu Aedes aegypti. Akan tetapi hasilnya masih belum sempurna karena sulit sekali untuk menyadarkan dan menggerakkan masyarakat untuk peduli terhadap lingkungan (Soegijanto, 2006).

Pengendalian vektor, dengan target vektor utamanya nyamuk Aedes aegypti, adalah bagian intergral pemberantasan penyakit DD/DBD. Dalam konteks ini, titik lemah daur hidup Aedes aegypti, yang layak (feasible) untuk diputuskan adalah  stadium pradewasanya:  telur, larva dan pupa. Berbeda dengan stadium dewasanya, stadium pradewasa bersifat stasioner, tetap berada  pada   habitat   akuatiknya   sepanjang   waktu,   jadi   relatif   mudah diintervensi (Mardihusodo, 2005).

Insektisida adalah bahan-bahan kimia yang digunakan untuk memberantas serangga. Berdasar atas stadium serangga yang dibunuhnya, maka insektisida dibagi menjadi imagosida yang ditujukan kepada larva serangga  dewasa, larvasida  yang  ditujukan  kepada  larva  serangga  dan ovosida yang ditujukan untuk membunuh telurnya (Soedarto, 1995).

Selama  ini pengendalian  vektor sangat mengandalkan  penggunaan insektisida   kimiawi.   Hal  ini   dilakukan   berdasar   pertimbangan   bahwa penggunaan  insektisida   kimiawi   bekerja   lebih   cepat   untuk   membunuh serangga,   misalnya   pada   pemberantasan nyamuk   dilakukan   dengan menyemprotkan  insektisida pada nyamuk dewasa namun selama jentiknya masih dibiarkan hidup maka akan timbul nyamuk baru yang selanjutnya akan dapat menularkan penyakit (Suroso, 2000). Usaha pengendalian nyamuk selama ini yang dikenal adalah dengan obat nyamuk semprot, obat nyamuk bakar, obat antinyamuk  yang dioleskan,  dan obat yang ditaburkan  (abate) yang  kesemuanya  merupakan  insektisida  kimia  atau  sintetik  (Imansyah, 2002).

Jenis insektisida kimia dapat berdampak negatif bagi kesehatan manusia, misalnya gangguan pernapasan (sesak napas), menimbulkan bau yang menyengat, alergi  pada  kulit.  Dampak  yang  paling  merugikan  bagi manusia adalah munculnya resisten atau kekebalan pada nyamuk terhadap insektisida sintetis sehingga akan mengakibatkan penggunaan insektisida tersebut  dengan  dosis atau konsentrasi  yang semakin  tinggi dan akhirnya akan berdampak buruk bagi lingkungan (Imamsyah, 2002).

Keterangan: Bagi yang berminat untuk memiliki versi lengkap judul diatas dalam format Msword hubungi ke nomor:

HP. 0819 0405 1059/ 0812 2701 6999/ 0888 9119 100 atau Telp.0274-9553376. Skripsi Rp300rb, Tesis Rp500rb. Layanan ini bersifat sebagai referensi dan bahan pembelajaran. Kami tidak mendukung plagiatisme. Jika belum jelas, jangan ragu telepon kami :)

Berbagai cara telah dilakukan manusia untuk menghindari  serangan nyamuk, baik secara alami  maupun  kimia. Sementara  itu, cara mengatasi nyamuk secara alami bisa dilakukan  dengan  menggunakan  berbagai  jenis tanaman pengusir atau pembunuh nyamuk (Kardinan, 2006).

Repellent adalah bahan-bahan  kimia yang mempunyai  kemampuan untuk menjauhkan  serangga  dari manusia sehingga  dapat dihindari gigitan serangga atau gangguan oleh serangga terhadap manusia (Soedarto, 1990). Beberapa  jenis tanaman  dapat  digunakan  secara  langsung,  yaitu  dengan cara  meremas-remas daun  atau  bunganya  kemudian  digosokkan  ke  kulit agar terhindar dari gigitan nyamuk atau serangga lainnya. Namun, ada juga jenis  tanaman   yang  harus melalui   proses  penyulingan   terlebih   dahulu (destilasi) agar dapat menghasilkan minyak atsiri (Kardinan, 2006).

Agerantum conyzoides (bandotan) di Indonesia merupakan tumbuhan liar dan lebih dikenal  sebagai tumbuhan  pengganggu  (gulma) di kebun  dan  di  ladang. Bagian  yang  digunakan  untuk  obat  adalah  herba (bagian   di   atas  tanah)   dan   akar.   Herba   bandotan   berkhasiat   untuk pengobatan demam,  malaria,  sakit tenggorok,  radang paru, radang telinga tengah,  perdarahan  rahim,  luka  berdarah,  mencegah   kehamilan,   tumor rahim, dan perawatan rambut (Anonim, 2007).

Daun     Bandotan     mempunyai      kandungan     kumarin,     saponin, flavonoid, polifenol dan minyak atsiri (Heyne, 1987). Bahan kimia yang telah dilaporkan terdapat pada bandotan adalah minyak terbang, alkaloid, kumarin (Dharma,   1985).   Kandungan   zat  aktif   kumarin   dapat   membunuh   dan menolak serangga  (Robinson,  1991) serta alkaloid  yang bertindak sebagai racun perut (Wulandari, 2010).

Uji  pendahuluan   telah  dilakukan   pada   tanggal   27-28   Juli  2011 dengan menggunakan konsentrasi 5%, 10%, 15%, 20%, 25% dan 30% baik perasan maupun rebusan.  Perasan  konsentrasi  5%  didapatkan  13  larva yang mati, perasan  konsentrasi  10% didapatkan  23 larva yang mati  serta didapatkan 25 larva yang mati pada konsentrasi 15%, 20%, 25% dan 30%. Rebusan  konsentrasi    5%   didapatkan    11   larva   yang   mati,   rebusan konsentrasi 10% didapatkan  19 larva yang mati, rebusan konsentrasi  15% didapatkan  18  larva  yang  mati,  rebusan  konsentrasi  20%  didapatkan  24 larva yang mati serta didapatkan  25 larva yang pada rebusan  konsentrasi 25% dan 30%.

Penentuan  konsentrasi  yang  digunakan  pada  uji  penelitian  adalah LC50-24jam yaitu digunakannya  konsentrasi  yang dapat mematikan  50%   dari jumlah total larva nyamuk A. aegypti selama 24 jam.  Oleh karena itu peneliti menggunakan   konsentrasi  10%  baik  perasan  maupun  rebusan sebagai konsentrasi penelitian karena pada perasan daun Bandotan 10% didapatkan 23 larva yang mati dari 25 larva nyamuk A. aegypti dan pada rebusan konsentrasi  10%  didapatkan  19 larva  yang  mati  dari  25 larva nyamuk  A. aegypti.

B.  Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut: Apakah ada perbedaan daya larvasida perasan dan rebusan daun Bandotan (Agerantum conyzoides L.) terhadap larva nyamuk Aedes aegypti?

    Baca selengkapnya »

===================================================
Ingin memiliki Skripsi/Tesis versi lengkapnya? Hubungi Kami.
===================================================

Judul terkait:

Layanan Referensi & Konsultan Skripsi Tesis & Disertasi   No.HP.0819.0405.1059  Home: (0274) 9553376