Did You Know? The umbrella originated in Mesopotamia in 1400 B.C. It was used for shade.
RSS Feeds:
Posts
Comments

BAB I

PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang.

Ginjal merupakan salah satu bagian organ tubuh yang sangat penting dalam menentukan kesehatan pada manusia, karena ginjal memegang peranan penting dalam pengeluaran zat-zat toksin atau racun, mempertahankan suasana keseimbangan cairan, mempertahankan keseimbangan kadar asam dan basa dari cairan tubuh, mempertahankan keseimbangan garam-garam dan zat-zat lain dalam tubuh dan mengeluarkan sisa-sisa metabolisme hasil akhir dari protein ureum, kreatinin dan amoniak (Syarifuddin, 1997).

Selain itu ginjal mempunyai fungsi bermacam-macam yaitu filtrasi glomerulus, reabsorbsi dan sekresi dari tubulus, pengenceran dan pemekatan urine, pengasaman urine, serta memproduksi dan memetabolisme hormon. Dari semua  fungsi  itu  parameter  untuk  mengetahui  fungsi  dan  progresi  penyakit adalah laju filtrasi glomerulus dan kemampuan ekskresi. Laju Filtrasi Glomerulus (LFG) adalah mengukur seberapa banyak filtrat yang dapat dihasilkan oleh glomerulus, ini  adalah  pengukuran  yang  paling  baik  dalam menilai  fungsi ekskresi. Pemeriksaan LFG bermanfaat antara lain untuk mendeteksi dini kerusakan ginjal, memantau progresifitas penyakit, memantau kecukupan terapi ginjal pengganti  dan membantu mengoptimalkan  terapi dengan  obat tertentu (Effendi, 2006).

Gagal ginjal adalah kasus penurunan fungsi ginjal yang terjadi secara akut maupun kronis. Gagal ginjal termasuk salah satu the silent killer yang berkembang tanpa memberikan gejala sebagai tanda peringatan, tahu-tahu sudah menjadi kasus yang berat. Begitu fungsi ginjal sudah tinggal di bawah 5 persen, ginjal hampir tidak berfungsi lagi, dan cuci darah pun harus dilakukan. Padahal, gagal ginjal mungkin diawali dari hal yang sepele, yaitu makan tinggi lemak dan karbohidrat, kurang gerak, dehidrasi (kurang minum) atau infeksi saluran kemih yang umum dialami oleh penduduk kota sekarang ini (Vitahealth,2008).

Indonesia termasuk negara dengan tingkat penyakit gagal ginjal yang cukup tinggi. Menurut data dari Perneftri (Persatuan Nefrologi Indonesia), diperkirakan ada 70 ribu penderita gagal ginjal di Indonesia (Vitahealth, 2008). Di Amerika Serikat, data tahun 1995-1999 menyatakan insiden penyakit ginjal diperkirakan 100 kasus perjuta penduduk pertahun, dan angka ini meningkat sekitar 8% setiap tahunnya. Di Malaysia, dengan populasi 18 juta, diperkirakan terdapat 1800 kasus baru gagal ginjal pertahunnya. Di negara-negara berkembang lainnya, insiden ini diperkirakan sekitar 40 – 60 kasus perjuta per tahun (Suwitra, 2006).

Urinalisis dapat memberikan informasi mengenai ginjal. Istilah “uji fungsi ginjal” mengisyaratkan evaluasi dinamika ekskresi, sekresi dan pengaturan osmolaritas. Karena fungsi ekskretorik dan sekretorik mengatur kandungan osmolar urine, kedua aktivitas ini berkaitan erat. Pembentukkan kreatinin tergantung pada massa otot dan bervariasi <15%/hari. Kreatinin tidak dimetabolisme oleh hati atau tergantung pada diet dan 100% difiltrasi oleh glomerulus. Kreatinin tidak direabsopsi secara bermakna, tetapi disekresi ringan terutama bila aliran filtrat lambat. Kreatinin merupakan subtansi pilihan tes clearance ginjal endogen (Harr, 2002).

Pemeriksaan laboratorium klinik terbaik adalah apabila test tersebut akurat, teliti, spesifik, cepat dan dapat membedakan orang normal dan abnormal, dari semua pemeriksaan klinik tidak ada test yang dapat memenuhi semua persyaratan tersebut di atas (Kosasih, 1998). Pemeriksaan kreatinin clearance merupakan pemeriksaan yang digunakan untuk mendeteksi dini fungsi ginjal, pemantauan progresifitas penyakit, pemantauan kecukupan terapi ginjal pengganti dan membantu mengoptimalkan terapi dengan obat tertentu karena hasilnya akurat dan biaya yang relatif murah.

Kreatinin clearance dengan menggunakan rumus baku adalah metode standar yang paling sering digunakan karena hasilnya akurat untuk mendeteksi dini fungsi ginjal.  Rumus  baku dihitung  dengan menggunakan  data kreatinin serum, kreatinin urine, volume urine 24 jam dan diuresis permenit. Over estimase dipengaruhi  oleh  beberapa  obat.  Selain  itu  kendala  yang  sering  terjadi  di lapangan adalah pengumpulan urine yang tidak tepat karena akan menghasilkan kreatinin  clearance yang  kurang akurat. Waktu  yang  dibutuhkan  relatif  lama karena harus menunggu 24 jam baru ada hasil pemeriksaannya. Koleksi urine 2 jam kurang dipercaya. Klinisi lebih sering meminta hasil lebih cepat agar dapat menentukan diagnose dan pengobatannya.

Kreatinin clearance dengan menggunakan rumus Cockroft-Gault merupakan pelaksanaan rutin dipakai klasifikasi dan cara estimasi LFG yang direkomendasikan oleh K/DOQI (Kidney Disease Outcomes Quality Initiative), dengan atau tanpa koreksi luas permukaan badan berdasarkan nilai kreatinin serum. Rumus Cockroft-Gault juga merupakan rumus alternatif yang paling sering digunakan karena hasilnya lebih cepat dengan menggunakan perhitungan kreatinin serum, berat badan, jenis kelamin dan usia. Menggunakan rumus Cockroft-Gault hasilnya lebih cepat karena tidak membutuhkan waktu yang lama tanpa harus menunggu 24 jam. Oleh karena itu banyak membantu klinisi yang membutuhkan hasil dengan segera untuk menentukan diagnose dan pengobatan. Meskipun demikian menggunakan rumus Cockroft-Gault dapat menjadi tidak akurat untuk pasien yang gemuk atau yang fungsi ginjalnya menurun dengan cepat dan pada diet rendah protein.

Rumah Sakit Jogja merupakan rumah sakit rujukan di daerah kota Yogyakarta. Banyak pasien dengan kasus gagal ginjal yang belum diperiksa kreatinin clearance, pemeriksaan ini berguna untuk mengetahui seberapa berat gangguan fungsi ginjal yang dialami oleh pasien gagal ginjal. Oleh karena itu penulis akan melakukan penelitian terhadap pasien yang menderita gagal ginjal dengan melakukan pemeriksaan kreatinin clearance dan hasilnya akan dihitung dengan menggunakan rumus baku dan rumus Cockroft-Gault.

Berdasarkan masalah diatas, mendorong penulis untuk mengangkat masalah penelitian  mengenai  perbedaan  kreatinin  clearance menggunakan rumus baku dan rumus Cockroft-Gault pada pasien gagal ginjal.

B.  Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang  tersebut diatas, maka yang menjadi masalah dalam  penelitian ini: apakah ada perbedaan  kreatinin  clearance dengan menggunakan rumus baku dan rumus Cockroft-Gault pada pasien pasien gagal ginjal.

    Baca selengkapnya »

===================================================
Ingin memiliki Skripsi/Tesis versi lengkapnya? Hubungi Kami.
===================================================

Keterangan: Skripsi-Tesis yang ada di situs ini adalah contoh dari bagian dalam skripsi atau Tesis saja. Bagi yang berminat untuk memiliki versi lengkap dalam format Softcopy hubungi ke nomor HP. 081904051059 atau Telp.0274-7400200. Skripsi Rp300rb, Tesis Rp500rb. Layanan ini bersifat sebagai referensi dan bahan pembelajaran. Kami tidak mendukung plagiatisme.

Judul terkait:

Keyword:

Rumus cocroft goult (1), rumus itung creatinine clearence test (1)

Layanan Pencarian Data dan Penyedia Referensi Skripsi Tesis   No.HP.0819.0405.1059  Home: (0274) 7400200