Did You Know? The average chocolate bar has 8 insects' legs in it.

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Tanaman obat yang dapat digunakan sebagai obat-obatan tradisional banyak tumbuh di Indonesia. Pembudidayaan obat-obatan tradisional yang diyakini sejak dulu membantu penyembuhan berbagai penyakit karena tidak menimbulkan efek samping yang berarti kini sedang dikembangkan. Peranan obat tradisional dalam meningkatkan dan meratakan pemeliharaan kesehatan masyarakat sangat penting mengingat berbagai macam tumbuhan yang menghasilkan obat banyak tumbuh di Indonesia. Upaya pengenalan, penelitian, pengujian dan pengembangan khasiat dan keamanan suatu obat, khususnya obat tradisional perlu lebih ditingkatkan (Wijayakusuma. 1992).

Banyak masyarakat yang menggunakan tanaman tradisional sebagai alternatif obat dalam penyembuhan penyakit. Sampai saat ini sudah berbagai macam tanaman dipercaya mempunyai khasiat untuk menyembuhkan penyakit diantaranya jintan hitam (Nigella sativa). Jintan hitam telah digunakan dibanyak negara Timur Tengah untuk pengobatan alami selama lebih dari 2000 tahun (Arifiyah, 2007). Tanaman ini telah dibuktikan secara empiris dan secara medis oleh para peneliti Timur Tengah, Afrika, Eropa, bahkan Amerika Serikat (Sufrida dan Edi, 2006).

Beberapa penelitian melaporkan bahwa kandungan kimia jintan hitam terdiri dari minyak atsiri, minyak volatile, minyak lemak, asam lemak tak jenuh (omega 3 dan omega 6) D-limonena, Simena, Glikosida, Alkaloid, saponin, zat pahit, jigelin, Nigelon, dan Timokuinon (Anonim, 2008). Komponen utama minyak volatile adalah Timokuinon, Timohidrokuinon, Ditimokuinon, Timol, dan Tannin terbukti mampu menghambat pertumbuhan bakteri dan fungi.

Alkaloid bersifat toksis terhadap mikroba, sehingga efektif membunuh bakteri dan virus (Naim, 2004). Untuk mendapatkan Alkaloid tersebut, maka tumbuhan harus diekstrak. Kemampuan senyawa Alkaloid sebagai antibakteri sangat dipengaruhi oleh keaktifan biologis senyawa tersebut. Keaktifan biologis dari senyawa Alkaloid ini disebabkan oleh adanya gugus basa yang mengandung nitrogen, apabila kontak dengan bakteri akan bereaksi dengan senyawa asam amino yang menyusun dinding sel bakteri dan juga DNA bakteri. Reaksi ini akan mengakibatkan terjadinya perubahan struktur dan susunan asam amino karena sebagian besar asam amino telah bereaksi dengan gugus basa dari senyawa Alkaloid. Perubahan susunan asam amino pada DNA akan menimbulkan perubahan keseimbangan genetik pada asam DNA, sehingga DNA bakteri akan mengalami kerusakan. Dengan adanya kerusakan pada DNA tersebut inti sel bakteri akan mengalami kerusakan. Hal ini karena DNA merupakan komponen utama penyusun inti sel. Kerusakan DNA pada inti sel bakteri ini juga akan mendorong terjadinya lisis pada inti sel bakteri. Lisisnya inti sel bakteri akan menyebabkan juga kerusakan sel pada bakteri karena inti sel merupakan pusat kegiatan sel. Kerusakan sel pada bakteri ini lama kelamaan akan membuat sel-sel bakteri tidak mampu melakukan metabolisme sehingga juga akan mengalami lisis. Dengan demikian bakteri akan menjadi inaktif dan hancur (lisis) (I Wayan, 2009). Glikosida merupakan salah satu kandungan aktif tanaman yang termasuk dalam kelompok metaboli sekunder. Glikosida merupakan mutagen dari bakteri, dapat menginduksi dan merusak DNA bakteri. Tahun 1992, jurnal Farmasi Pakistan memuat hasil penelitian yang membuktikan minyak volatile lebih ampuh membunuh strainbakteri Vibrio colera dan Eshcerichia coli dibandingkan dengan antibiotik seperti Ampicillin dan Tetracillin.

Khasiat dari jintan hitam sudah banyak dikenal oleh masyarakat sebagai antibakteri, antiparasit, anti inflamasi, memperbaiki fungsi hepar dan ginjal, mengobati gangguan pernafasan, infeksi saluran kemih, dan pencernaan serta dapat digunakan sebagai sistem kekebalan tubuh. Para ilmuwan di Eropa baru-baru ini menyatakan bahwa jintan hitam bekerja sebagai antimikroba dan antimikotik (Hendrik,2007).

Infeksi Saluran Kemih (ISK) adalah suatu keadaan adanya infeksi  mikroorganisme dalam saluran kemih (Tessy, 2001). Infeksi saluran kemih merupakan kasus yang sering terjadi dalam dunia kedokteran (Wikipedia, 2011). Mikroorganisme penyebab infeksi saluran kemih kebanyakan bakteri aerob.

Keterangan: Bagi yang berminat untuk memiliki versi lengkap judul diatas dalam format Msword hubungi ke nomor:

HP. 0819 0405 1059/ 0812 2701 6999/ 0888 9119 100 atau Telp.0274-9553376. Skripsi Rp300rb, Tesis Rp500rb. Layanan ini bersifat sebagai referensi dan bahan pembelajaran. Kami tidak mendukung plagiatisme. Jika belum jelas, jangan ragu telepon kami :)

Penyakit infeksi saluran kemih masih merupakan masalah kesehatan utama, meskipun akhir-akhir ini ada kecenderungan peningkatan pada penyakit degenerative dan metabolik. Untuk penanggulangan penyakit infeksi saluran kemih pada saat ini telah banyak digunakan berbagai jenis antibiotik  baik dari golongan Ampicillin, Penisilin, Makrolid, Sefalosporin, Kuinolon, dan lain-lain. Hal ini merupakan suatu keuntungan bahwa kebanyakan antibiotik relative nontoksik. Namun, semuanya memiliki efek samping yang mungkin menyulitkan atau bahkan mengancam jiwa (Barieere & Jacobs, 1998). Resistensi antimikroba merupakan suatu masalah besar yang berkembang di seluruh dunia. Resistensi bakteri yang terjadi secara cepat ini menimbulkan kekhawatiran munculnya multidrugs resistant yang pada gilirannya akan semakin mempersulit proses terapi penderita penyakit infeksi (Dwiprahasto, 2005).

Mikroorganisme terbanyak sebagai penyebab infeksi saluran kemih adalah Escherichia coli. Klebsiella, Enterobacter, Serattia, Proteus, Pseudomonas aeruginosa, Staphylococcus epidermidis, Staphylococcus  faecalis, Salmonella, Enterococci, Candida albicans, Staphylococcus aureus (Gupte, !990). Banyak antimikroba yang efektif untuk Escherichia coli. Pada tahun 1992, para peneliti di Departemen Farmasi University of Dhaka, Bangladesh, memimpin sebuah studi aktivitas antimikroba minyak volatile jintan hitam dengan lima macam antibiotik: Amphisilin, Tetrasiklin, Kotrimoksazol, Gentamisin, dan Asam nalidiksat. Ekstrak jintan hitam terbukti paling efektif melawan bakteri termasuk bakteri yang dikenal sangat kuat daya tahannya terhadap obat-obatan, seperti Eshcerichia coli, Vibrio cholerae dan Shigella sp (Randhawa & Al-Ghamdi,2002). Penelitian terbaru yang dilakukan oleh Tumari dan Boimin (2006) dari Universitas Brawijaya membuktikan bahwa ekstrak jintan hitam efektif menghambat pertumbuhan Aeromonas hydrophila ( Bakteri gram negatif, non spora, berbentuk batang, termasuk kelas Enterobactericheae). Melihat khasiat yang luar biasa dari jintan hitam ini, tidak heran jika sekarang ini jintan hitam menjadi fenomena dalam pengobatan alternatif di Indonesia. Penelitian ini dilakukan secara in vitro untuk mengetahui apakah ekstrak jintan hitam mempunyai daya hambat terhadap pertumbuhan Eshcerichia coli. Oleh karena itu diperlukan uji lanjutan untuk penelitian secara in vivo.

Hasil uji pendahuluan yang telah dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Analis Kesehatan tentang pemberian ekstrak jintan hitam dengan konsentrasi 80%; 40%; 20%; 10%; 5%; 2,5%; 1,25%, 0,62%, 0,31%; 0,156% didapatkan hasil bahwa kemampuan menghambat mulai konsentrasi 40%, sehingga diperlukan penelitian untuk mencari Konsentrasi Hambat  Minimum ekstrak jintan hitam (Nigella sativa) terhadap pertumbuhan Eshcerichia coli secara in vitro. Berdasarkan bukti-bukti ilmiah di atas, peneliti mencoba melakukan penelitian Uji Daya Hambat Ekstrak Jintan Hitam (Nigella sativa) terhadap Pertumbuhan Escherichia coli secara in vitro.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut: “Berapakah konsentrasi minimum ekstrak jintan hitam (Nigella sativa) yang dapat menghambat pertumbuhani Escherichia coli

    Baca selengkapnya »

===================================================
Ingin memiliki Skripsi/Tesis versi lengkapnya? Hubungi Kami.
===================================================

Judul terkait:

Layanan Referensi & Konsultan Skripsi Tesis & Disertasi   No.HP.0819.0405.1059  Home: (0274) 9553376