Did You Know? Teachers are a seperate species apart from human kind.
RSS Feeds:
Posts
Comments

BAB I

PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang Masalah

Penyakit menular merupakan penyakit yang menjadi masalah kesehatan terutama di negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Penyakit menular banyak ditemukan di negara-negara dengan kebersihan lingkungan yang buruk dan kesadaran masyarakatnya masih sangat rendah akan pola hidup sehat. Penyakit menular juga didukung oleh keberadaan agent sebagai penyebab penyakit serta vektor yang berperan dalam penularan penyakit. Diantaranya yang masih menjadi kendala adalah Penyakit Bersumber Nyamuk (PBN). Penyakit bersumber nyamuk meliputi penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD), malaria, chikungunya, filariasis, dan japanese enchefalities. Penyakit bersumber nyamuk dapat ditularkan oleh jenis nyamuk Aedes sp., Anopheles sp., Culex sp., dan Mansonia sp. (Judarwanto,2007).

Demam Berdarah Dengue merupakan salah satu penyakit yang menjadi masalah kesehatan masyarakat dan endemis di seluruh wilayah di Indonesia. Sejak tahun 1968 hingga saat ini terjadi peningkatan kasus dan meluasnya penyebaran penyakit serta angka kematian DBD yang masih relatif  tinggi dan berpotensi terjadi  Kejadian  Luar  Biasa  (KLB). Pada tahun 2006 jumlah kasus DBD yang dilaporkan sebanyak 114.656 penderita (Incidence Rate: 52,48/100.000 penduduk) dengan jumlah kematian sebanyak 1.196 (1,04%). Di penghujung tahun 2007 jumlah kasus  mencapai  124.811  (Incidence  Rate:  57,52/100.000  penduduk) dengan 1.277 kematian (Casse Fatallity Rate: 1,02%) (Depkes RI, 2007).

Peningkatan kasus dan KLB DBD dipengaruhi oleh mobillitas penduduk dan arus urbanisasi yang tidak terkendali, kurangnya peran serta masyarakat dalam pengendalian DBD, kurangnya jumlah dan kualitas SDM pengelola program DBD di setiap jenjang administrasi, kurangnya kerja sama serta komitmen lintas program dan lintas sektor dalam penendalian DBD, sistem pelaporan dan penanggulangan DBD yang terlambat dan tidak sesuai dengan standar operasional, perubahan iklim yang cenderung menambah jumlah habitat vektor DBD, infrastruktur penyediaan   air   bersih   yang   tidak   memadai,   serta  letak  geografis Indonesia di daerah tropik mendukung perkembangbiakan vektor dan pertumbuhan virus (PPM dan PLP, 2007).

Data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Kulon Progo sampai pada  akhir  tahun  2010 menunjukkan bahwa  kejadian  DBD  di  daerah Kulon Progo kembali meningkat. Meningkatnya kejadian DBD dari tahun 2005 sampai 2010 yang terjadi di Kulon Progo dapat dilihat dari tabel di bawah ini:

Tabel  1.  Kejadian  DBD  tahun  2005-2010  di  Kabupaten  Kulon Progo

Tahun Jumlah Kasus DBD
2005 23
2006 71
2007 86
2008 157
2009 292
2010 383

Sumber: Dinkes Kulon Progo, 2010.

Kecamatan Wates  merupakan  salah  satu  kecamatan  di  Kulon Progo dengan kejadian DBD yang paling tinggi, terutama di Desa Wates. Kejadian  DBD  di  desa  Wates  dari  tahun  2005  sampai  2009  yang dikatakan tinggi dapat dilihat dari tabel berikut ini:

Tabel 2. Kejadian DBD di Kecamatan Wates tahun 2005-2009

Nama Desa Tahun
2005 2006 2007 2008 2009
Wates 4 9 6 31 41
Giripeni 0 2 1 4 5
Sogan 0 0 0 1 3
Kulwaru 0 0 0 2 0
Triharjo 0 0 6 9 17
Ngestiharjo 0 2 0 1 4
Bendungan 0 0 0 10 16
Karangwuni 0 1 0 1 2

Sumber : Dinkes Kulon Progo, 2010

Salah satu desa di Kecamatan Wates adalah Desa Wates. Pada tahun 2008 dan 2009, Desa Wates mempunyai penderita kasus DBD tertinggi se-Kecamatan Wates. Pada tahun 2008 terdapat 31 kasus DBD dan pada tahun 2009 meningkat jumlahnya menjadi 41 kasus (Dinkes Kulon Progo, 2010).

Banyaknya kasus tersebut seharusnya menjadi perhatian seluruh pihak dan diatasi untuk mencegah dampak buruk terhadap kesehatan. Untuk  melakukan  pencegahan  sebaiknya  dilakukan  survei  kepadatan larva nyamuk sebagai salah satu langkah awal pembasmian nyamuk Aedes aegypti. Survei larva nyamuk dapat dilakukan baik di dalam, rumah yaitu pada peralatan yang dapat dimungkinkan menjadi sarang nyamuk untuk bertelur dan berkembangnya larva seperti bak mandi, bak penampungan air, dan lain-lain atau dilakukan di luar rumah yaitu separti di  kolam  ikan,  pot  bunga,  tempat  minum  burung,  dan  barang-barang bekas  yang  dapat  digunakan  untuk  berkembang  biak  nyamuk  Aedes aegypti.

Pemantauan wilayah yang telah dilakukan menunjukkan kondisi lingkungan  di  Desa  Wates  mendukung  adanya  larva  nyamuk  yaitu dengan adanya tempat perindukan yang potensial. Beberapa masyarakat masih banyak yang menggunakan bak mandi dan ember untuk menampung air bersih. Tempat perindukan utama dari nyamuk Aedes aegypti adalah tempat penampungan air bersih, terutama yang terbuat dari tanah dan terlindung dari sinar matahari. Selain itu barang-barang bekas, pot bunga, kelopak daun tanaman, lubang pohon yang terisi air hujan yang ada di sekitar rumah penduduk juga dapat menjadi tempat perindukan yang potensial nyamuk Aedes aegypti. Adanya larva nyamuk yang  ditemukan  di  suatu  daerah  merupakan  indikator  terdapatnya populasi nyamuk di daerah tersebut (Depkes RI, 1996). Semakin banyak larva nyamuk yang bertahan hidup dan dapat mencapai dewasa akan meningkatkan  kepadatan  nyamuk  dewasa.  Semakin  banyak  nyamuk yang menggigit   manusia maka semakin tinggi potensi terjadinya penyebaran penyakit. Oleh karena itu, menghitung kepadatan larva nyamuk sudah mewakili kepadatan nyamuk dewasa (Odum, 1993).

Fakta banyaknya kasus DBD yang terjadi sejalan dengan tersedianya tempat perindukan nyamuk Aedes aegypti di pemukiman penduduk mendorong penulis untuk melakukan survei kepadatan larva Aedes aegypti di pemukiman penduduk Desa Wates, Kecamatan Wates, Kabupaten Kulon Progo,  Yogyakarta sebagai salah  satu tempat yang endemis DBD.

B.  Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, masalah dapat dirumuskan sebagai berikut : “Bagaimana kepadatan larva  Aedes  aegypti dengan melihat nilai CI, HI, BI, dan ABJ dan jenis TPA yang dominan dihuni larva Aedes aegypti serta banyaknya kasus DBD yang terjadi di Desa Wates Kecamatan Wates Kabupaten Kulon Progo?”

    Baca selengkapnya »

===================================================
Ingin memiliki Skripsi/Tesis versi lengkapnya? Hubungi Kami.
===================================================

Keterangan: Skripsi-Tesis yang ada di situs ini adalah contoh dari bagian dalam skripsi atau Tesis saja. Bagi yang berminat untuk memiliki versi lengkap dalam format Softcopy hubungi ke nomor HP. 081904051059 atau Telp.0274-7400200. Skripsi Rp300rb, Tesis Rp500rb. Layanan ini bersifat sebagai referensi dan bahan pembelajaran. Kami tidak mendukung plagiatisme.

Judul terkait:

Layanan Pencarian Data dan Penyedia Referensi Skripsi Tesis   No.HP.0819.0405.1059  Home: (0274) 7400200